Wacana Kuliah Gratis Perlu Cermati Skema PTN, Ini Penjelasan Pakar UGM
Wacana kuliah gratis perlu mempertimbangkan perbedaan pengelolaan PTN Satker, BLU dan PTN-BH serta kemampuan fiskal negara.
Foto Ilustrasi sejumlah petani memanen kedelai./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, BANTUL - Penambahan komoditas kedelai yang bisa dimasukkan dalam Sistem Resi Gudang (SRG) Niten dinilai banyak menimbulkan banyak manfaat bagi petani kedelai. Selain penyimpanan yang lebih aman, dimasukannya komoditas kedelai dalam SRG Niten dapat memudahkan petani dalam mengakses bantuan permodalan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul, Imawan Eko Handriyanto mengungkapkan penambahan komoditas kedelai dalam ke SRG Niten baik bagi petani kedelai Bantul.
"Alhamdulillah, itu adalah fasilitasi bagi petani untuk menyimpan kedelai di sana sekaligus menperoleh resi gudang," katanya Kamis (7/10/2021).
BACA JUGA : Petani di Bantul Tidak Tertarik Tanam Kedelai
Dijelaskan Imawan, resi gudang dapat digunakan petani sebagai agunan untuk memperoleh kredit atau bantuan permodalan dari Bank. "Kalau itu bisa memanfaatkan artinya petani tidak sulit lagi memperoleh permodalan," ucapnya.
"Baik untuk mengembangkan luas lahannya, luas tanamanya atau pun meningkatkan kualitasnya," tambah Imawan.
Dari sisi pasca panen penyimpanan hasil pamem ke Gudang SRG Niten sangat bagus bagi petani. Pasalnya tidak semua petani memiliki gudang yang representatif menyimpa hasil panen, sedangkan Gudang SRG Niten memiliki komponen dan sarana yang jauh lebih kompeten untuk penyimpanan jangka panjang.
Selain itu kemitraan yang dibangun dengan pihak ketiga memungkinkan kedelai dengan kualitas tinggi dapat diserap dan dijual ke perusahaan besar. "Permasalahannya petani kurang minat menanam kedelai, ini supaya petani minat menanam kedelai," ujarnya.
"Adanya sistem resi gudang ini gampang permodalan, gampang penyimpanan. Kualitas juga terjaga, kalau ingin dijual lagi bisa dikeluarkan," imbuhnya.
BACA JUGA : Petani Tak Tertarik, Lahan Tanaman Kedelai Terus Menyusut
Minat yang rendah berbanding terbalik dengan produktivitas kedelai di Bantul. Diterangkan Imawan, wilayah Bantul sebenarnya cocok untuk budidaya tanaman kedelai dengan rata-rata produktivitas 1,8 ton per hektare. "Kita luasnya masih tergantung dari bantuan pemerintah, jadi minat petani karena masih tergantung bantuan dari pemerintah sekarang luasnya 760 hektare target tahun ini," ujarnya.
Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrisna Dwi Susanta menjelaskan kedelai sekarang menjadi komoditas yang diresikan setelah beras dan jagung. Tambahan peresian komoditas kedelai berdasarkan Peraturan Meneteri Perdagangan No.14/2021. "Perlu juga sistem resi gudang di Indonesia itu ada tambahan komoditas kedelai. Karena SRG untuk ketahanan pangan, apalagi kedelai hampir tiap hari digunakan untuk produksi tahu tempe," ujarnya.
Dengan kapasitas yang ada, SRG Niten siap menampung ribuan ton hasil panen petani Bantul. "Gudang kita itu cukup menampung 1400 ton untuk tiga komoditas tadi, jagung, beras, dan kedelai," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wacana kuliah gratis perlu mempertimbangkan perbedaan pengelolaan PTN Satker, BLU dan PTN-BH serta kemampuan fiskal negara.
Empat EWS tsunami di pantai Gunungkidul mengalami kerusakan. BPBD menyiapkan Rp165 juta dan perbaikan dimulai Oktober 2026.
Bupati Gowa Sitti Husniah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka dugaan korupsi pemerasan dan TPPU senilai Rp1,1 miliar.
BPS mencatat inflasi Indonesia September 2026 sebesar 0,3% secara bulanan dan 3,28% secara tahunan, dengan cabai jadi pemicu utama.
BPJS Kesehatan mengeluarkan lebih dari Rp100 triliun untuk 172,3 juta kasus penyakit jantung sepanjang 2015-2025.
Pengguna iPhone 18 Pro dan Pro Max mengeluhkan speaker berbunyi kresek, klik, dan letupan. Penyebabnya belum diketahui.