Vape Kian Populer di Kalangan Remaja Sleman, Pola Merokok Bergeser
Survei Dinkes Sleman menunjukkan 20% remaja perokok memakai vape, menandai pergeseran dari rokok konvensional dan meningkatnya risiko nikotin.
Ilustrasi padat karya./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja (DPKUKMTK) Kabupaten Gunungkidul akan menggelar sosialisasi program padat karya pada Juli 2024.
Kepala Bidang Tenaga Kerja DPKUKMTK, Yohanes Nanang Putranto mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan persiapan penyelesaian jadwal sosialisasi. “Kami masih finalisasi, karena ini masih berkaitan dengan by name pendamping padat karya,” kata Nanang, Selasa (2/7/2024).
Setelah nama pendamping tersebut selesai, DPKUKMTK akan membuat surat keputusan (SK) yang berisi nama-nama itu. Jadwal sosialisasi yang sudah dibuat nantinya akan disampaikan ke para anggota DPRD DIY.
Anggota DPRD DIY sebagai pemilik pokok pikiran program padat karya akan menjadi narasumber sosialisasi bersama Pemkab Gunungkidul. Pasalnya, sumber pendanaan padat karya berasal dari bantuan keuangan khusus (BKK) Pemda DIY dengan total anggaran sebesar Rp20,8 miliar.
Setelah menggelar sosialisasi, padat karya tahap pertama direncanakan digelar pada Juli 2024. Program ini perlu digelar sesegera mungkin, dan diupayakan pada November 2024 sudah dapat selesai di 194 titik pelaksanaan padat karya.
Terang Nanang, upah pekerja sesuai hari orang kerja (HOK) sekitar Rp75.000 sampai dengan Rp100.000. Adapun harga material padat karya akan mendasarkan pada standar harga barang jasa (SHBJ) dan harga di pasaran berdasarkan hasil survei.
BACA JUGA: Padat Karya Mudahkan Akses Warga di Dusun Salam Dlingo
Lebih jauh, Nanang mengatakan bahwa setelah pemilihan umum legislatif lalu, ada beberapa anggota DPRD DIY yang akan berencana mengubah titik lokasi pelaksanaan padat karya. Namun, DPKUKMTK Gunungkidul masih belum menerima SK perubahan titik lokasi hingga saat ini.
“Padat karya kalau dilihat dari sisi ekonomi ya sangat bermanfaat, karena warga yang terlibat mendapat upah. Selain itu, akses yang baik juga memperlancar mobilitas warga dan dapat menunjang peningkatan perekonomian warga setempat," katanya.
Perluasan program padat karya menggunakan APBD Kabupaten tidak dapat dilakukan, karena keterbatasan anggaran. Menurut Kepala DPKUKMTK Gunungkidul, Supartono, jawatannya selalu mengupayakan sumber pendanaan dari BKK.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Survei Dinkes Sleman menunjukkan 20% remaja perokok memakai vape, menandai pergeseran dari rokok konvensional dan meningkatnya risiko nikotin.
Chapter Jogja Art Fair 2026 Tutup dengan Antusiasme Tinggi, Perluas Ruang Pertemuan Seniman dan Kolektor
Pabrik plasma darah Rp4 triliun di Karawang ditargetkan beroperasi 2027 untuk kurangi impor obat dan perkuat industri kesehatan.
Pemerintah siapkan Rp6,26 triliun untuk Program Magang Nasional dan pelatihan vokasi 2026, targetkan ratusan ribu peserta.Kata Kunci SEO
DPR usul gaji guru minimal Rp5 juta per bulan, respons pidato Prabowo soal kebocoran anggaran negara.
Prabowo sebut tahu dalang demo dibayar, soroti aksi tanpa tuntutan jelas dalam Penas KTNA 2026 di Gorontalo.