Okupansi Hotel Jogja Tembus 70 Persen Saat Long Weekend, Ini Kata PHRI
Okupansi hotel Jogja naik hingga 70% saat long weekend. PHRI DIY ungkap tren booking mendadak dan imbau wisatawan waspada penipuan.
Hasil tangkapan ikan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul mencatat masih ada puluhan ikan invasif yang dijual sepanjang 2024. DKP Bantul menilai masih ada penjualan ikan invasif tersebut lantaran masih ada masyarakat yang meminati ikan tersebut.
Pengawas Perikanan Ahli Muda DKP Bantul, Irawan Waluyo Jati menuturkan ada puluhan ikan invasif yang dijual di Bantul sepanjang 2024. Ikan invasif tersebut dijual oleh pedagang ikan hias maupun perorangan yang merupakan penghobi ikan hias.
"Penyebab masih diperjualbelikan karena peminat ikan predator masih ada. [Pemelihara ikan invasif] yang masih meminati alasannya karena adanya sensasi ketika ikan tersebut memakan ikan hidup," katanya, Senin (20/1/2025).
Dia menuturkan harga pasaran ikan invasif masih tinggi dan penjual yang terbatas membuat penghobi ikan mau menghabiskan uang hingga ratusan ribu untuk membeli seekor ikan invasif. Misalnya, harga ikan serrasalmus rhombeus atau piranha hitam ukuran 8 cm-10 cm dapat mencapai ratusan ribu.
Dia menuturkan ikan invasif tersebut selama ini berasal pembudidaya ikan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Dia memastikan tidak ada ikan invasif yang dibudidayakan di Bantul.
“Kalau ikan predator tadi kalau tidak didatangkan dari luar tidak ada, tidak ada budidaya [ikan invasif di Bantul],” ujarnya.
Ia menyebut DKP telah mengantisipasi penjualan ikan invasif tersebut dengan berkoordinasi dalam pengawasan peredaran ikan tersebut dengan menggandeng DKP DIY dan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
“Setiap kali menemukan ada penjual besar yang memiliki ikan predator, kami menginformasikan ke DKP DIY,” ujarnya.
Kemudian, apabila ada penjual ikan invasif yang kedapatan menjual ikan tersebut, maka DKP Bantul akan meminta penjual ikan tersebut memusnahkan ikan tersebut. Atau pedagang dapat memusnahkan ikan tersebut secara mandiri dengan disaksikan oleh saksi dari DKP Bantul.
Dia menuturkan selama ini DKP Bantul pun memberikan himbauan yang bersifat persuasif terhadap pedagang ikan invasif untuk tidak menjual ikan tersebut.
"Beberapa [penjual] ada yang tidak tahu aturannya. Mereka terkadang yang sudah tahu, mereka masih merasa eman, sayang, mereka membiarkan ikan tersebut tanpa dikasih makan, mereka mau memusnahkan enggak tega," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Okupansi hotel Jogja naik hingga 70% saat long weekend. PHRI DIY ungkap tren booking mendadak dan imbau wisatawan waspada penipuan.
BNNP DIY mengungkap modus sabu disembunyikan dalam speaker di Bantul. Seorang mahasiswa ditangkap bersama sabu dan tembakau sintetis
Puan Maharani menyebut kehadiran Prabowo di DPR untuk menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 menjadi momentum strategis nasional
BPA Fair Kejaksaan Agung menjual Harley Davidson, BMW, hingga Mercedes hasil rampasan korupsi dengan kenaikan lelang Rp1,65 miliar.
Kemhan siapkan Bandara Kertajati menjadi pusat MRO pesawat Hercules Asia untuk memperkuat industri pertahanan Indonesia
Prabowo ungkap alasan turun langsung menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 di DPR di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.