Sebelum Membeli, Masyarakat Diminta Cek Kelayakan Hewan Kurban

Lugas Subarkah
Lugas Subarkah Minggu, 09 Juni 2024 14:57 WIB
Sebelum Membeli, Masyarakat Diminta Cek Kelayakan Hewan Kurban

Sapi, hewan kurban - Ilustrasi freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Menjelang perayaan Iduladha banyak terjadi transaksi hewan kurban. Masyarakat pun diminta untuk teliti dalam membeli hewan kurban hingga proses penyimpanan daging, untuk memastikan kelaikan dikonsumsi.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Sukidi, menjelaskan beberapa penyakit yang perlu diwaspadai dari hewan kurban yakni Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), antrasks dan Lumpy Skin Diseases (LSD), yang dalam beberapa tahun terakhir terjadi di wilayah DIY.

BACA JUGA: Sebentar Lagi Iduladha, Begini Tips Memilih Hewan Kurban yang Sehat

Meski demikian, hingga saat ini hewan kurban di Kota Jogja baik milik peternak Kota Jogja sendiri maupun yang dijual di beberapa pasar dan penjual hewan tiban, belum ditemukan penyakit tersebut. “Di kota tidak ditemukan dan harapan kita semua tidak akan ditemukan,” ujarnya, Minggu (9/6/2024).

Dalam memilih hewan kurban, ia menyarankan masyarakat agar memperhatikan ciri-ciri fisik hewan yang akan dibelu, untuk memastkan kualitas dan kondisi kesehatan. Salah satu ciri yang paling terlihat yakni hewan lincah.

“Hewan kurban yang baik tingginya cukup, bentuk badannya seimbang. Antara kaki dan badan kalau diukur hampir sama. Ada ciri lainnya yang secara veteriner sehat, itu sudah kami ajarkan kepada masyaraat. Misalnya lincah, ekornya panjang, telinganya normal tidak mengeluarkan cairan,” katanya.

Menjelang Idul Adha, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja juga aktif memantau peredaran hewan kurban di pasar dan di pedagang tiban, untuk memeriksa kondisi kesehatan hewan dan memberikan label layak. “Kalau sudah ada labelnya masyarakat tidak perlu khawatir lagi karena itu merupakan jaminan dari pemeriksaan kami,” ungkapnya.

BACA JUGA: Jelang Iduladha, Pemda DIY Mewaspadai Sebaran Penyakit Hewan Kurban

Kemudian pada saat pelaksanaan kurban, pihaknya juga akan menerjunkan 120 petugas dokter hewan yang akan memeriksa hewan korban setelah disembelih. Mereka akan bekerja selama tiga hari berkeliling di 500 titik pemotongan hewan.

“Pemeriksaan ini dimaksud agar tidak ada penyakit, virus atau bakteri yang membahayakan. Terlebih jika ditemukan setelah disembelih terlihat ada gejala. Sehingga jika ditemukan, dagingnya akan dimusnahkan agar tidak menginfeksi kepada manusia,” ujarnya.

Kemudian setelah mendapatkan daging, masyarakat juga perlu memperhatikan cara penyimpanan yang benar agar kualitas daging tetap bagus. “Setelah menerima daging, kalau tidak segera dimasak, disimpan dengan benar, dibungkus dengan plastik press, disimpan di freezer,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online