Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Ikan lele/Ikanku17.blogspot
Harianjogja.com, JOGJA—Program budidaya Lele Gacor (Lele Generasi Air Kocor) di DIY meningkatkan produktivitas pembudidaya hingga 300% dan siap mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY, Danang Setiadi, menjelaskan bahwa inovasi Lele Gacor merupakan contoh implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) yang aplikatif, berdampak, dan dapat direplikasi oleh masyarakat luas. Inovasi ini mengantarkan Pemda DIY meraih predikat Terbaik Ketiga kategori Pemda Provinsi pada Indonesia’s SDGs Action Awards (SAA) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas.
“Budidaya Lele Gacor berfokus pada pemanfaatan aliran air kocor atau sirkulasi air yang terus-menerus untuk menunjang budidaya yang lebih efisien,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Metode Lele Gacor memanfaatkan aliran air yang mengucur tanpa henti sehingga menciptakan lingkungan yang sesuai dengan habitat alami ikan lele, yaitu air mengalir. Kondisi ini membuat air lebih jernih, bebas polusi, dan menurunkan risiko penyakit pada ikan. Dampaknya, produktivitas lele meningkat hingga 300% dibandingkan metode konvensional.
Peningkatan produktivitas tersebut secara langsung membantu mendongkrak pendapatan pembudidaya ikan di DIY. Selain itu, kualitas lele yang dihasilkan juga lebih baik dan memenuhi standar gizi sehingga sangat potensial mendukung program strategis nasional di sektor pangan dan gizi.
Inovasi ini juga telah ditawarkan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menjadi salah satu pemasok protein dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Harapannya, produksi Lele Gacor dapat memperkuat pemenuhan gizi dalam program MBG,” ungkap Danang.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan, menuturkan bahwa Lele Gacor meningkatkan produktivitas lahan budidaya, dari yang sebelumnya 15–25 kg/m3 menjadi 56–75 kg/m3, atau sekitar 300%.
“Kestabilan suhu menjadikan ikan tidak mudah stres, meminimalisasi penyakit, dan tumbuh dengan stabil. Efisiensi penggunaan pakan juga mencapai 5–10 persen. Margin keuntungan yang didapatkan pada kolam bulat diameter 3 meter mengalami peningkatan laba dari awalnya sebesar Rp300.000–Rp450.000 menjadi Rp1 juta–Rp1,35 juta,” paparnya.
Hery menambahkan, higienitas lele dengan sistem kocor menghasilkan ikan yang bersih, bobot yang tidak mudah susut, dan daging yang enak sehingga disukai oleh konsumen. “Selain itu, budidaya ini lebih ramah lingkungan karena image memelihara lele menimbulkan bau kurang sedap dapat teratasi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Pertamina mempercepat distribusi BBM subsidi di Madura untuk mengurai antrean Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di empat kabupaten.
Australia memperketat larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dengan menaikkan denda hingga Rp1,1 triliun dan memperluas pengawasan.