Dana Dipangkas untuk Pemilu, Pembangunan MCK dan Musala di 5 Pasar Gunungkidul Batal

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 23 Januari 2024 18:17 WIB
Dana Dipangkas untuk Pemilu, Pembangunan MCK dan Musala di 5 Pasar Gunungkidul Batal

Ilustrasi APBD./JIBI

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Rencana pembangunan musala dan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) di Gunungkidul batal akibat pemotongan anggaran. Pemotongan itu dilakukan lantaran anggaran dipakai untuk pembiayaan Pemilu 2024.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disdag Gunungkidul, Wasana mengaku akan mengupayakan pembangunan musala dan MCK tersebut pada APBD Perubahan Gunungkidul tahun ini.

Sejatinya, kata dia, pembangunan MCK dan musala tersebut dilakukan di lima pasar tradisional. Menurut dia, keberadaan musala sangat membantu bagi pedagang yang notabene mulai bekerja ketika subuh, begitu pula dengan fasilitas MCK. 

“Sebelumnya, kami sudah mengajukan lima rehabilitasi termasuk pembuatan fasilitas MCK dan musala. Lima itu masing-masing ada di Pasar Tepus, Beduyul, Mentel, Wotgaleh, dan Ngenep. Kalau nanti di APBD Perubahan bisa dilakukan, ya kami akan mengusulkan di tahun ini meski kecil [anggarannya],” kata Wasana ditemui di kantornya, Selasa (23/1/2024).

Hanya saja, peluang pembangunan fasilitas tersebut kian kecil jika Pemilu 2024 dilakukan dalam dua putaran. "Jika pembangunan tidak memungkinkan dilakukan tahun ini maka Disdag akan membangun di tahun depan [2025]," kata dia.

Wasana menjelaskan, di Gunungkidul ada 40 pasar yang dikelola Disdag. Sebanyak 38 merupakan pasar rakyat dan dua sisanya masuk taman kuliner dan taman parkir. Salah satu pasar yaitu Pasar Hewan Ngawu berada dalam kondisi buruk karena temboknya mengalami keretakan.

“Pasar Hewan Ngawu juga kami usukan [rehabilitasi]. Dari 38 pasar kalau dirinci per loss ada yang rusak sedang dan ringan. Rusak berat hanya ada satu-dua,” katanya.

BACA JUGA: Tahun 2024, Empat Pasar Tradisional di Bantul Direnovasi, Ini Lokasinya

Sementara itu, Kepala Disdag Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan perbaikan besar baru dapat dilakukan pada 2025. “Plafon anggaran dikurangi banyak. Pengadaan atau pembangunan fisik di Disdag tahun ini ditiadakan. Hanya untuk pemeliharaan ringan,” kata Yuniantoro.

Yuniantoro menambahkan ada sebanyak 40 pasar di Bumi Handayani yang dikelola Disdag. Menurut dia, mayoritas pasar tersebut dalam kondisi rusak. Penanganan hanya dilakukan lewat dana pemeliharaan sebesar Rp200 juta. “Ada tembok yang senthet [retak] membahayakan. Kios atau los ada yang berpotensi ambruk. Saat ini baru kami sikapi dengan pengamanan lewat dana pemeliharaan,” katanya.

Dia menegaskan penggunaan dana pemeliharaan tidak boleh dipakai habis namun ada cadangan sebagai dana tidak terduga. Hal ini melihat pengalaman beberapa pekan lalu ketika cuaca ekstrem yang menyebabkan talut Pasar Trowono ambrol.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online