Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Ilustrasi Selokan Mataram./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, SLEMAN - Pembudidaya ikan yang memanfaatkan aliran air dari Selokan Mataram di Kabupaten Sleman berharap perbaikan selokan bisa segera selesai supaya mereka tak semakin merugi.
Bendahara Koperasi Jaringan Mitra Perikanan (JMP) Sembada, Andika Angga Pramudya Wardana mengatakan ada ratusan pembudidaya ikan yang memanfaatkan aliran air dari Selokan Mataram untuk kolam ikan mereka. Namun, lantaran alirannya dimatikan sejak Rabu (14/10/2020) lalu lantaran ada perbaikan drainase, petani ikan tak lagi bisa memanfaatkan sumber air itu.
"Rata-rata petani di sebelah selatan Selokan Mataram sumber airnya dari sana. Kami perkirakan kerugian bisa di atas Rp1 miliar karena sebagian ikan mati, ada juga yang hanyut," kata Andika pada Minggu (18/10/2020).
Baca Juga: Awalnya Mengejar, Ini Alasan Pria Menghilang Usai Kenal Lebih Dekat
Perbaikan drainase yang berdampak pada pematian aliran air di Selokan Mataram ini bermula ketika terjadi amblesan pada cross drain di bawah selokan tersebut pada Rabu lalu. Amblesan tersebut sempat membuat sisi selatan drainase turut jebol hingga air selokan meluber ke sawah dan Jalan Kabupaten, Sleman. Akhirnya, BBWSO mematikan saluran utama Selokan Mataram di Bendungan Karangtalun supaya luberan air tidak membanjir lebih luas.
Andika menyebutkan bahkan ada satu kelompok yang kolam ikannya kebanjiran dan ikannya hanyut lalu hilang terbawa aliran air. "Ada kelompok ikan Minomulyo kolamnya banjir dan ikannya hanyut. Kerugian sampai Rp50 juta," lanjutnya.
Ia menerangkan, rata-rata petani ikan membudidayakan ikan jenis nila dan bawal. Selama aliran Selokan Mataram dimatikan, petani beralih ke sumber air yang lain, mulai dari air sumur, memutar air kolam dengan pompa baik itu pompa listrik maupun pompa diesel, juga ada yang menambahkan kincir air.
Baca Juga: Hanafi Rais Alami Kecelakaan di Tol Cipali, Dikabarkan Luka Parah
Bahkan lantaran jenis ikan yang dibudidaya jenisnya ikan nila dan bawal yang butuh air mengalir, Andika memaklumi jika ada sebagian petani yang menjual ikannya dengan harga murah. "Nila dan bawal butuh air mengalir, berbeda dengan lele dan gurame," terangnya.
Salah seorang pembudidaya ikan Dusun Mayangan, Gamping, Sleman, Jumanto mengaku mengalami kerugian sekitar Rp2,5 juta. Kolamnya berada di selatan Selokan Mataram. Saat luberan terjadi pada Rabu lalu, kolamnya terbanjiri air selokan, padahal ikan nila miliknya sudah siap panen.
"Kemarin masukin setengah kuintal, lalu sudah siap panen, tapi hanyut kena banjir. Sementara ikan yang kecil yang masih bisa diselamatkan ya diungsikan dulu," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.