20 Persen SD Negeri di Sleman Kekurangan Murid, Ini Penyebabnya
Sebanyak 20% SD Negeri di Sleman belum memenuhi kuota rombel SPMB 2026. Disdik memperkuat pendidikan agama dan mengkaji opsi regrouping sekolah.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, UMBULHARJO - Vaksin Covid-19 telah sampai di Pemda DIY. Kendati demikian di daerah, seperti halnya Kota Jogja masih menanti kepastian jumlah kuota vaksin yang bakal diterima masing-masing wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja, Emma Rahmi menyebutkan jika saat ini pihaknya masih melakukan validasi data jumlah tenaga kesehatan tahap pertama yang bakal divaksin. "Ini masih divalidasi [jumlah nakes penerima vaksin]," ujarnya pada Selasa (5/1/2020)
Emma juga mengatakan jika saat ini masih menghitung apakah penerima vaksin nantinya seluruh nakes rumah sakit rujukan atau juga termasuk semua nakes puskesmas. Pihaknya masih menunggu kepastian jumlah kuota vaksin yang bakal diterima Kota Jogja. "Ya ini masih dihitung apakah nakes RS rujukan dan semua Puskesmas. Masih nunggu kuota jumlah vaksin buat Kota Jogja. Nanti kalau sudah ada datanya, saya sampaikan ke Ketua Harian Tim Covid-19," tambahnya.
Baca juga: Langgar Prokes, Kafe dan Warung Burjo di Concat Ditutup Petugas
Sebelumnya Ketua Harian Satgas Penanganam Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi menerangkan jika sebagian tenaga kesehatan sudah dapat sms untuk menyiapkan diri akan memperoleh vaksin. Namun secara rinci menyangkut jumlah dan kapan vaksin akan dilakukan pihaknya masih belum tahu secara pasti. "Jadi awal januari ini memang saya mendengar ada beberapa sms yang sudah mempersiapkan diri, orang-orang yang mendapat sms itu untuk vaksisinasi. Terutama dari tenaga kesehatan. Kita belum tahu kuotanya berapa, kapan mulainya kita belum tahu," tuturnya.
Heroe justru menyoroti salah satu penyokong keberhasilan vaksinasi juga bergantung pada sebaran kasus yang berkembang. Oleh karena itu pihaknya harus sekuat tenaga menurunkan angka sebaran kasus Covid-19.
"Mau tidak mau kita ketika sudah mulai menghadapi vaksinasi kita harus sekuat tenaga untuk menurunkan angka sebarannya, agar proses vaksinasi itu bisa berjalan dengan baik maka harus menekan angka perkembangan pertumbuhan penularan. Kenapa, karena vaksinasi itu mensyaratkan orang harus sehat. Orang yang divaksin adalah orang yang sehat orang yang tidak pernah terkena juga," jelasnya.
Baca juga: Pematokan Tol Jogja-Bawen Dimulai Pekan Ketiga Januari 2021
"Oleh karena itu memang saat ini sedang kita siapkan untuk mencoba mengajak teman-teman UGM dengan GeNose mempercepat proses itu. Kita akan menyiapkan peralatan yang bisa digunakan untuk proses deteksi dengan GeNose. Sehingga nanti kita siapkan peralatan-peralatan yang diperlukan uuntuk mempercepat pemeriksaan massal. Vaksinasi ini akan berhasil kalau kita juga menekan dari sebaran dari kasus ini. GeNose nanti saya belum tahu tentang persisnya, tetapi ini lebih cepat praktis dan juga lebih murah, akurasinya masih bisa kita harapkan," pungasknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 20% SD Negeri di Sleman belum memenuhi kuota rombel SPMB 2026. Disdik memperkuat pendidikan agama dan mengkaji opsi regrouping sekolah.
Dinkes DIY mengimbau warga mencukupi cairan dan mengurangi paparan sinar matahari di tengah cuaca panas yang berpotensi meningkatkan risiko ISPA.
Ketua Banggar DPR Said Abdullah menolak usulan kenaikan gaji kepala daerah. Menurutnya, pemerintah perlu memprioritaskan stabilitas fiskal negara.
Zulhas menegaskan pasar karbon nasional harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan sekaligus menjaga kelestarian hutan Indonesia.
OJK menyebut scam digital mengancam kepercayaan publik. Hingga Juni 2026, IASC menerima lebih dari 608.000 laporan dengan Rp674 miliar berhasil diamankan.
Tim SAR Gabungan menemukan bocah yang terseret ombak di Pantai Gua Cemara dalam kondisi meninggal dunia di Pantai Bugel, sekitar 13 kilometer dari lokasi kejadi