Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Sejumlah kader mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat Giat Cegah Stunting Lebih Lanjut yang merupakan salah satu kegiatan Tridhama perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat lembaga dari Fakultas Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta di Kantor Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Sleman Kamis (16/12/2021)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat berbagai masalah kesehatan. Meski telah terdeteksi mengalami stunting, kondisi anak masih bisa diperbaiki dengan berbagai upaya. Peran orang tua dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah stunting.
Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Panitia Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya), Francisca Romana Sri Supadmi dalam Giat Cegah Stunting Lebih Lanjut di Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kamis (16/12/2021).
Ia menjelaskan stunting di antaranya disebabkan masalah gizi, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh kurang gizi kronis di 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) anak.
“Angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi dan melebihi standar World Health Organization [WHO], di mana angka stunting di suatu negara prevalensinya tidak boleh lebih dari 20 persen. Berdasarkan hasil survei Status Gizi Balita di 2019, sebanyak 27,67 persen anak balita di Indonesia atau dapat diasumsikan satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting,” ujarnya.
Untuk mendukung upaya pengurangan kejadian stunting, dosen dan mahasiswa Fakultas Kesehatan Unjaya yang terdiri dari Prodi Keperawatan (S-1), Prodi Farmasi (S-1), Prodi Kebidanan (S-1) dan Profesi Bidan Prodi Kebidanan (D-3), Prodi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (D-3), dan Prodi Teknologi Bank Darah (D-3), menggelar PKM ini. Kegiatan ini merupakan penerapan Inter Profesional Education (IPE) di Fakultas Kesehatan Unjaya.
PKM dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan yang terbagi dalam dua sesi kegiatan. Sesi pertama dengan sasaran anak balita yang terdiri dari kegiatan pemeriksaan pertumbuhan pada anak, edukasi dan praktik yoga pada anak, serta pemeriksaan kadar hemoglobin dan golongan darah pada anak.
Untuk sesi kedua dengan sasaran kader kalurahan meliputi kegiatan edukasi dan penyampaian informasi terkait dengan pentingnya dan persiapan masa 1.000 HPK. Topik tersebut disampaikan dalam tiga judul oleh tiga narasumber dari dosen.
Materi pertama dengan judul Ancaman Stunting pada 1.000 HPK disampaikan Bidan Reni Merta Kusuma; materi kedua berjudul Pentingnya Vitamin Selama Persiapan dan Masa 1.000 HPK oleh Ahmad Suriyadi Muslim; dan materi ketiga berjudul Pentingnya Melakukan Pencatatan Terhadap Hasil Pertumbuhan Anak oleh Eniyati.
Lurah Lumbungrejo, Muhammad Misbah Alhakim berharap dengan kegiatan ini masyarakat menjadi paham dan bisa menjaga apa yang menjadi program pemerintah melalui puskesmas, khususnya terkait dengan pengurangan stunting. “Semoga bermanfaat, khususnya bagi orang tua yang memiliki anak balita. Semoga 1.000 HPK untuk pencegahan stunting dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.
BPBD Bantul siapkan Rp20 juta untuk antisipasi El Nino. Potensi kekeringan dan kebakaran mulai dipetakan sejak dini.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.