Setahun Tertunda, Pengurus Golkar Gunungkidul Desak Musda Digelar
Pengurus Golkar tingkat kapanewon mendesak Musda Gunungkidul segera digelar setelah tertunda hampir setahun sejak dijadwalkan pada November 2025.
Sejumlah petani memanen kedelai Dena-1 di Dusun Sri Koyo, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kamis (2/5/2019)./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, WONOSARI – Komoditas kedelai pada saat sekarang memiliki harga jual yang tinggi. Meski demikian, petani Gunungkidul kurang berminat dengan tanaman ini. hal tersebut terlihat dari area luas lahan yang ditanami.
Data dari Dinas Pertanian Gunungkidul di 2020 menunjukan luas area tanam kedelai selama setahun hanya 3.775 hektare dan menghasilan panen seberat 4.753 ton. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan hasil panen di 2019 yang mencapai 3.072 ton.
BACA JUGA : Petani di Bantul Tidak Tertarik Tanam Kedelai
Meski demikian, secara umum luas tanam maupun hasil panen masih relatif kecil jika melihat luasan lahan di Gunungkidul. Selain itu, apabila dibandingkan dengan hasil panen di 2012 lalu sangat jauh karena bisa mencapai 26.476 ton.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono membenarkan area tanam kedelai cenderung menyusut setiap tahunnya. Hal ini pun berdampak terhadap produktivitas hasil panen.
Menurut dia, ada beberapa penyebab yang membuat petani kurang berminat menanam kedelai. Salah satunya harga komoditas yang cenderung rendah. Ia tidak menampik harga saat sekarang sedang bagus karena memiliki nilai jual yang tinggi, tapi secara umum belum bisa menjadi faktor penarik bagi petani untuk menanam kedelai.
BACA JUGA : Kemendag Prediksi Harga Kedelai Terus Naik Sampai Mei
Selain itu, keengganan petani juga tidak lepas dari pemeliharaan tanaman yang butuh perhatian ekstra karena rawan terserang penyakit sehinga petani lebh memilih tanaman lain seperti jagung atau kacang tanah.
Menurut dia, tanaman kedelai sejak ditanam hingga proses berbuah banyak diserang hama. Misalnya saat masa tanam, bibitnya sudah mulai diincar lalat buah, kemudian saat berkembang ada potensi diserang ulat daun, polong pengerek hingga kepik polong. Tak sampai di situ, saat memasuki masa panen juga berpotensi diserang hama bubuk.
“Biasanya kedelai mulai ditanam saat memasuki tanam kedua, tapi saat itu banyak petani memilih tanaman lain seperti kacang tanah atau kacang hijau,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto. Menurut dia, minat petani untuk menanam kedelai masih harus ditingkatkan.
“Di masa tanam pertama ini hanya tercatat 142 hektare lahan yang ditanami kedelai. Jumalh ini sangat jauh dengan tanaman lain, khususnya padi yang mencapai 58.000 hektare,” katanya.
BACA JUGA : Jokowi Angkat Bicara soal Masalah Impor Kedelai
Bambang menuturkan, meski relative kecil tapi pada saat masa tanam kedua luas akan mengalami peningkatan. Sesuai dengan program dari pemeritan pusat dengan target 3.000 hektare ditanam kedelai, maka setelah panen padi pada awal Februari akan ditanam seluas 1.355 hektare. Sedangkan sisanya sebanyak 1.459 hektare akan ditanam di awal Maret.
“Kami akan terus dorong petani untuk kembali membudidayakan kedelai,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengurus Golkar tingkat kapanewon mendesak Musda Gunungkidul segera digelar setelah tertunda hampir setahun sejak dijadwalkan pada November 2025.
BPS mencatat 938,84 juta perjalanan wisatawan nusantara sepanjang Januari-September 2026, naik 4,10% dan tertinggi sejak 2019.
Bareskrim mengungkap korban TPPO bermodus rekrutmen tentara bayaran Rusia berasal dari kalangan sipil hingga mantan anggota TNI dan Polri.
Irjen Pol Roy Hardi Siahaan menjabat Kapolda Jateng sejak Oktober 2026. Rekam jejaknya di BNN kini disorot setelah polemik penggeledahan ponpes.
Peneliti menemukan 319 ekstensi Chrome yang mengalihkan pencarian melalui server perantara dan berpotensi memantau aktivitas pengguna.
Neraca perdagangan Indonesia surplus US$3,36 miliar pada September 2026. BI menilai capaian ini memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional.