Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Petugas pengukur dari Satgas A melakukan pengukuran bidang terdampak pembangunan jalan tol Joglo di Jobohan, Bokoharjo, Prambanan, Senin (19/10/2020)-Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, SLEMAN- Proses pengukuran bidang terdampak pembangunan jalan tol Jogja-Solo mulai merambah Kalurahan Bokoharjo, Kepanewon Prambanan, Senin (19/10/2020). Sementara warga terdampak masih kebingungan dengan masa depan mereka.
Berdasarkan pantauan Harianjogja.com, proses pengukuran bidang terdampak oleh Satgas A dari BPN Sleman baru digelar pada pukul 14.00 WIB di Jobohan, Bokoharjo. Petugas pengukur baru tiba dilokasi setelah sebelumnya mereka menggelar rapat koordinasi dengan Pemdes Bokoharjo.
Baru saja peralatan ukur digunakan oleh petugas yang berjumlah tiga orang itu, hujan deras turun di sekitar lokasi. Petugaspun berupaya menyelamatkan peralatan ukur agar tidak rusak. Tak ada tanda hujan mereda, petugas pun bergegas merapikan peralatan.
"Tidak memungkinkan dilanjutkan. Kami harus menjaga agar alat tidak rusak. Kondisi kesehatan kami harus dijaga karena tidak hanya dusun ini yang diukur," kata Wawan salah seorang petugas ukur.
BACA JUGA: Lantai Jalur Pedestrian Malioboro Dipoles
Dijelaskan dia, proses pengukuran akan dilanjutkan pada Selasa (20/10/2020). Hujan, katanya, menjadi salah satu masalah yang mereka hadapi karena peralatan yang digunakan tidak tahan air hujan. "Normalnya pengukuran bisa tiga sampai empat hari selesai. Kalau cuaca hujan terus bisa lebih," katanya.
Proses pengukuran bidang lahan terdampak pembangunan jalan tol, katanya, dibagi dua tim Satgas A. Selain di Jobohan, tim lainnya juga melakukan pengukuran di Pelemsari. Setelah di Bokoharjo, tim akan bergerak ke kalurahan lainnya yang belum selesai. Seperti Selomartani, Tirtomartani dan Tamanmartani.
Sementara sejumlah warga Jobohan mengawal proses pengukuran lahan terdampak. Mereka ingin memastikan lahan tersebut sesuai dengan yang mereka miliki. Hanya saja warga mengaku masih kebingungan dengan masa depan mereka kelak. "Sebenarnya yang kami tunggu pertemuan dengan tim Appraisal. Kami ingin tahu berapa sebenarnya besaran ganti untung yang dijanjikan," kata Totok, warga Jobohan.
Pertemuan dengan tim Appraisal, kata Totok penting karena menyangkut masa depan warga terdampak. Sebab sampai saat ini warga terdampak kebingungan untuk mencari lahan pengganti karena mereka tidak memiliki lahan lainnya selain yang ditempati saat ini. "Padahal mencari tanah tidak mudah. Ini yang membuat warga dilema, dampak psikologinya sangat terasa sekali. Kalau kita yang butuh (lahan) harganya sudah pasti tinggi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Dokter Yoga Yuniadi meluruskan anggapan obat hipertensi menyebabkan ginjal rusak dan menjelaskan pentingnya menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Kuota LPG 3 kg 2027 dipangkas menjadi 8 juta ton. Pemerintah menyiapkan CNG, jargas, dan kompor listrik sebagai energi alternatif.
DPRD Kota Jogja mendorong pencegahan korupsi melalui penguatan sistem, tata kelola transparan, akuntabel, dan budaya integritas.
Polri menetapkan 196 tersangka dari 245 laporan karhutla hingga 28 September 2026. Kasus yang melibatkan korporasi juga terus didalami.
Bulog memastikan Beras Kita Premium dapat digunakan untuk kebutuhan MBG sesuai arahan pemerintah, sementara beras fortifikasi bukan pengganti beras premium.