Nelayan Gunungkidul Dilatih Sertifikasi SKN, Keselamatan Jadi Fokus Utama
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bawaslu Gunungkidul menelusuri adanya dugaan praktik politik uang dalam pilkada. Hal ini tak lepas adanya video berdurasi 29 detik yang menunjukan amplop berisi uang Rp100.000 serta gambar salah satu pasangan calon kepala daerah.
Video ini beredar melalui pesan WA memperlihatkan seorang pria dengan baju biru duduk di sepeda motor dengan membawa amplop. Setelah dibuka terdapat uang dan gambar pasangan calon.
BACA JUGA: KRL Jogja-Solo Bakal Jadi Kejutan Awal Tahun, Harga Tiket Setara Prameks
Ketua Bawaslu Gunungkidul, Tri Ismiyanto, mengatakan sudah mendapatkan informasi video ini sejak Kamis (3/12/2020) malam. Meski demikian, hingga Jumat (4/12/2020) siang belum ada laporan resmi terkait dengan temuan tersebut. “Kami akan melakukan penelusuran terkait dengan masalah ini,” kata Tri kepada wartawan, Jumat.
Menurut dia, penelusuran dilakukan untuk mengkaji tentang kebenaran video tersebut. Selain itu, juga untuk mencari bukti-bukti apakah memenuhi dugaan pelanggaran dalam kampanye. “Nanti hasilnya akan kami sampaikan,” katanya.
Tri mengungkapkan untuk mencegah terjadinya politik uang jelang pencoblosan, bawaslu akan mengintensifkan pengawasan. Salah satunya dengan menggelar apel patroli pengawasan politik uang yang diselenggarakan Sabtu (5/12/2020).
“Khusus saat masa tenang, patrol akan digencarkan. Kami sudah berkoordinasi dengan Sentra Penegakan Hukum Terpadu atau Gakkumdu untuk melakukan pengawasan,” katanya.
BACA JUGA: Kerap Bantu Pemakaman Pasien Covid-19, Mantan Kadinsos Jogja Ditolak Warga Saat Akan Dimakamkan
Selain itu, ia berharap kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pengawasan. Apabila menemukan adanya dugaan pelanggaran silahkan laporkan ke bawaslu atau panwascam serta petuugas pengawas di kalurahan. “Kami membutuhkan partisipasi pengawasan dari masyarakat. Silahkan laporkan kalau ada dugaan pelanggaran dan kami akan menindaklanjutinya,” katanya.
Sebelumnya, aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) Baharuddin Kamba mendorong Bawaslu Gunungkidul untuk bekerja secara professional dan menjaga integritas. Bentuk dukungan ini dilakukan dengan menggelar aksi treatrikal dengan berjalan ke kantor bawaslu.
Aksi itu diawali dengan jalan kaki dari Titik Nol Wonosari hingga Kantor Bawaslu Gunungkidul yang berjarak sekitar 700 meter. Sebelum melakukan aksi, Kamba memasang uang mainan, dan amplop di baju batik luriknya. Menggunakan topeng dan caping dia memulai aksinya berjalan, namun setelah berjalan sekitar 600 meter, ia berbalik dan berjalan mundur menuju kantor bawaslu.
Kamba menjelaskan uang mainan dan amplop yang ditempel sebagai pengingat agar warga mau menolak praktik politik uang. Ia menilai Gunungkidul menjadi salah satu wilayah rawan terjadinya politik uang. “Kami ingin Bawaslu Gunungkidul menindak tegas segala bentuk pelanggaran yang bisa terjadi semasa pilkada,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Influenza A belum ditemukan di Bantul hingga 1 Oktober. Dinkes mengingatkan warga memperkuat PHBS dan menjaga daya tahan tubuh.
Arie Sujito menilai reshuffle kabinet Prabowo harus menjawab problem dan harapan publik, bukan justru memunculkan teka-teki baru.
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman digelar dua hari di Kulonprogo, mempertemukan 25 stan dan stakeholder pertanian DIY.
Pengajuan pengunduran diri Dukuh Krapyak Wetan, Bantul, belum memenuhi syarat. Pemkab menyebut hasil klarifikasi tak menemukan unsur tuduhan.