Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Anak-anak mengikuti kampanye susur Kali Winongo sebagai bagian pengenalan alternatif wisata air di Jogja, Minggu (1/4). (Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja)
Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 11 sungai besar di Sleman terpantau melampaui ambang batas baku mutu. Aktivitas pertanian dan industri atau usaha diduga menjadi penyebabnya. Maka tidak disarankan air sungai untuk dikonsumsi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Epiphana Kristiyani, menjelaskan DLH Sleman mencatat terlampauinya ambang batas baku mutu ini terutama terjadi pada parameter total koliform, fosfat, klorin dan BOD-COD.
Fenomena ini menurutnya terjadi setidaknya selama tiga tahun terkhir. Adapun DLH Sleman melakukan uji baku mutu air di 11 sungai di Sleman secara berkala, yakni pada musim kemarau, musim hujan dan pancaroba.
BACA JUGA : Ini Daftar Sungai dan Embung yang Tercemar Bakteri E
Meski demikian, ia melihat fenomena ini wajar terjadi. Hal ini disebabkan banyaknya aktivitas pertanian di Sleman. “11 sungai di Sleman melewati sawah. Itu menunjukkan terjadi aktivitas di persawahan itu, yakni pemupukan. Mengakibatkan total koliform dan fosfat tinggi,” ujarnya, Selasa (2/5/2023).
Penggunaan pupuk organik atau yang berasal dari kotoran hewan ini lah yang menyebabkan kadar total koliform tinggi. Selain itu, klorin dan fosfat juga tinggi disebabkan aktivitas cuci-mencuci, yang dalam hal ini dijalankan industri atau usaha laundry.
Usaha laundry menurutnya telah menjamur dari utara hingga selatan di wilayah Sleman. dari sekian banyak laundry, tidak semuanya menggunakan bahan pencuci yang ramah lingkungan. “Belum tentu semua laundry menggunakan detergen ramah lingkungan,” kata dia.
Dengan kondisi ini, ia mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk dikonsumsi. Air untuk dikonsumsi sebaiknya dari sumur, PDAM maupun Pamsimas. Meski demikian, sumber ini juga tidak 100% bebas pencemaran.
BACA JUGA : Sungai Manunggal Paling Tercemar di Jogja
Berdasarkan pengujian yang dilakukan DLH Sleman, 100% air dari tiga sumber itu bahan kimianya di bawah ambang batas baku mutu. Namun, sekitar 70% kandungan bakterinya masih di atas ambang batas baku mutu.
Masyarakat disarankan menguji kandungan air dari sumber yang untuk dikonsumsi, baik melalui PDAM atau Dinas Kesehatan Sleman, untuk memastikan kandungannya aman untuk dikonsumsi. “Kalau diketahui bakterinya tinggi, bisa ke puskesmas, akan diberikan klorin, gratis,” katanya.
Tingginya kandungan bakteri di sumur disebabkan pengelolaan sanitasi yang salah. Ia mencontohkan seperti tidak rutinnya masyarakat menguras saptitank, yang semestinya disedot setiap tiga tahun sekali. Kemudian jarak sumur dengan saptitank baik milik sendiri maupun tetangga yang kurang dari 10 meter.
Untuk masyarakat yang tinggal di dekat IPAL besar, ia menyarankan agar limbah itu dibuang ke IPAL agar bisa diolah dengan baik. “Kalau disalurkan ke IPAL, tidak perlu lagi menyedot saptiktank,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Korban penembakan di bengkel Boyolali menjalani operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang di pipi kiri. Polisi memburu terduga pelaku.
Cek jadwal DAMRI YIA-Jogja Minggu, 11 Oktober 2026, dengan lima pilihan tujuan dan tarif normal Rp80.000 per penumpang.
KAI Daop 6 Yogyakarta menunda penertiban emplasemen Stasiun Solo Jebres. Stasiun ini melayani rata-rata 5.100 penumpang setiap hari.
Prakiraan cuaca DIY Minggu, 11 Oktober 2026, didominasi cerah. Suhu Kota Jogja diperkirakan mencapai 34°C, tertinggi di antara wilayah DIY.
Sebanyak 5.000 peserta mengikuti meditasi Tata Hati Indonesia yang digelar YCCK di UGM, secara langsung maupun daring, tanpa dipungut biaya.