130 Warga Sleman Keracunan Usai Hajatan, Ini Hasil Uji Laboratoriumnya
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY GKR Bendoro (kanan) menaman pohon sebagai upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan di Padukuhuan Wotawati, Kalurahan Pucung, Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (9/11/2024)./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY melakukan kunjungan ke Padukuhan Wota-wati yang berada di Lembang Bengawan Solo Purba, Kalurahan Pucung, Girisubo, Gunungkidul, Sabtu (9/11/2024). Kunjungan ini merupakan bentuk promosi Green Tourism dalam rangkaian acara Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2024.
Lurah Pucung, Estu Dwiyono mengatakan konsep pembangunan dan pengembangan Kawasan Wisata Padukuhan Wota-wati mengarah pada Green Tourism atau wisata hijau berkelanjutan. Dia mengaku pengembangan memang tidak fokus pada wisata massal.
Estu menambahkan Padukuhan Wota-wati dapat memiliki potensi pariwisata mengingat mayoritas warga padukuhan tersebut bekerja sebagai petani dan nelayan. Bentang alam Wota-wati pun mendukung sebagai destinasi wisata.
Hanya, selama ini hasil pertanian dan nelayan selalu keluar dari Wota-wati dalam wujud mentah dengan harga murah. Sebab itu, dia merencanakan agar ada pengolahan komoditas tersebut menjadi berbagai olahan produk. Produk ini yang kemudian dapat menjadi penyokong kawasan wisata Wota-wati.
Lebih jauh, Estu menegaskan Padukuhan Wota-wati sedang membangun. Dukungan dana keistimewaan Rp5 miliar Pemerintah Kalurahan dapat setelah Paniradya Kaistimewaan mengunjungi Wota-wati. “Tahun ini adalah tahun kedua untuk mulai pembangunan. Tahun pertama kami masih berfokus pada feasibility study, masterplan. Tahun kedua ini kami sudah merambah ke fisik seperti pembangunan pagar, fasad, dan joglo,” kata Esti dalam keterangan tertulis.
Dia berharap wisatawan dapat merasakan dan mendapatkan pengalaman luar biasa selain menikmati suasana perkampungan yang sejuk, serta dapat belajar pertanian dan peternakan terintegrasi.
BACA JUGA: Dapat Danais Rp5 Miliar, Dusun Wota-Wati Bangun Jalan Tembus ke Pantai Sadeng
Ketua BPPD DIY, GKR Bendara mengatakan kunjungannya ke Padukuhan Wota-wati adalah untuk mempromosikan potensi wisata bersama-sama dengan kualitas yang sudah lebih baik. Selain itu, dia juga melakukan penanaman pohon.
“Sebagai Badan Promosi Wisata, kami ingin membantu mempromosikan Desa Wota-wati, karena ini sejalan dengan Visi dan Misi Ngarso Dalem yang berfokus pada penghijauan kembali, bukan rebranding. Kami turut meningkatkan kualitas branding dari wisata di Desa Wota-wati,” kata GKR Bendara.
Ihwal wisata minat khusus yang sedang dibangun di Wota-wati, GKR Bendara mengaku BPPD DIY tidak berniat menghentikan mass tourism. Menurut dia, wisata tersebut akan banyak berfokus pada dampak besar yang dapat diberikan meski hanya sata wisatawan yang datang. Hal inilah yang kemudian melahirkan Jogja Culture Wellness Festival setiap November. “Wisatawan yang datang memang sedikit tetapi dapat memberikan dampak yang cukup besar dan mereka itu lebih banyak ramah lingkungan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo Jumat 22 Mei 2026. Berangkat hampir tiap jam dengan tarif Rp8.000, praktis dan hemat.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.