Kampung Lampion Jogja Jadi Percontohan Nasional Penataan Tepi Sungai
Deputi Kemenko Ronny Hutahayan apresiasi Kampung Lampion Kotabaru sebagai model nasional. 38 rumah Rp1,5 miliar swakelola, jalan 3-4m akses ambulans.
Budi daya ikan air tawar. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Teknik budidaya ikan biofloc semakin banyak diterapkan para pembudidaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Metode ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi karena dapat menekan Food Conversion Ratio (FCR), sehingga kebutuhan pakan menjadi lebih hemat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY, Hery Sulistiyo Hermawan, mengatakan keterbatasan lahan menjadi tantangan utama sektor pertanian dan perikanan di DIY. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang mampu memaksimalkan hasil budidaya pada lahan yang terbatas.
“Salah satu solusi yang relevan adalah teknologi biofloc, yaitu sistem budidaya yang memanfaatkan kotoran ikan dan sisa pakan untuk diolah kembali menjadi sumber pakan,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Menurut Hery, sisa pakan dan kotoran ikan sebenarnya masih mengandung nutrisi penting seperti protein, glukosa, dan karbohidrat. Dalam sistem biofloc, limbah tersebut tidak dibuang, melainkan diolah melalui aktivitas bakteri tertentu.
Teknologi biofloc bekerja dengan menumbuhkan bakteri yang merombak sisa pakan dan kotoran ikan menjadi mikroorganisme yang membentuk koloni atau floc. Floc inilah yang kemudian dapat dimakan kembali oleh ikan, sehingga sistem budidaya menjadi lebih efektif dan efisien.
“Pada sistem konvensional, sisa pakan dan kotoran ikan dibuang, padahal masih mengandung nutrisi. Biofloc justru memanfaatkannya kembali. Karena itu, teknologi ini lebih ramah lingkungan dan efisien,” katanya.
Hery menjelaskan, tidak semua jenis ikan cocok dibudidayakan dengan sistem biofloc. Ikan yang memiliki kemampuan menyerap nutrisi dari lingkungan, seperti lele, nila, dan patin, merupakan jenis yang paling sesuai.
Selain itu, sistem biofloc juga memungkinkan penggabungan beberapa komoditas ikan dalam satu siklus budidaya, misalnya lele dan nila.
“Ketika media lele sudah terlalu padat dan sisa pakan menumpuk, airnya bisa dialirkan ke kolam nila yang juga menggunakan biofloc. Nila akan memanfaatkan sisa nutrisi tersebut, sementara kualitas air di kolam lele kembali lebih baik,” paparnya.
Ia menambahkan, kebutuhan protein lele yang tinggi membuat sisa nutrisi dalam kotorannya cukup besar. Nutrisi tersebut dapat dimanfaatkan ikan nila sehingga tercipta sistem budidaya yang saling menguntungkan.
Efektivitas teknologi biofloc terlihat dari penurunan nilai FCR. Pada budidaya ikan nila, FCR dapat ditekan dari 1,2 menjadi 1,0, yang berarti 1 kilogram pakan menghasilkan 1 kilogram daging ikan.
Sementara pada budidaya lele, efisiensinya bahkan lebih tinggi dengan FCR mencapai 0,8, atau hanya membutuhkan 0,8 kilogram pakan untuk menghasilkan 1 kilogram daging ikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Deputi Kemenko Ronny Hutahayan apresiasi Kampung Lampion Kotabaru sebagai model nasional. 38 rumah Rp1,5 miliar swakelola, jalan 3-4m akses ambulans.
Kemendikdasmen membuka Beasiswa BPI GTK 2026 bagi guru, calon guru, dan tenaga kependidikan. Simak syarat, jadwal pendaftaran, komponen bantuan, dan cara mendaf
Persib Bandung dipastikan berada di Pot 4 ACL Two 2026/2027 setelah Gangwon FC dan Adelaide United gagal lolos ke ACL Elite. Maung Bandung kini menunggu drawing
Flashdisk bekas menyimpan jejak digital yang bisa dipulihkan. Pelajari cara format aman di Windows dan Mac, serta kapan harus menghancurkan fisik perangkat sebe
Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) bersama Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Jawa Timur mengerahkan tim respons untuk mendukung operasi pemadam
Pemerintah mulai menyalurkan Bantuan Pangan Beras Tahap II pada 17 Agustus 2026. Sebanyak 33,24 juta keluarga akan menerima 30 kg beras untuk alokasi tiga bulan