Pemkab Gunungkidul Bangun 90 Kios Rp783 Juta untuk Perluasan Taman Kuliner Wonosari
Taman Kuliner Wonosari diperluas dengan pembangunan 90 kios senilai Rp783,084 juta yang ditargetkan rampung awal Desember 2026.
Ilustrasi nelayan. – Foto dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca buruk yang melanda perairan selatan Gunungkidul sejak akhir Januari berdampak terhadap penghasilan para nelayan. Diperkirakan penghasilan yang diperoleh menurun hingga 70%.
Ketua Kelompok Nelayan di Pantai Baron, Mardi mengatakan, nelayan sedang mengalami paceklik ikan. Kondisi ini terjadi karena dampak buruk dari badai siklon yang terjadi sejak akhir Januari 2025. “Sekarang dampaknya masih terasa,” kata Mardi, Minggu (9/2/2025).
Dia menjelaskan, tangkapan yang diperoleh nelayan menurun drastic. Di hari biasa, sekali tangkap bisa memeroleh ikan hingga ratusan kilogram, tapi saat sekarang hanya beberapa kilogram untuk sekali melaut.
“Menurun jauh. Adanya badai membuat ikan-ikan menjauh dari perairan yang seringkali digunakan nelayan menangkap ikan,” ungkapnya.
Mardi mencontohkan, habibat ikan tuna berada di perairan yang dingin. Oleh karena itu, saat terjadi badai dan suhu di permukaan laut meningkat, maka kawanan ikan akan pindah ke tempat yang lebih dingin.
Di sisi lain, jangkauan nelayan juga terbatas karena ketinggian gelombang yang di kisaran enam meter sangat berbahaya bagi nelayan dengan mesin tempel. “Makanya berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan. Mudah-mudahan cuaca segera normal sehingga nelayan bisa mudah menangkap ikan,” katanya.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan, dalam rentang waktu seminggu terakhir sempat terjadi cuaca ekstrem yang berdampak terhadap naiknya gelombang air laut. Ia tidak menampik, kondisi tersebut berdampak terhadap aktivitas nelayan di pesisir Gunungkidul.
“Sekarang sudah landai dan nelayan mulai beraktivitas,” kata Wahid.
Menurut dia, fenomena badai siklon yang terjadi tentunya berdampak terhadap pendapatan para nelayan. Hal ini dikarenakan aktivitas di laut berhenti saat terjadi kenaikan gelombang yang dapat membahayakan keselamatan.
“Kami terus mengimbau kepada nelayan untuk tetap berhati-hati dan tetap memetingkan keselamatan saat beraktivitas di laut. Jadi, kalau tidak melaut, maka penghasilnnya pasti menurun,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Taman Kuliner Wonosari diperluas dengan pembangunan 90 kios senilai Rp783,084 juta yang ditargetkan rampung awal Desember 2026.
Wamenaker Afriansyah Noor mengingatkan calon pekerja migran memilih jalur resmi dan menguasai bahasa asing sebelum bekerja ke luar negeri.
Bitcoin sempat menembus US$87.200. Simak faktor pendorong penguatan dan imbauan bagi investor menghadapi volatilitas pasar kripto.
Kebakaran rumah di Sragen diduga akibat korsleting listrik. Uang Rp50 juta dan dua sepeda gunung hangus, dua anggota keluarga jadi korban.
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Kemenhaj mempertimbangkan maskapai alternatif untuk menekan biaya haji 2027. Biaya penerbangan mencapai 40% dari total BPIH.