Petani di Bantul Tidak Tertarik Tanam Kedelai

Ilustrasi kedelai. - Reuters
11 Januari 2021 12:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Sejumlah petani di Bantul mengaku tidak tertarik untuk menanam kedelai karena hasil panennya yang tidak memuaskan. Hal itu diakui oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Joko Suyono.

Joko mengatakan para petani ditawarkan oleh Pemkab Bantul melalui Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (DP2KP). “Pernah ditawari dari dinas tapi kami tolak dari pada hasilnya tidak maksimal lebih baik dialihkan ke tempat lain,” kata Suyono, Senin (11/1/2020).

Saat ini petani di Srigading lebih memilih tanaman varietas padi, jagung, cabai, dan bawang merah, namun lebih banyak cabai dan bawang merah karena hasilnya lebih menguntungkan. Pihaknya sempat menanam kedelai beberapa tahun lalu, namun hasilnya kurang memuaskan bahkan cenderung merugi meskipun bibitnya bantuan dari pemerintah.

Dia membandingkan dengan tanaman jagung satu ruk atau 14 meter bisa menghasilkan 10 kilogram jagung dengan harga per kilogram Rp4.300 maka satu ruk petani bisa menghasilkan Rp4.300. Sementara kedelai satu ruk belum tentu mendapatkan 10 kilogram. Selain itu harga kedelai di pasaran juga masih murah.

Baca juga: Begini Analisa LAPAN pada Lokasi Sriwijaya Air SJ-182 Hilang Kontak

Tidak hanya soal harga, namun kualitas benih kedelai impor saat ini juga kurang bagus dibanding puluhan tahun lalu. Joko mengatakan dulu tanaman kedelai bisa tumbuh tinggi dan hasilnya banyak, namun saat ini tanaman kedelai cenderung pendek dan hasilnya juga sedikit sehingga keuntungannya jauh jika dibandingkan dengan varietas padi dan jagung atau bawang merah.

“Kalau di Srigading sendiri varietas unggulannya ya bawang merah dan cabai karena lebih menguntungkan dan perawatannya juga mudah,” ungkap Joko.

Sebagaimana diketahui kedelai impor saat ini harganya naik sehingga berpengaruh terhadap industri tahu dan tempe. Harga kedelai naik dari Rp7.500 menjadi Rp9.000 per kilogram. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DP2KP Bantul, Imawan Ekohandriyanto mengatakan saat ini sudah tidak ada tanaman kedelai di Bantul sehingga harga kedelai naik.

Sebanyak 491 hektare tanaman kedelai ada 2020 sudah selesai dipanen ada Juni dan Agustus lalu. Tanaman kedelai tersebut merupakan bantuan dari pemerintah. Rencananya tahun ini akan ada bantuan penanaman kedelai sebanyak 700 hektare dengan target hasil panen sekitar 1.000 ton wose atau biji kering.

Namun belum ada kepastian dari Pemerintah Pusat terkait petunjuk teknisnya. Menurut Imawan tanaman kedelai di Bantul selama ini hanya mengandalkan bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah, “Hampir tidak ada petani yang menanam kedelai inisiatif sendiri,” kata Dia.

Baca juga: Partisipasi Aktif Masyarakat Dibutuhkan untuk Penanggulangan Corona

Alasan yang mendasar petani enggan menanam kedelai mandiri karena harga murah. Sementara pemrosesan pascapanennya dianggap rumit sehingga petani memilih menanam padi yang lebih mudah. Sejumlah petani yang menanam kedelai mandiri hanya kedelai edamame atau kedelai jepang yang langsung dikonsumsi atau tidak bisa digunakan sebagai bahan tempe dan tahu. Itu juga jumlahnya sedikit.

Dia menegaskan faktor utama petani belum tertarik menanam kedelai karena harga yang hanya dibawah Rp8.000 per kilogram, “Mungkin kalau harganya di atas Rp8.000 per kilogram saya kira banyak yang tertarik,” ungkap Imawan.