Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Ilustrasi penjualan hewan kurban. /Bisnis-Arief Hermawan P
Harianjogja.com, SLEMAN-Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) berdampak cukup signifikan pada peternak di Sleman, khususnya menjelang hari raya Iduladha. Mulai dari dibatasinya suplai ternak, penjualan yang tidak optimal hingga harga daging hidup yang melambung.
Salah satu peternak kambing dan domba, Taufiq Mawaddani, menjelaskan dari sisi jual-beli terkena berdampak pada pembatasan lebih ketat, pasar banyak yang ditutup sehingga suplai mulai jarang. “Kalau masuk takutnya yang di kandang kena. Lawannya virus ga kelihatan,” ujarnya, Senin (6/6/2022).
Sudah sejak sekitar sebulan yang lalu pembatasan ini diberlakukan. Ternak dari luar daerah dilarang masuk. Padahal, Sleman bukan merupakan lumbung ternak. Untuk mendapatkan hewan ternak, para peternak biasa membeli hewan yang berasal dari luar daerah seperti Magelang, Temanggung, Jawa Barat, Medan, Lampung dan lainnya.
BACA JUGA: Hingga Hari Ketujuh, Bocah Tenggelam di Pantai Congot Belum Ditemukan
Otomatis para peternak tidak bisa menambah suplai ternaknya. Dari sisi operasional di kandang juga berpengaruh karena para peternak harus meningkatkan perlindungan dari virus dengan penyemprotan disinfektan rutin sehingga otomatis meningkatkan biaya operasional.
Dengan adanya permasalahan itu maka pada penjualan pun sangat terdampak yakni dengan naiknya harga. “Naiknya lumayan, kalau kambing potong untuk tukang sate itu naik Rp3.000-Rp5.000 per kg daging hidup. Kalau ternak kurban naik bisa Rp10.000-Rp20.000 per kg hidup,” katanya.
Dengan naiknya harga ternak, pembeli pun otomatis juga menurun. Padahal saat ini semestinya menjadi momen panen bagi para peternak karena sudah menjelang hari raya Iduladha. Pada kondisi normal, masa-masa ini biasanya aktivitas jual-beli ternak untuk kurban sudah mulai terlihat.
Selain pembatasan suplai atau pasokan, para peternak juga mulai membatasi kunjungan pembeli ke kendang. Hal ini dikarenakan kemungkinan pembeli bisa menjadi carrier pembawa virus PMK. “Biasanya pembeli road show dari kendang satu ke kendang lainnya,” ungkapnya.
Maka ia pun saat ini hanya melayani pembeli dengan cara online untuk mengurangi mobilitas dan potensi penularan virus. “Cara jual-beli kita hari ini meminimalisir pembeli ke kendang. Kita timbang video, kita antar. Kita tawarkan sembelih di sini,” katanya.
Dari sisi kesehatan, ia mencegah PMK dengan mengurangi traffic orang masuk kendang, menyemprot desinfektan serta banyak berkomunikasi dengan Puskeswan dan Balai Besar Veteriner untuk memastikan ternak tidak terkena PMK.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.
Persib Bandung memastikan seluruh pemain dan ofisial aman usai diduga mendapat serangan oknum suporter setelah laga kontra PSM Makassar.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.