DPRD Gunungkidul Minta Bantuan Air Bersih Lebih Merata
DPRD Gunungkidul meminta penyaluran bantuan air bersih lebih merata. Hingga 18 September, bantuan mencapai 3.365 tangki.
Pintaku Tiada Dusta-Ist
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Pemberian nama terkandung harapan bagi orang tua kepada anak-anaknya. Hal yang sama juga berlaku bagi Tenaga Harian Lepas (THL) di Bidang Penetapan dan Bina Pendapatan, Badan Keuangan dan Aset Gunungkidul, yang bernama Pintaku Tiada Dusta.
Sepintas nama ini mirip dengan sebuah lagu tembang kenangan. Namun ada harapan besar bahwa nama pemberian itu agar si anak menjadi seorang yang amanah dan dapat dipercaya. Kepada wartawan, Pinta, sapaan akrabnya, mengaku senang dengan nama pemberian kedua orang tuanya itu. “Saya sudah tanya kenapa diberi nama itu, dan oleh orang tua dijawab agar bisa menjadi orang yang amanah dan dapat dipercaya. Saya pun tidak ada niatan merubah nama pemerian orang tua saya,” katanya, Jumat (10/7/2020).
Meski memiliki nama unik, Pinta mengaku tidak pernah diejek oleh teman-teman sekolahnya. Hanya saja, pada saat mau lulus SD, sempat dipanggil oleh Kepala Sekolah terkait dengan kebenaran nama tersebut.
“Awalnya tidak percaya dengan nama itu karena mau ditulis dalam ijazah, tapi setelah saya dipanggil maka saya jelaskan bahwa nama itu memang benar,” kata pria kelahiran 5 September 1991.
Selain itu, saat menginjak SMP juga mendapatkan kejutan dari salah seorang guru dengan diberikan amplop yang berisi uang. Usut punya usut, uang itu diberikan karena sang guru berhasil menulis cerita tentang nama uniknya tersebut di sebuah rubrik milik media lokal. “Setelah dimuat, honornya diberikan kepada saya,” katanya.
Sebelumnya, di Kapanewon Saptosari tepatnya di Kalurahan Kepek viral seorang gadis bernama Dita Leni Ravia. Sama seperti dengan nama Pintaku Tiada Dusta, nama itu juga ada harapan-harapan besar oleh kedua orang tuanya.
Kepala Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono mengatakan, pemberian nama unik sudah ada sejak jaman dahulu. Pemberian nama biasa disesuikan dengan hari pasaran ataupun weton yang dimiliki.
BACA JUGA: Nekat Pulang ke Madura, Warga di Bantul yang Positif Covid-19 Mengaku Bisa Sembuh Tanpa Dirawat
“Ada yang diberi nama Wage, Senen, Kemis, Wage. Bahkan ada juga yang dari gabungan hari dan pasaran seperti Tugi, kepanjangan dari Setu-Legi atau Tupon [Setu-Pon],” katanya.
Menurut Agus, pemberian nama juga merupakan hal yang sakral karena ada harapan dibalik pemberian nama itu. Pada jaman dulu, kata dia, pemberian nama juga sering dikonsultasikan dengan orang yang dituakan di desa karena memiliki kelebihan di bidang spiritual.
“Tak jarang pula ada yang diganti karena merasa tidak cocok. Biasanya ini dilihat saat anak sering sakit-sakitan, sehingga diganti dengan nama lain setelah dikonsultasikan ke orang yang dituakan tersebut,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul meminta penyaluran bantuan air bersih lebih merata. Hingga 18 September, bantuan mencapai 3.365 tangki.
FORTANI '26 terbentuk di Sleman dan menyerukan enam tuntutan agraria, dari legalisasi lahan petani hingga perlindungan pangan.
Harga emas Antam Kamis 24 September 2026 turun Rp25.000 menjadi Rp2,605 juta per gram. Simak harga lengkap dan buyback.
Vaksinasi rabies gratis di Sleman menyediakan 300 kuota pada 30 September 2026. Cek syarat, lokasi, jadwal, dan cara pendaftaran.
KRI Sriwijaya-100 resmi dikukuhkan Panglima TNI Agus Subiyanto setelah Merah Putih berkibar di atas kapal induk di Tanjung Priok.
Sebanyak 500 peserta dari 30 tim mengikuti lomba tarik lokomotif 84 ton di Balai Yasa Jogja dalam rangka HUT ke-81 KAI.