28 UMKM Kuliner Jogja Ikuti Kurasi, Bidik Pasar Ritel dan Hotel
Sebanyak 28 UMKM kuliner binaan Pemkot Jogja mengikuti kurasi produk untuk meningkatkan kualitas dan membuka akses pasar lebih luas.
Ribuan warga merayah gunungan di pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kamis (29/6/2023)./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Garebeg Besar dalam rangka peringatan Iduladha 1444 H. Dalam garebek kali ini, ada ribuan warga lokal dan mancanegara yang ikut menyaksikan gunungan di Masjid Gedhe Kauman, Kamis (29/6/2023).
Jannes, warga asal Sydney, Australia salah satunya. Tahun ini merupakan kali pertama ia datang ke Jogja. Dalam kedatangannya kali ini, dia dan suaminya secara khusus meluangkan waktu untuk menyaksikan Garebeg Besar. Jannes menilai penyelenggaraan garebeg menggambarkan kebudayaan Indonesia yang masih dijaga hingga saat ini.
“Saya merasa kebudayaan ini [Jogja], sangat bagus. Dengan banyaknya keluarga yang datang [menyaksikan] ini memperlihatkan kekeluargaan di Indonesia yang tinggi, saling menghargai dan masih mempertahankan tradisi," katanya selama acara, Kamis.
Sementara itu, Budi Rahayu warga Dongkelan, Jogja yang turut mengajak kerabat dari luar DIY beserta ibunya yang sedang strok. Dia mengaku sengaja mengajak kerabatnya untuk dapat menyaksikan Garebeg Besar. Menurutnya, kebudayaan tersebut harus dikenalkan kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
“Ini sungguh mengenal budaya sekali, ini [dapat membuat] warga Jogja yang muda-muda bisa lebih mengerti adat zaman dahulu, seperti gunungan kan tradisi sejak jaman dulu tetapi masih dijaga,” katanya.
BACA JUGA: Besok Keraton Jogja Gelar Garebeg Besar, Zona Larangan Terbang Kembali Diberlakukan
Dia pun menyampaikan meskipun ibunya tengah mengalami strok, tetapi ibunya menginginkan untuk tetap melihat garebeg besar, sehingga dengan menggunakan kursi roda, Budi Rahayu mengajak ibunya menyaksikan tradisi tersebut. “Ke depan semoga diberi tempat yang lebih layak, kasian kalau kayak Ibu yang lansia, [harapannya] bisa lebih bagus,” ucap dia.
Ada pula Nunung, warga Trihanggo, Sleman yang bahkan ikut serta berebut hasil bumi dalam gunungan yang diarak saat Garebeg Besar. Dia mengaku sengaja datang mengikuti garebeg besar tersebut untuk dapat merayah gunungan tersebut. “Artinya kalau orang Jawa ini keberkahan, kalau kita punya tanaman padi ditempatkan disitu, kalau punya dagangan di letakkan disitu, ya kepercayaan saja,” katanya.
Dalam prosesi gerebeg tersebut, Nunung berhasil merayah beberapa wajik warna warna. Dia mengaku akan menyimpan wajik tersebut di rumahnya agar memperoleh berkah. “Akan saya taruh di rumah saja, dulu orang Jawa biasanya ditempatkan di pintu, kalau yang punya sawah di tempatkan ke sawah, Allah yang ngasih [berkah] tapi kita percaya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 28 UMKM kuliner binaan Pemkot Jogja mengikuti kurasi produk untuk meningkatkan kualitas dan membuka akses pasar lebih luas.
KPK mengungkap peran guru sebagai koordinator siswa dalam dugaan jual beli kursi Unsoed dengan harga Rp50 juta hingga Rp500 juta.
4,3 juta mobil listrik di China direcall karena masalah gagang pintu elektronik yang dinilai berisiko saat kendaraan kehilangan daya.
Dapat panggilan nomor asing yang cuma berdering sekali? Waspada modus wangiri dan jangan asal menelepon balik.
KPK mengungkap dugaan jual beli kursi jalur mandiri Unsoed tak hanya di Fakultas Kedokteran, tetapi juga FPIK dan Fakultas Hukum.
Cara membuka situs diblokir di Chrome Android: aktifkan DNS aman, ganti DNS pribadi, pakai VPN, ganti jaringan, dan cek alamat situs.