Alasan Siswa Sekolah Rakyat dari Gunungkidul Belajar di Sleman-Bantul
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Ilustrasi./Reuters-Mike Hutchings
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– BPBD Gunungkidul memrediksi pada awal September menjadi puncak kemarau di tahun ini. Masyarakat diminta bijak dalam penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, sudah ada upaya antisipasi menghadapi dampak dari musim kemarau. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diperkirakan puncak kemarau terjadi di awal September mendatang.
Salah satu langkah yang dilakukan dengan menyiapkan anggaran droping sebanyak 1.400 tangki air. Selain itu juga sudah ada upaya pendataan wilayah terdampak kekeringan dengan berkoordinasi pihak kapanewon.
Meski demikian, ia tidak menampik hingga Jumat (5/8/2022) pagi belum seluruh kapanewon menyerahkan data rawan kekeringan di wilayah masing-masing. “Yang masuk baru Nglipar, Ponjong, Semanu dan Rongkop. Untuk data kerawanan tidak menyasar ke seluruh wilayah [kapanewon] tapi di titik-titik tertentu saja,” katanya, Jumat.
Baca juga: Suhu Pagi Hari di Sleman Semakin Dingin
Ia berpendapat puncak musim kemarau di tahun ini tidak akan separah dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu tak lepas karena adanya fenomena kemarau basah sehingga potensi turunnya hujan masih ada. “Awal-awal kemarau sempat hujan deras. Tentunya ini berpengaruh terhadap stok cadangan air yang dimiliki masyarakat,” katanya.
Pihaknya masih menunggu pengiriman data dari kapanewon terkait dengan jumlah warga yang rawan terdampak kekeringan. “Kami masih menunggu. Kabar terbaru pagi tadi ada permintaan bantuan air dari Dusun Bengkak, Kanigoro, Saptosari,” katanya.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, hingga sekarang sudah ada permintaan bantuan air bersih. Meski demikian, jumlahnya belum banyak karena penyaluran baru dilaksanakan di Kalurahan Pucanganom, Rongkop. “Pelaksanaannya satu minggu yang lalu. Untuk droping, kami butuh permohonan resmi dari kalurahan maupun kapanewon,” katanya.
Dia berharap di puncak musim kemarau nanti, warga bisa bijak menggunakan air sehingga cadangan yang dimiliki tidak terbuang percuma. Sebagai contoh, pada saat mandi, mencuci atau menyirami tanaman menggunakan air secukupnya. “Gunakan air secukupnya dan tidak boros meski pasokan melimpah. Sebab, ada warga lain yang juga membutuhkan air untuk mencukupi keperluan sehari-hari,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Pencegahan stunting tidak hanya difokuskan pada anak, karena ibu juga harus mendapat perhatian.
PAD wisata Bantul baru Rp8,4 miliar hingga Mei 2026, turun dari tahun lalu. Faktor ekonomi dan kunjungan jadi penyebab.
DPAD DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah di Rompok Ndeso, Kuwaru RT 02, Kalurahan Poncosari, Bantul.
Wali Kota Jogja Hasto dorong kampung wisata jadi ruang belajar. Turis asing diusulkan ikut mengajar anak-anak.
Jadwal KRL Solo–Jogja Jumat 22 Mei 2026 kembali normal. Cek jam keberangkatan lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.