Jelang Iduladha, Pengurusan SKKH di Sleman Justru Sepi Peminat
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
SMP Negeri 1 Saptosasi Gunungkidul./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Saptosari, Kabupaten Gunungkidul berumur 16 tahun mengaku ditampar Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Saptosari, Emy Indarti yang menyebabkan dirinya trauma dan tidak ingin masuk sekolah. Dugaan penamparan ini dilatarbelakangi oleh keputusan pelajar tersebut untuk pulang setelah mengerjakan soal try out.
Ibu pelajar tersebut, Yuliani mengatakan kejadian berawal ketika Kepsek SMPN 1 Saptosari mendatangi si anak dan bertanya alasan si anak memutuskan pulang padahal try out belum berakhir.
“Anak saya menjawab sudah selesai mengerjakan soal try out. Setelah menjawab itu, dia ditampar pipinya sekali,” kata Yuliani ditemui di Dusun Sumbermulyo, Kepek, Rabu, (4/9).
Menurut pengakuan si anak, peserta try out diperbolehkan untuk pulang lebih awal apabila sudah selesai mengerjakan soal. Pasca kejadian itu, si anak tidak mau kembali ke sekolah. Sekolah sempat datang ke rumah untuk membujuk agar kembali bersekolah sebanyak tiga kali. Akhirnya orang tua menandatangani surat pemberhentian studi awal 2024. Si anak saat ini masih belum bersekolah.
Yuliani juga telah pergi ke Dinas Pendidikan (Disdik) Gunungkidul untuk membicarakan kelanjutan studi anaknya. Disdik akan mengupayakan agar si anak mendapat sekolah.
BACA JUGA: Kronologi Perundungan Siswa SMP di Gunungkidul hingga Jarinya Putus
Kepsek SMPN 1 Saptosari, Emy Indarti membantah adanya penamparan terhadap anak Yuliani. Sebaliknya, Emy melalui warga sekolah/ guru telah melakukan home visit untuk membujuk pelajar itu kembali bersekolah.
“Anak ini juga tidak kami keluarkan. Surat yang kami sampaikan ke Ibu Yuliani itu surat pernyataan untuk si anak melanjutkan ke Pondok Pesantren,” kata Emy.
Emy mengaku menyambangi rumah Yuliani juga agar ada keputusan apakah si anak akan melanjutkan sekolah atau tidak. Pasalnya, SMPN 1 Saptosari dituntut segera melaporkan data untuk kebutuhan Asesmen Standar Pendidikan Daerah (ASPD). Data akan dikirim ke Disdik Gunungkidul. “Dia masih bisa melanjutkan di sini, tapi ya harus ikut aturan,” katanya.
Dia juga menceritakan bahwa pelajar tersebut jarang masuk sekolah dengan bermacam alasan sejak kelas 8.
Wakasek Bidang Kurikulum, Lusia Septiharyanti mengaku pelajar itu hanya sekali mengikuti try out. Daftar kehadiran pun sering alpa. Padahal, syarat pelajar dapat naik kelas paling tidak dia harus hadir 90% dalam satu semester atau ketidakhadiran tanpa keterangan maksimal sepulih hari dalam satu semester.
Kepala Disdik Gunungkidul, Nunuk Setyowati juga mengaku tidak ada penamparan terhadap pelajar tersebut.
“Anak ini kan memang jarang masuk sekolah, jadi guru memintanya untuk ke hall untuk diberi arahan. Anak juga tidak dikeluarkan, tapi orang tua memang ingin si anak melanjutkan ke Pondok Pesantren,” kata Nunuk.
Nunuk menegaskan bahwa pihaknya akan mengupayakan agar pelajar tersebut dapat melanjutkan pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Sebanyak 1.021 warga Sleman gagal donor darah awal 2026, mayoritas karena Hb rendah. PMI pastikan stok aman.
Keributan misa GMS Bantul dipicu izin belum lengkap. Polisi mediasi kedua pihak, situasi kini kondusif dan tetap jaga toleransi.
Tawuran remaja di Magelang dipicu tantangan Instagram. Dua pelajar luka parah, lima pelaku diamankan polisi.
Polemik GMS Bantul berujung kesepakatan. Ibadah tetap boleh, namun wajib lengkapi izin. Polisi siap tindak pelaku intimidasi.
Survei Abacus Data: 80% warga Kanada nilai AS di jalur salah. Faktor Trump dan kondisi global jadi pemicu kekhawatiran.