Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Budi daya ikan air tawar. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Teknik budidaya ikan biofloc semakin banyak diterapkan para pembudidaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Metode ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi karena dapat menekan Food Conversion Ratio (FCR), sehingga kebutuhan pakan menjadi lebih hemat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY, Hery Sulistiyo Hermawan, mengatakan keterbatasan lahan menjadi tantangan utama sektor pertanian dan perikanan di DIY. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang mampu memaksimalkan hasil budidaya pada lahan yang terbatas.
“Salah satu solusi yang relevan adalah teknologi biofloc, yaitu sistem budidaya yang memanfaatkan kotoran ikan dan sisa pakan untuk diolah kembali menjadi sumber pakan,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Menurut Hery, sisa pakan dan kotoran ikan sebenarnya masih mengandung nutrisi penting seperti protein, glukosa, dan karbohidrat. Dalam sistem biofloc, limbah tersebut tidak dibuang, melainkan diolah melalui aktivitas bakteri tertentu.
Teknologi biofloc bekerja dengan menumbuhkan bakteri yang merombak sisa pakan dan kotoran ikan menjadi mikroorganisme yang membentuk koloni atau floc. Floc inilah yang kemudian dapat dimakan kembali oleh ikan, sehingga sistem budidaya menjadi lebih efektif dan efisien.
“Pada sistem konvensional, sisa pakan dan kotoran ikan dibuang, padahal masih mengandung nutrisi. Biofloc justru memanfaatkannya kembali. Karena itu, teknologi ini lebih ramah lingkungan dan efisien,” katanya.
Hery menjelaskan, tidak semua jenis ikan cocok dibudidayakan dengan sistem biofloc. Ikan yang memiliki kemampuan menyerap nutrisi dari lingkungan, seperti lele, nila, dan patin, merupakan jenis yang paling sesuai.
Selain itu, sistem biofloc juga memungkinkan penggabungan beberapa komoditas ikan dalam satu siklus budidaya, misalnya lele dan nila.
“Ketika media lele sudah terlalu padat dan sisa pakan menumpuk, airnya bisa dialirkan ke kolam nila yang juga menggunakan biofloc. Nila akan memanfaatkan sisa nutrisi tersebut, sementara kualitas air di kolam lele kembali lebih baik,” paparnya.
Ia menambahkan, kebutuhan protein lele yang tinggi membuat sisa nutrisi dalam kotorannya cukup besar. Nutrisi tersebut dapat dimanfaatkan ikan nila sehingga tercipta sistem budidaya yang saling menguntungkan.
Efektivitas teknologi biofloc terlihat dari penurunan nilai FCR. Pada budidaya ikan nila, FCR dapat ditekan dari 1,2 menjadi 1,0, yang berarti 1 kilogram pakan menghasilkan 1 kilogram daging ikan.
Sementara pada budidaya lele, efisiensinya bahkan lebih tinggi dengan FCR mencapai 0,8, atau hanya membutuhkan 0,8 kilogram pakan untuk menghasilkan 1 kilogram daging ikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Jadwal SIM Kulonprogo hari ini, Selasa 29 September 2026, tersedia di MPP. Cek lokasi, jam layanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
John Herdman menyebut kartu merah Thom Haye saat Indonesia vs Malaysia menjadi pelajaran penting bagi skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.