Trans Jogja Masuk Gunungkidul Masih Wacana, Ini Harapan Warga
Rute Trans Jogja ke Gunungkidul belum terealisasi meski dikaji sejak 2025. Warga berharap layanan ini mengurangi kepadatan Jalan Jogja-Wonosari.
Leptospirosis - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman memastikan hingga bulan kedua 2024, belum ada temuan kasus leptospirosis. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk mewaspadai potensi penyebaran yang disebabkan oleh air kencing tikus ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati mengatakan di musim hujan, penyebaran penyakit leptospirosis menjadi salah satu yang harus diwaspadai. Meski demikian, dia mengakui hingga Minggu (11/2/2024), belum ada temuan kasus warga yang terjangkit penyakit ini. “Masih nihil karena memang belum ada laporan kasus terjangkit leptospirosis di Sleman,” kata Khamidah, Minggu siang.
Hanya saja, ia meminta kepada Masyarakat tetap mewaspadai penyebaran penyakit ini. Angka kasus diketahui belum ada, tapi sewaktu-waktu kemunculan kasus bisa terjadi kapan saja.
Khamidah menuturkan, di 2023 lalu ada 60 warga Sleman yang dinyatakan positif terjangkit leptospirosis. Dari jumlah ini, enam orang dinyatakan meninggal dunia. “Jadi harus tetap diwaspadai ancaman dari penyakit leptospirosis,” katanya.
Khamidah menjelaskan, ancaman penyakit leptospirosis erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan. Salah satu penyebab terjadinya penyebaran dikarenakan air kecing tikus yang mengandung bakteri leptospira.
Oleh karena itu, sambung dia, Masyarakat tetap diminta menjaga kebersihan lingkungan di sekitar rumah. Di sisi lain, kampanye Gerakan Kesehatan di Masyarakat (Germas) juga akan terus digalakkan. “Pola hidup bersih dan sehat merupakan hal yang wajib dijalankan. Makan minum yang bergizi seimbang agar imunitas tubuh baik sehingga tidak mudah tereserang penyakit,” katanya.
BACA JUGA: 11 Orang Meninggal Karena Leptospirosis di Bantul Sepanjang 2023, Kenali Gejalanya
Senada, Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama mengatakan ancaman leptospirosis semakin meningkat pada saat musim hujan sehingga upaya kewaspadaan harus ditingkatkan agar tidak terjangkit penyakit ini. “Memang kasusnya masih nol. Tapi, tak lantas ancaman menghilang sehingga potensi penyebaran harus tetap diwaspadai,” katanya.
Selain ancaman penyebaran leptospirosis, ia meminta juga mewaspadai potensi penyebaran DBD. Cahya tidak menampik, secara kasus dalam tiga tahun terakhir ada penurunan yang signifikan.
Sebagai contoh, di 2022 ada 330 kasus dengan korban meninggal tiga orang. Setahun berikutnya jumlah kasus 146 kasus dengan korban meninggal dunia satu orang. “Penurunan tidak lepas dari program nyamuk Wolbachia di Sleman. Tapi, Masyarakat tetap harus mewaspadai dengan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rute Trans Jogja ke Gunungkidul belum terealisasi meski dikaji sejak 2025. Warga berharap layanan ini mengurangi kepadatan Jalan Jogja-Wonosari.
Pieter Huistra mengungkap kondisi cedera Mousa Bagayoko dan menilai penampilan bek sayap PSS Sleman saat kalah 1-2 dari Borneo FC.
Silmy Karim dan enam pejabat imigrasi didakwa melakukan pemerasan Rp168,9 miliar dalam pengurusan izin tinggal WNA.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mendukung pengusulan wartawan Udin sebagai Pahlawan Nasional bidang jurnalistik melalui pembentukan TP2GD
Bandara Don Mueang Thailand mengubah prosedur pemeriksaan keamanan mulai 1 November 2026. Penumpang diimbau datang lebih awal dan mengikuti arahan petugas.
KPK menggeledah Kantor DLH Klaten dalam penyidikan kasus korupsi lima klaster yang terungkap lewat OTT dengan barang bukti Rp1,2 miliar.