Viral Pengemis Bawa Anak di Ketandan Bantul, Satpol PP Turun
Satpol PP telusuri dugaan pengemis bawa anak di Ringroad Ketandan Bantul, pengawasan diperketat demi perlindungan anak.
Ilustrasi hewan pengerat./JIBI
Harianjogja.com, BANTUL – Kekhawatiran akan gagal panen kembali menghantui para petani di Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Bantul. Meski sebagian besar lahan saat ini baru memasuki masa tanam, ancaman hama tikus masih menjadi momok utama setelah musim sebelumnya hewan pengerat itu merusak banyak area persawahan.
Staf Ulu-Ulu Kalurahan Potorono, Nur Diantoro, mengatakan serangan hama tikus pada musim lalu hampir merata di seluruh padukuhan. Tak sedikit petani mengalami kerugian besar, bahkan ada lahan sawah seluas sekitar 2.000 meter persegi yang gagal panen total karena tanaman habis dimakan tikus.
“Sekarang memang belum (terjadi) karena masih musim tanam. Tapi musim kemarin kendalanya ya tikus. Semua merasakan, tikusnya banyak sekali,” ujar Nur, Jumat (24/10/2025).
Ia menjelaskan, masyarakat sebenarnya telah berupaya melakukan berbagai cara untuk menekan populasi tikus. Salah satu metode yang cukup sering digunakan adalah emposan atau pengasapan sarang. Namun, hasilnya masih belum memuaskan.
“Kalau diatasi itu susah. Tikus itu sekali ada yang mati, malah menyebar dan tambah banyak. Dulu juga pernah pakai emposan, tapi malah makin banyak,” jelasnya.
Menurut Nur, peran pemerintah kalurahan lebih bersifat sebagai pendamping dan fasilitator bagi para petani. Salah satu bentuk dukungannya adalah mendorong kelompok tani untuk aktif berdiskusi melalui Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) yang rutin menggelar pertemuan setiap bulan.
“Lewat gapoktan juga bisa saling berbagi pengalaman soal hama. Semua sembilan padukuhan di Potorono ini merasakan serangan tikus,” tambahnya.
Nur menilai, pengendalian hama tikus sebaiknya dilakukan secara serentak lintas wilayah agar hasilnya lebih efektif. Sebab, jika hanya dilakukan sebagian, tikus mudah berpindah ke area lain yang belum diberantas.
Sementara itu, Poniman (73), salah satu petani di Padukuhan Salakan, mengaku sudah bertahun-tahun menghadapi serangan hama yang sama. Dalam beberapa musim tanam, ia bahkan sempat gagal panen karena padi yang ditanam habis dimakan tikus.
“Hama tikus masih ada sampai sekarang. Harus ada obat yang benar-benar bisa mengusir tikus. Soalnya sudah beberapa kali musim nggak panen,” keluhnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, para petani di Potorono berharap ada pendekatan terpadu yang melibatkan kerja sama lintas kalurahan, serta dukungan teknologi dan bahan pengendali yang lebih efektif. Tanpa langkah bersama, ancaman gagal panen akibat hama tikus dikhawatirkan akan terus berulang setiap musim tanam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpol PP telusuri dugaan pengemis bawa anak di Ringroad Ketandan Bantul, pengawasan diperketat demi perlindungan anak.
Kemnaker membuka sertifikasi kompetensi gratis bagi alumni magang nasional hingga 15 Mei 2026 dengan sertifikat resmi BNSP.
PDAB Tirtatama DIY mengusulkan kenaikan tarif air curah Rp500 per meter kubik untuk menekan subsidi Pemda DIY yang membengkak.
Anthony Ginting menghadapi Shi Yu Qi pada hari kedua Thailand Open 2026. Berikut jadwal lengkap 10 wakil Indonesia di Bangkok.
Lima weton diprediksi perlu ekstra waspada pada Rabu Kliwon 13 Mei 2026, mulai konflik hingga persoalan finansial.
Jadwal misa dan ibadah Kenaikan Yesus 2026 di Jogja lengkap dari Kotabaru, Ganjuran hingga GKJ Ambarrukmo.