Fakta Janggal Temuan 11 Bayi di Pakem Sleman, KPAI Buka Suara
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Kepala Sekolah SMPN 1 Saptosari, Emy Indarti (tengah) sedang menyampaikan klarifikasi dugaan penamparan terhadap anak didiknya di Kantornya, Kalurahan Kepek, Saptosari, Rabu, (4/9/2024)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Saptosari, Kabupaten Gunungkidul berumur 16 tahun mengaku ditampar Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Saptosari, Emy Indarti yang menyebabkan dirinya trauma dan tidak ingin masuk sekolah. Dugaan penamparan ini dilatarbelakangi oleh keputusan pelajar tersebut untuk pulang setelah mengerjakan soal try out.
Ibu pelajar tersebut, Yuliani mengatakan kejadian berawal ketika Kepsek SMPN 1 Saptosari mendatangi si anak dan bertanya alasan si anak memutuskan pulang padahal try out belum berakhir.
“Anak saya menjawab sudah selesai mengerjakan soal try out. Setelah menjawab itu, dia ditampar pipinya sekali,” kata Yuliani ditemui di Dusun Sumbermulyo, Kepek, Rabu, (4/9).
Menurut pengakuan si anak, peserta try out diperbolehkan untuk pulang lebih awal apabila sudah selesai mengerjakan soal. Pasca kejadian itu, si anak tidak mau kembali ke sekolah. Sekolah sempat datang ke rumah untuk membujuk agar kembali bersekolah sebanyak tiga kali. Akhirnya orang tua menandatangani surat pemberhentian studi awal 2024. Si anak saat ini masih belum bersekolah.
Yuliani juga telah pergi ke Dinas Pendidikan (Disdik) Gunungkidul untuk membicarakan kelanjutan studi anaknya. Disdik akan mengupayakan agar si anak mendapat sekolah.
BACA JUGA: Kronologi Perundungan Siswa SMP di Gunungkidul hingga Jarinya Putus
Kepsek SMPN 1 Saptosari, Emy Indarti membantah adanya penamparan terhadap anak Yuliani. Sebaliknya, Emy melalui warga sekolah/ guru telah melakukan home visit untuk membujuk pelajar itu kembali bersekolah.
“Anak ini juga tidak kami keluarkan. Surat yang kami sampaikan ke Ibu Yuliani itu surat pernyataan untuk si anak melanjutkan ke Pondok Pesantren,” kata Emy.
Emy mengaku menyambangi rumah Yuliani juga agar ada keputusan apakah si anak akan melanjutkan sekolah atau tidak. Pasalnya, SMPN 1 Saptosari dituntut segera melaporkan data untuk kebutuhan Asesmen Standar Pendidikan Daerah (ASPD). Data akan dikirim ke Disdik Gunungkidul. “Dia masih bisa melanjutkan di sini, tapi ya harus ikut aturan,” katanya.
Dia juga menceritakan bahwa pelajar tersebut jarang masuk sekolah dengan bermacam alasan sejak kelas 8.
Wakasek Bidang Kurikulum, Lusia Septiharyanti mengaku pelajar itu hanya sekali mengikuti try out. Daftar kehadiran pun sering alpa. Padahal, syarat pelajar dapat naik kelas paling tidak dia harus hadir 90% dalam satu semester atau ketidakhadiran tanpa keterangan maksimal sepulih hari dalam satu semester.
Kepala Disdik Gunungkidul, Nunuk Setyowati juga mengaku tidak ada penamparan terhadap pelajar tersebut.
“Anak ini kan memang jarang masuk sekolah, jadi guru memintanya untuk ke hall untuk diberi arahan. Anak juga tidak dikeluarkan, tapi orang tua memang ingin si anak melanjutkan ke Pondok Pesantren,” kata Nunuk.
Nunuk menegaskan bahwa pihaknya akan mengupayakan agar pelajar tersebut dapat melanjutkan pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali menggelar EduCareer Connect 2026 bertajuk “From Campus to Career: Connecting Education, Opportunities
Gempa Sukabumi Magnitudo 4,5 mengguncang Jawa Barat akibat aktivitas sesar aktif bawah laut, BMKG pastikan belum ada gempa susulan.
DPAD DIY mengakuisisi untuk mengelola arsip termasuk arsip pribadi, seniman, budayawan dan arsip-arsip yang menyimpan memori kolektif.
Identitas 11 bayi yang ditemukan di Pakem Sleman masih ditelusuri Pemkab Sleman untuk penerbitan dokumen resmi dan asal-usul bayi.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia triwulan I 2026 melambat, dengan rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen.