Modus Tukar Uang, 2 WNA Gasak Rp4,2 Juta di Gunungkidul
Dua WNA mencuri Rp4,2 juta di warung Gunungkidul dengan modus tukar uang. Polisi masih memburu pelaku dan imbau warga waspada.
Sejumlah petani sedang menanam benih padi di salah satu sawah di Kalurahan Ambarketawang, Gamping. Foto diambil 15 November 2024./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman menyiapkan mitigasi di sektor pertanian untuk mengurangi risiko adanya dampak dari cuaca ekstrem. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi risiko kegagalan panen bagi para petani.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan, salah satu upaya dari mitigasi di sektor pertanian dengan membekali petani dengan pengetahuan untuk memahami fenomena cuaca dan iklim berserta perubahannya. Edukasi ini dilaskanakan dengan menggandeng BMKG guna melakukan pelatihan sekolah iklim kepada petani.
“Petani sudah mengenal pranoto monggo atau ilmu titen, tetapi ini harus diimbangi data dan teknologi terkait dengan permasalahan iklim,” kata Pram, sapaan akrabnya, Selasa (17/12/2024).
Menurut dia, keberadaan teknologi, petani bisa memanfaatkan layanan informasi cuaca dan iklim dengan baik serta mampu beradaptasi dengan situasi cuaca dan iklim kekinian. Di sisi lain, petani dapat menyusun rencana tanam, mulai dari penyesuaian waktu tanam, jenis tanaman yang tepat dan kapan harus ditanam, kapan menunda tanam, kapan harus memanen. “Yang tak kalah penting adalah manajemen pengelolaan air perlu disiapkan agar tidak mengalami gagal panen,” katanya.
Pram menambahkan, upaya mitigasi penting karena sebagai salah satu langkah memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sleman. Secara produksi, terjadi surplus beras di tahun ini.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diperkirakan total kebutuhan beras Masyarakat Sleman selama setahun mencapai 74.899 ton. hal inilah yang mendasari hasil panen di Sleman surplus beras di 2024. “Hasilnya 130.534 ton, sedangakn kebutuhannya hanya 74.899 ton. jadi, masih ada surplus sebanyak 64.636 ton beras,” katanya.
BACA JUGA: Mitigasi Bencana, BPBD Jogja Akan Bentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, untuk antisipasi bencana saat musim hujan sudah menetapkan siaga darurat bencana hidromterologi hingga akhir Februari 2025. Sebagai bentuk kesiapsiagaan, personel BPBD sudah disiapkan untuk diterjunkan pada saat terjadi musibah yang dapat terjadi kapan saja.
Untuk mengurangi dampak dari bencana, Bambang juga meminta kepada Masyarakat untuk mewaspadai hujan deras yang disertai dengan angin kencang. Pasalnya, fenomena ini berpotensi mengakibatkan pohon tumbang.
Oleh karena itu, sebagai bentuk dari mitigasi bencana di awal penghujan, Bambang meminta kepada Masyarakat untuk berhati-hati. Selain itu, juga ada imbauan memangkas dahan dan ranting pohon di sekitar rumah yang telah rindang. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko adanya pohon tumbang. “Dahan-dahan yang telah lapuk juga dipotong. Selain itu, saluran air juga dibersihkan agar tidak memicu terjadinya genangan air saat hujan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua WNA mencuri Rp4,2 juta di warung Gunungkidul dengan modus tukar uang. Polisi masih memburu pelaku dan imbau warga waspada.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.