FAM Protes Injury Time Indonesia vs Bangladesh, Minta FIFA Jelaskan
FAM meminta FIFA menjelaskan perubahan injury time Indonesia vs Bangladesh dari dua menjadi tujuh menit dalam FIFA ASEAN Cup 2026.
Rapat koordinasi pematian aliran Selokan Mataram di Ruang Rapat Wakil Bupati Sleman, Senin (25/9/2023). / Harian Jogja-Jumali
Harianjogja.com, SLEMAN—Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) memastikan akan mematikan aliran air di sepanjang Selokan Mataram selama 1 bulan.
Air di sepanjang Selokan Mataram akan mulai dimatikan mulai 1 Oktober hingga 31 Oktober 2023.
Ahli Madya Bidang Pelaksanaan Jaringan Air BBWSSO Rr. Vicky Ariyanti mengatakan pematian aliran air selama sebulan dilakukan untuk pembangunan bangunan ukur di saluran induk, pembuatan pintu air baru dan mengecek serta pemeliharaan dari selokan mataram.
Pematian aliran air, awalnya direncanakan dilakukan selama 2 bulan, namun dalam perkembangannya akan dilakukan selama satu bulan. Hal ini dilakukan setelah ada koordinasi antara BBWSSO dengan Pemkab Sleman dan petani serta pembudidaya ikan air tawar.
"Estimasi pengerjaan untuk beton waktunya 28 hari. Nantinya kami akan usahakan penggunaan zat adictif agar pengerjaannya cepat. Dan, perkiraan kami paling cepat 3 pekan," katanya, usai rapat koordinasi penutupan selokan mataram di Ruang Rapat Wakil Bupati Sleman, Senin (25/9/2023).
Vicky menambahkan, selama sebulan pengerjaan proyek, pihakhya tidak hanya akan membangun bangunan ukur di saluran induk. Akan tetapi juga akan membuat pintu air baru dan mengecek serta pemeliharaan dari selokan mataram.
"Nantinya kami juga akan lakukan peliharaan pengerjaan tanggul," lanjutnya.
Mengenai besaran nilai proyek, Vicky mengaku belum bisa mengungkapkan. Sebab, pihaknya masih akan melihat sejauh mana kerusakan dan urgensinya. Sebab, dengan adanya pematian aliran selokan mataram maka diharapkan akan diperoleh mana saja yang segera dan harus diperbaiki.
"Nanti kami akan lihat. Sekalian dicek," katanya.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan, pematian aliran air selokan mataram tidak bisa ditawar lagi. Sebab, ini sudah lama direncanakan. Pihakhya hanya bisa mendorong Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman untuk lebih masif menyosialisasikan terkair rencana pematian aliran tersebut.
"Kami minta dinas pertanian segera sosialsasi. Dan, ternyata mereka sudah menyosialisasikan hal ini ke petani. Harapan kami informasi ini bisa dijalankan," harap Danang.
Selain itu, Danang mengimbau kepada petani untuk mengantisipasi pematian aliran air selokan mataram dengan pola tanam mereka. Agar, masa tanam padi petani tak terpengaruh dengan kebijakan ini.
"Untuk pembudidaya ikan air tawar, bisa melakukan jenis ikan yang dipelihara. Tadi Dinas Pertanian juga telah menyampaikan jika pembudidaya ikan agar mengubah jenis ikan yang tidak butuh banyak air, seperti ikan lele dan sejumlah strategi lainnya," ucap Danang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
FAM meminta FIFA menjelaskan perubahan injury time Indonesia vs Bangladesh dari dua menjadi tujuh menit dalam FIFA ASEAN Cup 2026.
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman digelar dua hari di Kulonprogo, mempertemukan 25 stan dan stakeholder pertanian DIY.
Pengajuan pengunduran diri Dukuh Krapyak Wetan, Bantul, belum memenuhi syarat. Pemkab menyebut hasil klarifikasi tak menemukan unsur tuduhan.
BPS Gunungkidul masih mengolah data Sensus Ekonomi 2026. Sebanyak 1.033 petugas dikerahkan dengan sekitar 385.000 responden sasaran.
Bank Mandiri membayarkan dividen interim Rp6,16 triliun bertepatan HUT ke-28. Total dividen sepanjang kalender 2026 mencapai Rp50,63 triliun.