Kuota Transmigrasi Belum Jelas, Gunungkidul Masih Menunggu Pusat
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Ilustrasi./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menemukan kasus antraks di Kapanewon Karangmojo. Meski ada temuan kasus, tetapi potensi penularan diklaim bisa dikendalikan.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan temuan kasus antraks ini bermula adanya seorang warga yang periksa di Puskesmas 2 Karangmojo pada Desember 2022 lalu. Adapun keluhan yang dirasakan karena luka di bagian kulit. “Saat diperiksa masuk kategori suspek dan setelah dilakukan tes ternyata positif,” kata Dewi kepada wartawan, Selasa (10/1/2023).
Dewi menjelaskan, warga positif antraks ini aslinya warga dari Eromoko, Wonogiri. Kebetulan saat menderita gejala, dia tengah berkunjung ke rumah saudaranya di Kapanewon Karangmojo. “Hampir setiap pekan berkunjung. Sekarang sudah pulang ke Eromoko,” katanya.
Menurut dia, temuan tersebut sudah ditangani secara intensif. Dinkes Gunungkidul bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul melakukan upaya pencegahan ke keluarga pasien.
Adapun hasilnya tidak ada yang terdeteksi tertular penyakit ini. “Bisa terkendali meski ada kasus. Apalagi, antraks tidak menular antar manusia, sebab masuk kategori zoonosis. Yakni, penularan dari hewan ke manusia,” katanya.
Disinggung mengenai obat-obatan untuk penanganan, Dewi memastikan tidak ada masalah karena memiliki stok yang memadai. “Obat-obatan yang dibutuhkan dalam penanganan masih tersedia,” katanya.
BACA JUGA: 12 Warga Gunungkidul Dinyatakan Positif Antraks
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengaku sudah melakukan pemeriksaan terkait dengan kasus antraks di Kapanewon Karangmojo.
Diduga kuat kasus berasal dari luar daerah karena hingga sekarang tidak ditemukan ternak yang mati secara mendadak. “Sudah datang ke lokasi suspek dan hasilnya tidak ada laporan ternak mati mendadak,” katanya.
Menurut dia, kasus antraks bukan hal yang baru di Gunungkidul. Di awal tahun lalu ditemukan kasus ternak mati mendadak serta warga dinyatakan positif tertular antraks di Kapanewon Gedangsari dan Ponjong.
Retno memastikan hingga sekarang ada tiga kalurahan yang masuk program pengendalian antraks. Ketiga kalurahan ini meliput Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari; Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo dan Gombang di Kapanewon Ponjong. “Pengendalian masih terus berjalan dengan memberikan vaksin atraks selama sepuluh tahun ke depan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Pemerintah susun Perpres perlindungan nakes usai kasus dr Icha, soroti intimidasi dan lemahnya sistem keamanan.
Usaha pigura di Sleman tertekan kenaikan harga kaca dan kayu, sementara penjualan turun hingga 50 persen akibat melemahnya daya beli.
Jadwal 16 besar Piala Dunia 2026: Kanada vs Maroko dan Paraguay vs Prancis, Minggu dini hari WIB. Simak jam tayang & siaran langsung.
Kasus dugaan penganiayaan di Daycare Jogja bertambah jadi 27 tersangka, dengan 103 anak korban. Polisi masih kembangkan penyidikan.
Bantul lanjutkan restorasi Gumuk Pasir Parangkusumo dengan penebangan vegetasi demi mengembalikan fungsi alami kawasan langka.