Heboh Pisang Bertandan Ganda di Gunungkidul, Bisa Jadi Varietas Unggul
Pisang bertandan ganda di Gunungkidul menarik perhatian. Pemkab siap kembangkan jadi varietas unggulan.
Ilustrasi sampah organik - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman mencatat sampah organik mendominasi produksi sampah harian di Sleman. Masyarakat pun diminta ikut berperan dalam pengolahan sehingga persoalan sampah bisa cepat teratasi.
Kepala DLH Sleman, Epiphana Kristiyanti mengatakan, persoalan sampah di Sleman belum sepenuhnya selesai. Ia tidak menampik upaya menambah fasilitas pengolahan terus dilakukan, namun untuk optimalisasi penanganan juga membutuhkan peran dari masyarkat.
Dia menjelaskan, produksi sampah di Sleman mencapai 330 ton setiap harinya. Dari jumlah ini, 60% merupakan sampah organik, yang jika tidak segera diolah bisa menimbulkan bau.
BACA JUGA: Kalangan Rumah Tangga di Jogja Diminta Mengolah Sampah Organik
“Mayoritas masih dibuang bercampur dengan sampah jenis lainnya. Sedangkan pengambilan maksimal seminggu hanya dua kali,” kata Epi, Kamis (8/8/2024).
Oleh karena itu, lajut dia, ada kesadaran warga untuk ikut mengolah secara mandiri. Cara pengolahan dapat dilakukan dengan sederhana, yakni dengan membuat lubang biopori.
Menurut Epi, pengelolaan juga mudah karena sampah organic tinggal dimasukan ke lubang biopori yang sudah dibuat. Nantinya, secara sendiri akan terjadi proses pengomposan sehingga setelah penuh bisa dipergunakan untuk bercocoktanam.
“Lokasi di sekitar lubang akan lebih subur karena kompos dari hasil pengolahan sampah organik,” katanya.
Untuk mengoptimalkan pengolahan sampah organik, Epi mengakui sudah memberikan bantuan alat pembuat lubang biopori ke padukuhan. Diharapkan, bantuan bisa dioptimalkan guna membantu pemkab mengelola sampah secara mandiri.
“Saya menyakini dengan partisipasi warga, maka persoalan sampah bisa dikelola dengan baik,” katanya.
Epi menambahkan, belum lama ini dinas lingkungan hidup meminta tambahan kuota ke Pemerintah DIY agar bisa membuang sampah ke TPA Piyungan. Hal ini dikarenakan tumpukan sampah yang masih banyak dan sulit diolah menggunakan mesin di TPST.
“Sampahnya terlalu kempal dan pernah dicoba diolah malah mematahkan mata pisau di mesin pengolahan hingga akhirnya berhenti operasi selama tiga hari untuk perbaikan. Makanya kami ingin sampah-sampah yang terlalu lama menumpuk bisa dibuang di TPA,” katanya.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan, untuk sampah belum bisa dikelola semaunya. Pasalnya hingga sekarang masih ada 144 ton per hari yang belum tertangani dengan baik.
“Memang paling banyak adalah sampah organic. Sedangkah hasil RDF di TPST masih non-organik karena memang belum ada alatnya, tapi kami tetap berupaya untuk pengadaan agar pengelolaan bisa semakin dimaksimalkan,” katanya.
Diharapakn dengan rencana pembanguann TPST Donokerto di tahun ini dan TPST Gamping di 2025 bisa semakin mengoptimalkan pengolahan sampah di Kabupaten Sleman. “Tentunya terus ada upaya, termasuk adanya bantuan alat pengangkut sampah agar bisa terkelola dengan baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pisang bertandan ganda di Gunungkidul menarik perhatian. Pemkab siap kembangkan jadi varietas unggulan.
Oman dan Iran membahas kebebasan navigasi Selat Hormuz di tengah negosiasi Iran-AS dan potensi pelonggaran sanksi minyak.
Pasangan pengantin di Bekasi rugi Rp85,5 juta usai diduga menjadi korban penipuan wedding organizer yang kabur jelang resepsi pernikahan.
Selamat pagi pembaca setia Harianjogja.com. Semoga aktivitas Anda hari ini berjalan lancar dan penuh energi positif. Dari tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat
Antrean penyeberangan saat libur Iduladha 2026 diprediksi naik hingga 20%, terutama di lintasan Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk.
Berkendara sepeda motor di jalan raya sangat berbahaya apabila pengendara belum cukup mengetahui ilmu dan teknik berkendara.