Bang Kosim Jadi Strategi Pemkot Jogja Kembangkan Industri Kreatif
Pemkot Jogja mengembangkan Bang Kosim untuk memperkuat ekosistem industri kreatif dan mengoptimalkan layanan desain serta manufaktur kreatif.
Aktivitas jual beli hewan ternak di Pasar Hewan Terpadu, Kapanewon Pengasih, Selasa (14/7/2020)./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, JOGJA—Beberapa warga Gunungkidul terindikasi penyakit antraks. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY meminta hewan ternak yang mati mendadak segera dilaporkan.
Kepala DPKP DIY, Sugeng Purwanto menyampaikan pihaknya tidak menampik adanya kasus penularan antraks di Gunungkidul sejak Juni lalu. Menurut Sugeng penularan tersebut berasal dari 6 ekor sapi dan 6 ekor kambing yang mati secara mendadak.
Menurut Sugeng, hingga saat ini korban yang meninggal karena penyakit tersebut ada 1 orang, dan 2 orang yang meninggal lainnya bukan karena antraks. Menurut Sugeng, hewan yang terkena antraks di Gunungkidul tersebut merupakan hewan ternak warga setempat.
Menurut Sugeng, pihaknya bersama dinas terkait di Kabupaten Gunungkidul sudah melakukan penanganan untuk meminimalisir penyebaran penyakit tersebut.
“Itu sudah pada awal Juni kemarin, jauh sebelum kurban [Iduladha]. Itu sudah langsung ditangani, tim kita bergerak cepat dengan [dinas terkait] Gunungkidul,” katanya.
Baca juga: Kronologi 3 Warga Semanu Meninggal Dunia karena Antraks, Berawal dari 4 Sapi Mati Mendadak
Menurut Sugeng, vaksinasi terhadap hewan di Gunungkidul pun telah dilakukan untuk memutus penyebaran penyakit tersebut. Kemudian, hewan yang ada di Semanu, daerah tempat ditemukannya antraks, juga telah diisolasi.
Meski begitu, menurut Sugeng, pihaknya belum menginformasikan penyakit tersebut sejak Juni lalu karena masih dalam proses pendalaman.
“Namun, untuk mengklaim ini benar atau enggak [antraks] harus ada laporan resmi, saya dapat laporan resmi baru hari ini, makanya saya tidak berani menyampaikan angka karena baru dikaji, baru hari ini ada keputusan,” katanya.
Sugeng pun mengimbau agar masyarakat mewaspadai apabila ada hewan yang mati mendadak, agar tidak dilakukan penyembelihan dan tidak mengkonsumsinya.
“Sekali lagi kami mengimbau kepada masyarakat kalau ada hewan yang mati dengan kondisi-kondisi tidak wajar, jangan disembelih, jangan dimakan, jangan dijual, apalagi kalau itu sudah ada kepastian dari dinas bahwa ini sedang dalam observasi ya jangan disembelih. Masyarakat kita kan sering kurang hati-hati, kalau ada hewan mati undang petugas dan jangan mengambil keputusan sendiri,” katanya.
Dia pun mengimbau apabila masyarakat menemukan hewan yang mati secara mendadak agar dapat dilaporkan kepada dinas terkait. “Kalau ada sapi yang tidak nafsu makan, ada gejala kejang, itu mesti terjadi sesuatu. Jangan disembelih, tetapi dilaporkan untuk kita lakukan pendampingan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Jogja mengembangkan Bang Kosim untuk memperkuat ekosistem industri kreatif dan mengoptimalkan layanan desain serta manufaktur kreatif.
Asian Games ke-20 resmi dibuka di Nagoya, Jepang. Ohmura Hideaki menyerukan persahabatan, solidaritas, dan perdamaian melalui olahraga.
Veda Ega Pratama gagal lolos ke Q2 Moto3 Austria 2026 setelah hanya mencatat satu waktu lap di Q1. Masalah teknis disebut menghambatnya.
Makalah di jurnal Science pada 1960 memproyeksikan populasi mendekati tak terhingga pada 13 November 2026. Simak konteks dan penjelasan prediksinya.
Film Memburu Pemangsa menghadirkan kisah empat jurnalis membongkar kasus pembunuhan anak dan pentingnya verifikasi berita.
UGM mengatur waktu dan lokasi olahraga di kawasan kampus. Simak jadwal hari kerja, fasilitas akhir pekan, serta area yang diprioritaskan untuk kegiatan akademik