Imunisasi Anak Sekolah di Gunungkidul Tembus 96,8%, Penyisiran Masih Berlanjut
BIAS Gunungkidul mencapai 96%. Dinkes terus melakukan penyisiran untuk meningkatkan cakupan vaksinasi siswa kelas 1, 2, dan 5.
Ilustrasi sampah organik - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman mencatat sampah organik mendominasi produksi sampah harian di Sleman. Masyarakat pun diminta ikut berperan dalam pengolahan sehingga persoalan sampah bisa cepat teratasi.
Kepala DLH Sleman, Epiphana Kristiyanti mengatakan, persoalan sampah di Sleman belum sepenuhnya selesai. Ia tidak menampik upaya menambah fasilitas pengolahan terus dilakukan, namun untuk optimalisasi penanganan juga membutuhkan peran dari masyarkat.
Dia menjelaskan, produksi sampah di Sleman mencapai 330 ton setiap harinya. Dari jumlah ini, 60% merupakan sampah organik, yang jika tidak segera diolah bisa menimbulkan bau.
BACA JUGA: Kalangan Rumah Tangga di Jogja Diminta Mengolah Sampah Organik
“Mayoritas masih dibuang bercampur dengan sampah jenis lainnya. Sedangkan pengambilan maksimal seminggu hanya dua kali,” kata Epi, Kamis (8/8/2024).
Oleh karena itu, lajut dia, ada kesadaran warga untuk ikut mengolah secara mandiri. Cara pengolahan dapat dilakukan dengan sederhana, yakni dengan membuat lubang biopori.
Menurut Epi, pengelolaan juga mudah karena sampah organic tinggal dimasukan ke lubang biopori yang sudah dibuat. Nantinya, secara sendiri akan terjadi proses pengomposan sehingga setelah penuh bisa dipergunakan untuk bercocoktanam.
“Lokasi di sekitar lubang akan lebih subur karena kompos dari hasil pengolahan sampah organik,” katanya.
Untuk mengoptimalkan pengolahan sampah organik, Epi mengakui sudah memberikan bantuan alat pembuat lubang biopori ke padukuhan. Diharapkan, bantuan bisa dioptimalkan guna membantu pemkab mengelola sampah secara mandiri.
“Saya menyakini dengan partisipasi warga, maka persoalan sampah bisa dikelola dengan baik,” katanya.
Epi menambahkan, belum lama ini dinas lingkungan hidup meminta tambahan kuota ke Pemerintah DIY agar bisa membuang sampah ke TPA Piyungan. Hal ini dikarenakan tumpukan sampah yang masih banyak dan sulit diolah menggunakan mesin di TPST.
“Sampahnya terlalu kempal dan pernah dicoba diolah malah mematahkan mata pisau di mesin pengolahan hingga akhirnya berhenti operasi selama tiga hari untuk perbaikan. Makanya kami ingin sampah-sampah yang terlalu lama menumpuk bisa dibuang di TPA,” katanya.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan, untuk sampah belum bisa dikelola semaunya. Pasalnya hingga sekarang masih ada 144 ton per hari yang belum tertangani dengan baik.
“Memang paling banyak adalah sampah organic. Sedangkah hasil RDF di TPST masih non-organik karena memang belum ada alatnya, tapi kami tetap berupaya untuk pengadaan agar pengelolaan bisa semakin dimaksimalkan,” katanya.
Diharapakn dengan rencana pembanguann TPST Donokerto di tahun ini dan TPST Gamping di 2025 bisa semakin mengoptimalkan pengolahan sampah di Kabupaten Sleman. “Tentunya terus ada upaya, termasuk adanya bantuan alat pengangkut sampah agar bisa terkelola dengan baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BIAS Gunungkidul mencapai 96%. Dinkes terus melakukan penyisiran untuk meningkatkan cakupan vaksinasi siswa kelas 1, 2, dan 5.
KPK menyita uang tunai yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah dan menangkap 17 orang dalam OTT ATR BPN.
Jadwal KA Bandara YIA Selasa 15 September 2026 tersedia 24 perjalanan, dengan keberangkatan YIA mulai 04.20 WIB dan Tugu 05.16 WIB.
ETLE Hub mendeteksi 46.034 kendaraan angkutan barang dengan total 72.236 deteksi selama pengawasan 10 Agustus hingga 10 September 2026.
KRI Canopus dikerahkan mencari korban KM Virgo Transport 8 dengan teknologi bawah laut setelah cuaca buruk menghambat penyelam.
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 15 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur, mulai pukul 05.00 hingga 20.42 WIB.