Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi./Reuters-Mike Hutchings
Harianjogja.com, WONOSARI – Sedikitnya 692 tangki air bersih telah disalurkan ke masyarakat. Total di tahun ini BPBD Gunungkidul menargetkan bantuan air bersih sebanyak 2.200 tangki.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, penyaluran air bersih ke masyarakat sudah dimulai sejak pertengahan Juni lalu. Hingga sekarang sudah ada sekitar 692 tangki air bersih yang disalurkan ke daerah-daerah yang terdapak kekeringan.
Hasil pendataan yang telah dilakukan, dari 18 kapanewon di Bumi Handayani, hanya Kapanewon Karangmojo dan Playen menjadi wilayah terbebas dari masalah kekeringan. Total ada sekitar 127.404 jiwa yang berpotensi mengalami krisis air di kemarau tahun ini. Adapun hingga sekarang sudah ada sepuluh kapanewon yang secara resmi mengajukan bantuan air bersih.
BACA JUGA : Sudah Hujan, Dropping Air Masih Berlangsung
“Yang resmi meminta ada Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Paliyan dan Panggang. Sedangkan lainnya ada Kapanewon Semin, Wonosari, Patuk dan Saptosari,” katanya, Kamis (22/7/2021).
Dia menjelaskan, untuk droping air bersih, BPBD Gunungkidul di tahun ini mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp700 juta. Diharapkan dengan dana tersebut dapat menyalurkan air bersih sebanyak 2.200 tangki.
“Untuk penyaluran kami siapkan lima armada tangki pengangkut air dibantu dengan lima unit mesin pompa,” katanya.
Menurut Edy, penyaluran air bersih tidak hanya dilakukan BPBD. Pasalnya, sejumlah kapanewon memiliki anggaran sendiri sehingga bisa melaksanakan droping secara mandiri.
“Memang ada yang miliki dana sendiri, tapi tetap saja meminta bantuan ke BPBD. Upaya koordinasi sudah dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan ke masyarakat,” katanya.
Untuk pelaksanaan droping, ia mengaku tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Hal ini dikarenakan proses penyaluran harus ada bukti pengajuan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah kalurahan. “Kalau ada permohonan resmi, maka langsung kami bantu,” ujarnya.
BACA JUGA : Dropping Air, Kapanewon Harus Gandeng Pihak Ketiga
Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengatakan, wilayahnya termasuk salah satu daerah yang mengalami krisis air saat kemarau. Upaya droping dilakukan secara mandiri melalui anggaran yang dimiliki kapanewon.
Meski demikian, lanjut dia, dana yang dimiliki tidak mencukupi untuk penyaluran di seluruh kalurahan sehingga tetap membutuhkan bantuan dari BPBD Gunungkidul. “Sudah ada koordinasi dan BPBD siap membantu dalam upaya penyaluran air bersih ke masyarakat di Girisubo,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
DPRD Gunungkidul mendorong tambahan Rp400 juta untuk dropping air karena alokasi 3.000 tangki diperkirakan habis sebelum kekeringan berakhir.
Pemerintah menyiapkan tanda kehormatan HUT ke-81 RI. Sejumlah menteri masuk daftar calon penerima, termasuk individu berprestasi di bidang teknologi.
PLN UID Yogyakarta menargetkan penambahan 26 SPKLU di DIY hingga akhir 2026. Saat ini sudah ada 33 unit yang terbangun.
Kubu Febrie Adriansyah buka suara soal kematian Sutrimo. Keluarga menyebut almarhum telah lama mengidap diabetes.
Lakon Tatu membawa kisah cinta, kesetiaan, dan luka pasca-Perjanjian Giyanti hingga mengantar Sleman meraih Penyaji Terbaik I.