Krisis Air di Rongkop, Warga Kemesu Beli Air Rp120.000 per Tangki
Kemarau memicu krisis air di Padukuhan Kemesu, Rongkop. Warga membeli air Rp120.000 per tangki sambil menunggu pasokan PDAM membaik.
Wasito, salah seorang petani di Dusun Kulwo, Bejiharjo, Karangmojo sedang melakukan pemeliharaan tanaman padi yang dimiliki. Selasa (3/8/2021)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mendata di masa tanam ketiga ada lahan seluas 46.000 hektare yang ditanami singkong. Adapun komoditas padi di masa tanam ini terus menyusut karena hingga awal Agustus lahan yang ditanami baru seluas 208 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, adanya penyusutan luas tanam padi sudah terlihat sejak masa tanam kedua. Hal ini terjadi tidak lepas dari kondisi geografis yang didominasi lahan tadah hujan.
Sebagai dampaknya, pada musim pertama atau awal musim hujan komoditas padi sangat mendominasi dan mencapai 48.099 hektare. Sedangkan di musim kedua, jumlah menurun karena luasanya hanya mencapai 8.083 hektare. “Untuk masa tanam ketiga lebih sedikit lagi. Sebagai contoh hingga sekarang baru dilaporkan lahan seluas 208 hektare yang ditanami padi,” kata Raharjo, Selasa (3/8/2021).
Menurut dia, meski ada penurunan luas tanam padi, namun lahan milik petani tak dibiarkan kosong. Pasalnya, komoditas lain seperti singkong, kedelai hingga jagung luas tanamnya mengalami peningkatan. “Untuk jagung luasannya 774 hektare dan kedelai seluas 764 hektare. Sedangkan untuk ketela atau singkong luasannya mencapai 46.000 hektare,” ungkapnya.
Ditambahkan Raharjo, untuk masa tanam ketiga yang bertepatan dengan musim kemarau, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul membuat edaran ke petani terkait dengan upaya mitigasi kekeringan terhadap lahan pertanian. Salah satu isi dari edaran itu menyangkut dengan jenis komoditas yang ditanam.
“Kami mengimbau jangan padi dan dipilih tanaman lain seperti kedelai, jagung dan lainnya. Untuk padi boleh ditanam di lokasi-lokasi yang memiliki kecukupan air,” katanya.
Salah seorang petani di Dusun Kulwo, Bejiharjo, Karangmojo, Wasito mengatakan, dirinya masih menanam padi di masa tanam ketiga. Hal ini tak lepas adanya sumber air sehingga dalam setahun bisa panen padi sebanyak tiga kali.
“Meski musim kemarau, saya tetap bisa menanam padi karena kebutuhan air untuk pemeliharan bisa dicukupi melalui sumber yang tak jauh dari sawah,” katanya.
Dia berharap tanaman padi di musim ketiga dapat tumbuh dengan subur sehingga panen dapat dimaksimalkan. “Baru saja saya tabur pupuk. Sekarang dalam proses pemeliharaan dengan membersihkan tanaman-tanaman pengganggu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau memicu krisis air di Padukuhan Kemesu, Rongkop. Warga membeli air Rp120.000 per tangki sambil menunggu pasokan PDAM membaik.
Kulonprogo masih menunggu regulasi pusat terkait penyaluran bansos melalui KDMP. Sebanyak 10 gerai telah rampung dan siap diverifikasi.
Morning anxiety dapat membuat seseorang merasa cemas sejak bangun tidur. Kenali penyebab, gejala, dan penjelasan para ahli mengenai kondisi ini.
Suara biola dan cello perlahan memenuhi Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Kamis (16/7) malam
Antrean BBM di Sumatra ditargetkan terurai dalam satu hingga dua hari. Lonjakan konsumsi dan panic buying menjadi penyebab utama.
Transaksi KDKMP sepanjang 2026 mencapai Rp56,8 miliar. Pupuk menjadi komoditas terlaris dan distribusi barang subsidi akan diperkuat.