Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Ilustrasi wisatawan sedang menyusuri area Telaga Jonge di Kalurahan Pacarejo, Semanu./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul mencatat ada 359 telaga tersebar di 18 kapanewon di Bumi Handayani yang bisa diandalkan untuk meminimalkan dampak kekeringan. Sayangnya, dari jumlah itu, ada 27 telaga yang kondisinya kini telah mati dan beralih fungsi menjadi lahan pertanian.
Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Handoko mengatakan permasalahan telaga di Gunungkidul tidak hanya mengering saat kemarau. Namun, ada juga yang telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian.
Dari data yang ada hanya 15 telaga yang masih berfungsi di musim kemarau tahun ini. Adapun sebanyak 344 telaga telah mengering, bahkan ada yang sudah mati sebanyak 27 telaga. “Dari 344 yang tidak ada airnya saat kemarau, 27 telaga di antaranya sudah berubah menjadi lahan pertanian,” katanya, Minggu (3/9/2023).
Meski tidak menyebut secara rinci lokasi telaga yang mati, tetapi Handoko mengungkapkan alih fungsi terjadi karena proses sedimentasi yang akut. Akibatnya, air tidak bisa tertampung disebabkan karena lumpur yang memenuhi kolam penampungan. “Makanya berubah fungsi ada yang menjadi lahan atau ladang pertanian,” ungkapnya.
BACA JUGA: Bantul Kekeringan, 905 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan
Dia menjelaskan, sudah ada program agar telaga dapat berfungsi dengan baik. Salah satunya dengan kerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak dengan pengerukan.
Selain itu, juga ada pemberian lapisan geomembran untuk mencegah terjadinya penyerapan air ke dalam tanah. “Kami juga sudah melakukan penambalan talut-talut di sejumlah telaga yang mengalami kebocoran,” katanya.
Terpisah, Lurah Pacarejo, Semanu, Suhadi mengatakan, di wilayahnya ada 12 telaga. Yakni, Telaga Jetis, Jonge, Lebuh, Lendok, Mendak 1, Mendak 2, Pacing.
Selain itu, ada Telaga Sureng, Drogayung, Srilulut 1, Srilulut 2 dan Banyumanik. Meski demikian, Suhadi mengakui pada saat kemarau seperti sekarang mayoritas telaga mengering, karena menyisakan Telaga Jonge yang masih tetap ada airnya. “Kalau mati atau beralih fungsi menjadi ladang tidak ada. Tapi, kalau airnya mengering ada di 11 telaga,” katanya.
Pegiat Komuintas Resan Gunungkidul, Edi Padmo mengatakan, contoh telaga yang mati dan berubah fungsi menjadi lahan pertanian, salah satunya berada di Kapanewon Ponjong. Telaga Jombang menjadi lahan pertanian dikarenakan sudah penuh dengan lumpur yang menjadi tanah. “Sudah tidak ada airnya lagi, makanya berubah fungsi,” katanya.
Ia mengakui untuk menjaga kelestarian telaga di Gunungkidul sudah menggiatkan gerakan penghijauan. Tak kurang dari 20 telaga yang ditanami bibit bohon agar ke depannya ada cadangan air sehingga telaga tidak mengering.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Sebanyak 9.000 onthelis dan onthelista dari berbagai penjuru Indonesia memeriahkan rangkaian International Veteran Cycle Association (IVCA) Rally
Rupiah melemah ke Rp17.717 per dolar AS dipicu ekspektasi suku bunga The Fed tinggi lebih lama dan sentimen geopolitik global.
Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (PPKPT) UPN Veteran Yogyakarta mengungkapkan ada tujuh dosen yang diduga terlibat kasus kekerasan se
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Jadwal bola malam ini 22–23 Mei 2026: Arema vs PSIM, final Jepang U-17 vs China, hingga laga Eropa.