Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus Kunjungan Wisata Bantul Melonjak
Kunjungan wisata di Bantul melonjak enam kali lipat selama libur Kenaikan Yesus Kristus 2026. Pantai Parangtritis tetap menjadi primadona wisatawan
Foto ilustrasi siswa SMA - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA – Rencana pemerintah untuk meliburkan sekolah selama bulan Ramadan diprotes oleh sejumlah orang tua murid di Jogja. Mereka khawatir kebijakan ini justru akan berdampak negatif pada proses belajar mengajar anak-anak.
Rudiyanto, salah satu orang tua siswa di salah satu SMA di Jogja mengungkapkan kekhawatirannya. "Saya merasa libur panjang selama Ramadan tidak akan efektif untuk anak-anak. Mereka justru akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang kurang produktif," ujarnya, Jumat (17/1/2025).
BACA JUGA: Libur Sekolah Selama Ramadan, Cak Imin: Tidak Perlu
Sementara, Kristiono salah satu orang tua murid SMP di Jogja juga menyuarakan keberatannya. Menurutnya, murid membutuhkan rutinitas belajar yang teratur untuk menjaga kemampuan akademik mereka. "Libur panjang bisa membuat anak-anak lupa materi yang sudah diajarkan dan sulit untuk kembali fokus saat sekolah dibuka kembali," ungkapnya.
Dirinya berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali rencana libur sekolah selama Ramadan dan mencari solusi yang lebih baik untuk kepentingan pendidikan anak-anak. "Kami berharap pemerintah dapat melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk orang tua murid, guru, dan ahli pendidikan, dalam mengambil keputusan terkait kebijakan ini," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY, Suhirman, mengungkapkan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan dan aturan resmi dari pemerintah pusat terkait wacana meliburkan siswa selama bulan puasa.
"Sampai saat ini, kami masih menunggu keputusan final dari pusat. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah berkunjung ke Jogja. Beliau menyampaikan bahwa daerah diminta untuk menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat," ujar Suhirman.
Dia menjelaskan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, siswa tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar selama bulan puasa. Kebijakan yang diterapkan adalah meliburkan siswa sebelum puasa dan beberapa hari sebelum Lebaran.
"Proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa, hanya durasi jam pelajaran yang disesuaikan. Jika biasanya satu jam pelajaran 45-60 menit, maka selama bulan puasa dikurangi menjadi 30-35 menit agar siswa tidak terlalu lelah saat pulang," imbuhnya.
Dikpora DIY menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan kebijakan apapun yang nantinya akan ditetapkan oleh pemerintah pusat. "Baik siswa diliburkan atau tidak, kami sudah siap. Yang terpenting adalah kebijakan yang diambil harus sudah memiliki payung hukum yang jelas," pungkas Suhirman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kunjungan wisata di Bantul melonjak enam kali lipat selama libur Kenaikan Yesus Kristus 2026. Pantai Parangtritis tetap menjadi primadona wisatawan
Pelatih PSIM Yogyakarta Jean-Paul van Gastel menargetkan kemenangan saat menghadapi Madura United di Stadion Sultan Agung Bantul.
Toyota mencatat permintaan Veloz Hybrid menembus 10 ribu unit di tengah kenaikan harga BBM dan meningkatnya minat mobil hemat bahan bakar.
Dua wisatawan asal Karawang ditemukan meninggal tertimbun longsor di jalur menuju Curug Cileat, Subang, Jawa Barat.
Manchester City menjuarai Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 lewat gol Antoine Semenyo di Stadion Wembley.
Kunjungan wisatawan di Malioboro Jogja meningkat selama long weekend Kenaikan Isa Almasih, terutama pada sore hingga malam hari.