Jadwal Terbaru KRL Jogja-Solo Minggu 9 Agustus 2026 dan Tarifnya
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 9 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal tiap stasiun di sini.
Foto ilustrasi lampu petromak. /WIkipedia.
Harianjogja.com, JOGJA—Anak yang lahir sebelum tahun 1990-an pasti mengetahui lampu petromak. Sebuah lampu tradisional unik yang cara menyalakannya dengan dipompa.
Ada dua bahan bakar yang dipakai, minyak tanah sebagai bahan bakar utama dan spiritus untuk menyalakan api pertama kali sebelum akhirnya menjadi terang dengan cara dipompa terus menerus.
Di era 1990-an masyarakat masih banyak menemukan lampu petromak ini di wilay pedesaan. Lampu ini akan menjadi banyak keluar terutama ketika ada hajatan atau perhelatan tontonan di tengah masyarakat. Akan tetapi keberadaan lampu petromak ini terus menerus meredup seiring perkembangan teknologi lampu pabrikan.
BACA JUGA : 456 Lampu LED Akan Dipasang di Sepanjang Ringroad Jogja
Bahkan lampu petromak sudah tidak ditemukan lagi di sebagian besar rumah penduduk memasuki tahun 2000-an. Lampu itu telah digantikan seperti lampu LED yang lebih terang.
Ternyata lampu petromak ini memiliki sejarah panjang. Berdasarkan laman Wikipedia. Lampu Petromax diciptakan pada tahun 1910 di Jerman oleh Max Graetz (1851–1937), yang juga menamai merek tersebut, berdasarkan lampu spiritus yang sudah terkenal.
Graetz merupakan presiden dari perusahaan Ehrich & Graetz di Berlin, yang mengembangkan lampu tersebut, dan juga sebagai desainer utamanya.
Ia menciptakan lampu menggunakan bahan bakar parafin yang kemudian menjadi spiritus, yang saat itu merupakan produk baru. Graetz berhasil menemukan proses untuk membuat gas dari parafin, yang memiliki nilai kalori sangat tinggi dan dapat menghasilkan api biru yang sangat panas.
Graetz kemudian merancang lampu tekanan bekerja dengan parafin yang diuapkan. Untuk memulai proses ini, lampu dipanaskan terlebih dahulu dengan spiritus metil (alkohol denaturasi), pada model berikutnya dengan obor terintegrasi yang disebut "Rapidstarter" yang berjalan langsung dari tangki parafin.
Dalam tangki tertutup, parafin diberi tekanan dengan pompa tangan. Panas yang dihasilkan oleh mantel kemudian digunakan untuk menguapkan parafin, yang dicampur dengan udara dan ditiup ke mantel untuk dibakar. Sekitar tahun 1916, lentera dan namanya mulai menyebar ke seluruh dunia. Nama Petromax berasal dari "Petroleum" dan "Max Graetz".
BACA JUGA : Bantul Terancam Darurat Sampah, Pemda DIY Beri Lampu Hijau Akses TPA Piyungan
Desainnya begitu sukses sehingga masih digunakan hingga saat ini. Nama Petromax telah menjadi sinonim dengan lampu tekanan parafin di banyak negara. Desain lampu tersebut kemudian digunakan untuk membuat kompor berdasarkan prinsip yang sama.
Di banyak negara "Petromax" adalah merek dagang terdaftar, misalnya untuk Amerika Serikat oleh Britelyt Inc. atau untuk Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya oleh Pelam International Ltd. Desain Petromax sering kali ditiru, seperti oleh Tower di China, Lea Hin di Indonesia, atau Prabhat di India.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 9 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal tiap stasiun di sini.
DPRD Gunungkidul mendorong tambahan Rp400 juta untuk dropping air karena alokasi 3.000 tangki diperkirakan habis sebelum kekeringan berakhir.
Pemerintah menyiapkan tanda kehormatan HUT ke-81 RI. Sejumlah menteri masuk daftar calon penerima, termasuk individu berprestasi di bidang teknologi.
PLN UID Yogyakarta menargetkan penambahan 26 SPKLU di DIY hingga akhir 2026. Saat ini sudah ada 33 unit yang terbangun.
Kubu Febrie Adriansyah buka suara soal kematian Sutrimo. Keluarga menyebut almarhum telah lama mengidap diabetes.
Lakon Tatu membawa kisah cinta, kesetiaan, dan luka pasca-Perjanjian Giyanti hingga mengantar Sleman meraih Penyaji Terbaik I.