Alasan Siswa Sekolah Rakyat dari Gunungkidul Belajar di Sleman-Bantul
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Salah satu usaha budidaya jangkrik di Dusun Jurangjero, Kampung, Ngawen. Foto diambil Minggu (7/5/2023). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dusun Pagerjurang, Kampung, Ngawen menjadi sentra budidaya jangkrik di Gunungkidul. Usaha ini dikembangkan oleh anak-anak muda pada saat pandemi dan bertahan hingga sekarang.
BACA JUGA: Studi Terbaru, Jangkrik Bagus untuk Usus
Lurah Kampung, Suparna mengatakan, Dusun Pagerjurang masih satu kawasan dengan destinasi wisata religi Gunung Gambar, tempat petilasan Pangeran Samber Nyawa, tokoh yang mendirikan Pura Mangkunegaran di Kota Solo. Meski berada di lereng perbukitan, namun warga bisa berdaya mulai dari pertanian dan peternakan.
Meski demikian, sambung dia, di awal-awal pandemi, sejumlah pemuda menginisiasi budidaya jangkrik.
“Hingga sekarang masih bertahan. Saat ini, tidak hanya anak-anak muda, tapi orang tua juga ada yang ikut memelihara jangkrik,” katanya, Minggu (7/5/2023).
Suparna memberikan apresiasi karena langkah ini awalnya hanya untuk mengisi kegiatan di masa pandemi. Kendati demikian, keberhasilan budidaya malah bisa menambah penghasilan bagi warga, khususnya anak-anak muda.
“Yang jelas dengan usaha ini, anak-anak muda tidak menganggur dan malah bisa memperoleh penghasilan,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Supriyadi, salah seorang warga di Dusun Pagerjurang, Kampung, Ngawen. Ia mengakui, pada awal budidaya hanya melihat usaha yang dilakukan oleh anak-anak muda memelihara jangkrik.
“Ternyata berhasil. Lambat laun saya juga ikut tertarik dan berpartisipas dalam budidaya jangkrik. Sekarang, hampir setiap rumah memelihara jangkrik,” kata Supriyadi.
Dia menjelaskan, sistem pemeliharaan dilakukan dengan cara mengambil telur jangkrik ke pengepul. Selanjutnya, telur-telur ini ditetaskan melalui sebuah kotak dengan luas empat meter persegi.
“Pemeliharaan dilakukan selama 35 hari. Satu ons telur bisa menjadi jangkrik seberat 22-29 kilogram,” katanya.
Untuk harga, Supriyadi mengakui pada saat sekarang di kisaran harga Rp35.000 per kilogram. Ia tidak menampik sudah ada upaya antisipasi agar harga jangkrik tidak anjlok dengan pemeliharaan dilakukan secara bergantian antar warga.
“Kalau tidak juga dibatasi. Sekali pemeliharaan maksimal tiga ons telur untuk dikembangbiakan. Biasanya, pengambilan terlus dilakukan seminggu sekali sehingga waktu panen tidak bersamaan,” katanya.
Disinggung mengenai pemeliharaan, Supriyadi mengaku tidak ada masalah karena prosesnya mudah. Adapun media yang digunakan dengan memanfaatkan daun pisang kering dan banyak tersedia di sekitar rumah.
“Untuk pemasaran juga sudah ada yang mengambilnya. Jangkrik-jangkrik ini kemudian dipasok ke toko-toko pakan ternak dan burung,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Jadwal DAMRI Jogja–YIA 2026 lengkap. Tarif Rp80.000, rute strategis, solusi praktis ke bandara tanpa ribet.
Jadwal Bus KSPN Jogja 2026, tarif mulai Rp12.000 ke Parangtritis, Drini, Obelix Sea View dari Malioboro. Hemat dan praktis.
Cek rute Trans Jogja 2026 lengkap dengan tarif murah dan sistem pembayaran cashless. Solusi transportasi praktis di Jogja.
Film horor Monster Pabrik Rambut hadir dengan teror dunia kerja dan nuansa retro tanpa mengandalkan jumpscare.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY berkolaborasi menggenjot budaya literasi lewat Program Bedah Buku