Mako Brimob Gunungkidul Mulai Dibangun, Ditarget Rampung Desember
Mako Brimob Polda DIY di pesisir Gunungkidul mulai dibangun. Sebanyak 18 rumah dinas ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.
Foto ilustrasi elektrifikasi pertanian - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman berkomitmen untuk terus mengembangkan kawasa pertanian sehat. Program ini dinilai efektif meningkatkan produktivitas karena panenya bisa mencapai sembilan ton gabah kering giling per hektarenya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan, program Sleman Kawasan Pertanian Sehat ditetapkan melalui Instruksi Bupati No.19/Instr/2023. Selain itu, juga diperkuat melalui pembentukan Peraturan Bupati No.62/2023 tentang Pengembagnan Pertanian Organik Berbasih Kawasan.
BACA JUGA: Strategi Wujudkan Swasembada Pangan, Kementan Lakukan Refocusing Anggaran Rp1,7 Triliun
“Program ini juga memiliki peluang peningkatan nilai ekonomi melalui branding Padi Sehat Sleman,” kata Pram, sapaan akrabnya, Senin (28/10/2024).
Dia menjelaskan, fokus utama dari program ini melalui proses budidaya tanaman pertanian dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia untuk pemeliharaan. Sebagai gantinya, pemupukan atau pemeliharaan peternakan menggunakan bahan organik serta agesia hayati.
“Sudah mulai dijalankan untuk komoditas padi, cabai dan ternak telur,” katanya.
Meski demikian, Pram mengakui, program yang berjalan masih didominasi untuk tanaman padi. Hal ini dianggap wajar dikarenakan padi masih menjadi tanaman pangan utama di Masyarakat.
“Sudah ada 2.000 petani yang melaksanakan program pengemanga kawasan pertanian sehat,” kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakjat, Setda Sleman ini.
Menurut dia, tujuan program ini untuk menyejahterakan petani, melindungi konsumen, menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu, juga memenuhi kebutuhan pasar akan produk pertanian sehat, terutama seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri pariwisata di Sleman.
Anggota Gabungan Kelompok Tani Ngudi Waluyo di Padukuhan Prumpung, Sardonoharjo, Ngaglik, Sriyono mengatakan, sudah mengenal Budidaya Tanaman Sehat (BTS) sejak lima tahun yang lalu dan hingga sekarang terus menerapkannya. Dia pun tidak lagi ketergantungan dengan pupuk kimia subsidi untuk pemeliharaan tanaman padi. “Sangat menghemat, karena pupuknya bisa buat sendiri ,” katanya.
Sriyono bercerita, awal menerapkan BTS, untuk luasan 1000 meter persegi. Panen yang dihasilkan juga meningkat mulai dari 5-6 ton hingga menembus sembilan ton gabah kering giling per hektarenya. “Tahun ketiga bahkan panenya mencapai sembilan ton per hektare,” ungkapnya.
Menurut dia, hasil panen lebih bagus daripada dengan budidaya konvensional, meski tanpa menggunakan pupuk kimian. Pasalnya, yang terpenting petani rajin menyemprotkan POC buatan sendiri, maka pertumbuhan tanaman bagus dan lebih aman dari serangan organisme pengganggu tanaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mako Brimob Polda DIY di pesisir Gunungkidul mulai dibangun. Sebanyak 18 rumah dinas ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.
Harga emas perhiasan hari ini, Kamis 24 September 2026, stagnan. Harga 24 karat di Lakuemas Rp2,253 juta per gram.
Prakiraan cuaca hari ini dari BMKG menunjukkan hujan ringan di sejumlah wilayah Indonesia, disertai potensi kabut, petir, dan awan tebal.
Wacana kuliah gratis perlu mempertimbangkan perbedaan pengelolaan PTN Satker, BLU dan PTN-BH serta kemampuan fiskal negara.
Amran Sulaiman menegaskan beras ilegal harus diberantas karena merugikan 115 juta petani dan berpotensi mengganggu swasembada pangan.
Trump menyambut langsung Xi Jinping di bandara AS. Kunjungan tiga hari ini diwarnai agenda perdagangan, teknologi, Taiwan hingga Iran.