Gunungkidul Genjot Aksi Bergizi, Targetkan Generasi Bebas Stunting
Gunungkidul perkuat Aksi Bergizi di sekolah. Remaja putri jadi fokus cegah anemia dan stunting.
Budi daya ikan air tawar. - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Gunungkidul menyiapkan sebanyak 160.000 ekor benih ikan lokal untuk ditebar di sejumlah sungai sepanjang 2026. Program restocking ini dilakukan guna menjaga keseimbangan ekosistem perairan darat sekaligus menekan ancaman ikan invasif yang berpotensi mengganggu kelestarian spesies asli.
Hingga awal Juni 2026, penebaran benih ikan lokal telah dilakukan di 15 titik sungai di berbagai wilayah Gunungkidul. Kegiatan terbaru dilaksanakan di aliran Sungai Oya melalui kerja sama antara DKP Kabupaten Gunungkidul dan DKP DIY.
Analis Pasar Hasil Perikanan DKP Kabupaten Gunungkidul, Karim Akhmadi, mengatakan total benih yang disiapkan tahun ini mencapai 160.000 ekor dan akan didistribusikan dalam tiga tahap, yakni pada awal tahun, pertengahan tahun, dan akhir tahun.
"Untuk tahun ini jumlah total yang kami siapkan ada 160.000 ekor dan kami bagi tiga periode. Awal tahun, pertengahan, dan nanti akhir tahun. Sampai sekarang sudah 15 titik sungai yang kami tebar," kata Karim, Senin (1/6/2026).
Menurut Karim, kondisi ekosistem ikan lokal di sejumlah sungai di Gunungkidul hingga saat ini masih relatif baik. Namun, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi untuk menjaga keberlanjutannya, terutama ancaman dari ikan invasif serta praktik penangkapan ikan yang merusak habitat.
Ia menjelaskan beberapa jenis ikan lokal yang masih banyak ditemukan di perairan Gunungkidul antara lain wader, tawes, dan nilem. Khusus ikan wader, terdapat berbagai varietas yang hidup di sungai-sungai wilayah tersebut.
"Jenis ikan lokal yang cukup banyak itu ada wader, tawes dan nilem. Wader itu juga macam-macam, ada wader pari, wader kepek, wader ijo, wader putih, itu cukup banyak di sungai Gunungkidul," ujarnya.
Red Devil dan Sapu-Sapu Jadi Ancaman
Karim mengungkapkan ancaman ikan invasif saat ini lebih banyak berasal dari spesies red devil dan ikan sapu-sapu yang populasinya mulai berkembang di sejumlah sungai. Sementara jenis invasif lain seperti ikan aligator dan arapaima masih jarang ditemukan.
Menurut dia, laporan kemunculan ikan sapu-sapu dan red devil telah diterima dari beberapa lokasi, termasuk kawasan sungai di Wonosari dan sebagian aliran Sungai Oya.
"Kalau sapu-sapu dan red devil itu beberapa memang sudah ada yang melaporkan kemunculannya. Misalnya di sekitar sungai di Wonosari itu ada, lalu di lokasi Sungai Oya itu ada beberapa," ungkapnya.
Selain ancaman ikan invasif, praktik destructive fishing atau penangkapan ikan dengan cara merusak juga masih menjadi perhatian. DKP terus mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan racun, bahan peledak, maupun alat setrum saat menangkap ikan di perairan umum.
Untuk mendukung pengawasan, DKP memasang papan informasi di lokasi penebaran benih dan melibatkan kelompok masyarakat pengawas sumber daya perikanan yang bertugas memantau kondisi sungai.
"Selain memasang banner di sungai yang kami tebar benih ikan lokalnya kami di lapangan itu juga ada kelompok masyarakat pengawas sumber daya perikanan untuk melakukan pengawasan," katanya.
Restocking Dilakukan Rutin Setiap Tahun
Kepala DKP Gunungkidul, Johan Wijayanto, mengatakan program penebaran benih ikan lokal merupakan kegiatan rutin yang selalu dianggarkan setiap tahun sebagai bagian dari upaya pelestarian ekosistem perairan darat.
Menurutnya, pengendalian ikan invasif tidak mudah dilakukan melalui penangkapan langsung. Karena itu, strategi yang dipilih adalah memperkuat populasi ikan lokal melalui restocking secara berkelanjutan.
"Kalau dari kami ya restocking ini sebagai salah satu upaya untuk menekan pertumbuhan ikan invasif itu. Jadi ketika stok ikan lokalnya itu kami perbanyak, harapannya nanti juga bisa menekan pertumbuhan ikan invasif," ujarnya.
Program penebaran benih ikan lokal di sungai-sungai Gunungkidul akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Tahap berikutnya dijadwalkan menyasar sejumlah lokasi perairan lain yang dinilai memiliki potensi habitat bagi ikan lokal sehingga populasi spesies asli tetap terjaga di tengah meningkatnya ancaman ikan invasif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul perkuat Aksi Bergizi di sekolah. Remaja putri jadi fokus cegah anemia dan stunting.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya berdasarkan data resmi KAI Access.
BMKG rilis prakiraan cuaca DIY Selasa 2 Juni 2026: berawan, suhu 22-32°C, kelembaban tinggi. Warga Jogja, Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo wajib simak.
Berikut ini naskah Peraturan Daerah DIY Nomor 3 Tahun 2025 Tentang Pengelolaan Pelabuhan Perikanan
DKP Gunungkidul menebar 160.000 benih ikan lokal di sungai untuk menjaga ekosistem dan menekan ancaman ikan invasif.
Seskab Teddy Indra Wijaya mengungkap tujuh hasil diplomasi Presiden Prabowo, dari BRICS hingga investasi Rp2.430 triliun.