Ini Penyebab Lurah Condongcatur Sleman Jadi Tersangka, Kasus Sewa TKD
Lurah Condongcatur jadi tersangka kasus dugaan korupsi sewa Tanah Kas Desa tanpa izin, kerugian negara capai Rp1 miliar.
Ilustrasi keracunan/JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN—Polisi masih menunggu hasil laboratorium dari hasil pemeriksaan sampel makanan dalam kejadian dugaan keracunan makanan di Tempel. Selain pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dunas Kesehatan, polisi juga melakukan pemeriksaan laboratorium forensik sebagai penyeimbang.
Kapolresta Sleman, Kombes Pol Edy Setyanto Erning Wibowo menjelaskan perkembangan dugaan kasus keracunan makanan di Tempel masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Kepolisian akan memanggil Dinas Kesehatan untuk meninjau hasil laboratorium yang sudah dilalukan Dinkes.
"Nanti kami akan panggil Dinas Kesehatan untuk menunjukkan [hasil lab] itu dan menjelaskan apa temuannya," terang Edy pada Sabtu (15/2/2025) ditemui di Mapolresta Sleman.
Sebelumnya Polresta Sleman juga telah memanggil delapan saksi terkait kejadian keracunan makanan ini. Hingga saat ini belum ada tambahan saksi yang dimintai keterangan. Namun, keluarnya hasil laboratorium nanti akan membuat polisi memanggil saksi-saksi terkait.
Tak hanya Dinas Kesehatan, pemeriksaan laboratorium juga dilakukan oleh kepolisian sebagai penyeimbang. Hasil laboratorium forensuk dari pihak kepolisian kemungkinan akan keluar pada pekan ini. "Ya kami nanti penyeimbang ya, kami juga melakukan tapi nanti lihat dulu yang dari Dinas Kesehatan," katanya
Dari hasil laboratorium harapannya dapat diketahui ada tidaknya kandungan zat terlarang di dalamnya. Hasil lab tersebut juga bisa menambah informasi penyelidikan apakah perbuatan itu dilakukan secara sengaja atau karena kelalaian.
"Hasil lab dulu baru kami lihat, kalau seandainya riset hasil lab ini ada barang yang harus dilarang, kemudian dia memang sengaja ya itu tindakan sengaja," ujarnya.
Selain delapan saksi, polisi juga telah mengecek sejumlah lokasi terkait dugaan keracunan makanan. Mulai dapur pembuat makanan hingga tempat acara digelar juga telah diperiksa. "Setelah ada hasil pasti ada tambahan [saksi]. [Nunggu] forensik dulu," ucapnya.
Sebelumnya dugaan keracunan massal terjadi di Kapanewon Tempel. Ratusan orang mengalami gejala keracunan usai mendatangi sebuah hajatan. Berdasarkan data terakhir, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama menjelaskan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama mengungkapkan jumlah penderita gejala keracunan mencapai 170 orang. Sebanyak 118 menjalani rawat jalan dan 52 rawat inap.
BACA JUGA : Penyebab Keracunan Massal di Sleman, Begini Penjelasan Dinkes
"Sampai saat ini tinggal enam orang yang masih menjalani rawat inap. Sedangkan yang lain sudah dinyatakan sembuh," tegas Cahya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lurah Condongcatur jadi tersangka kasus dugaan korupsi sewa Tanah Kas Desa tanpa izin, kerugian negara capai Rp1 miliar.
Veda Pratama finis ke-16 di debut Moto3 Hungaria 2026 meski kena penalti. Simak hasil lengkap balapan.
Vivo V70 Lite resmi meluncur dengan baterai 6500mAh, layar AMOLED 120Hz, dan harga mulai Rp5 jutaan.
Pemerintah targetkan 100.000 siswa kurang mampu masuk Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis tanpa pungutan.
Satgas Damai Cartenz tangkap pemasok senjata KKB di Sarmi, Papua. Total 12 tersangka dan ratusan amunisi disita.
Rupiah berisiko tembus Rp19.000 per dolar AS akibat konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga tinggi The Fed.