Perahu Nelayan Terbalik di Pantai Baru Bantul, Satu Orang Hilang
Perahu nelayan terbalik di Pantai Baru Bantul, satu orang hilang. Tim SAR masih lakukan pencarian di tengah gelombang tinggi.
Suasana pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Sinduadi Timur pada Jumat (17/1/2025)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, JOGJA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tingkat SMA/SMK yang dijalankan di wilayah DIY sudah berjalan selama seminggu. Meski cenderung terlambat dibanding dengan daerah lain, pelaksanaan program yang dimulai pada 17 Februari lalu di SMKN 4 Jogja ini bisa dianggap mulus di hari pertama.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY mengakui bahwa pelaksanaan program itu belum merata di wilayah setempat. Namun Suhirman menyebut bahwa hingga saat ini pelaksanaan program tersebut tidak mengalami kendala yang signifikan di lapangan.
Menurutnya, perlahan-lahan rogram ini akan dilaksanakan secara menyeluruh di Kota Jogja, termasuk di beberapa wilayah yang sebelumnya belum menerima layanan MBG. "Kami terus mendorong sekolah untuk menyediakan data sasaran siswa agar semua bisa terakomodasi," ujar Suhirman, Minggu (23/2/2025).
Suhirman menambahkan, SMAN 5 Jogja sempat mengalami penundaan dalam pelaksanaan program ini. "Seharusnya SMAN 5 Jogja juga menerima pekan lalu. Namun ada sedikit kendala, harapan kami nanti semua bisa terfasilitasi dengan baik," tambahnya.
Disdikpora DIY, kata dia tetap melakukan evaluasi dan pemantauan rutin terhadap pelaksanaan program MBG. "Kami akan terus memantau jalannya program ini. Kemarin kami sudah ke lokasi, dan dalam beberapa hari ke depan, kami akan kembali untuk melihat perkembangannya," jelas Suhirman.
BACA JUGA: KAI Daop 6 Yogyakarta Siapkan 7 KA Tambahan untuk Lebaran 2025, Berikut Keretanya
Evaluasi dilakukan untuk memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa. "Kami ingin melihat apakah makanan dihabiskan oleh anak-anak, apakah ada usulan variasi menu seperti penambahan susu atau kuah, dan bagaimana respons siswa terhadap makanan yang diberikan. Sejauh ini, sudah ada perbaikan dalam variasi menu, dan porsinya sudah sesuai," katanya.
Suhirman juga menjelaskan mengenai teknis distribusi makanan. "Kemarin, kami sudah melihat langsung kondisi di lapangan. Kami juga berdiskusi dengan penyedia makanan mengenai bagaimana makanan bisa tetap segar saat diberikan kepada siswa. Makannya tidak boleh lebih dari tiga hingga empat jam setelah disiapkan, agar tetap dalam kondisi terbaik," ujarnya.
Salah satu tantangan dalam distribusi adalah kapasitas penyedia makanan. "Satu SPPG maksimal melayani sekitar 3.000 porsi. Jika lebih dari itu, maka harus ada penyesuaian. SOP yang ada sudah mengatur agar distribusi berjalan dengan baik dan tidak ada keterlambatan," tambahnya.
Suhirman juga menyoroti peran sekolah dalam program ini. "Pembagian MBG ini biasanya dilakukan di pagi hari. Ada permintaan dari sekolah agar makanan dibagikan saat istirahat pertama, sekitar pukul 9.00 WIB. Hal ini dilakukan karena ada siswa yang datang ke sekolah dalam keadaan belum sarapan," ungkapnya.
Menurutnya, dengan adanya program ini, siswa menjadi lebih terbiasa untuk sarapan pagi. "Mereka jadi tahu bahwa ada MBG di sekolah, sehingga bisa mengatur pola makan dengan lebih baik. Ini juga membantu mereka lebih fokus dalam belajar," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perahu nelayan terbalik di Pantai Baru Bantul, satu orang hilang. Tim SAR masih lakukan pencarian di tengah gelombang tinggi.
Prediksi Persik vs Persija di Super League 2026, tim tamu diunggulkan meski tuan rumah dalam tren positif.
Trump minta China dan Taiwan menahan diri di tengah ketegangan. AS belum pastikan kirim senjata ke Taipei dan soroti chip Taiwan.
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Okupansi hotel Jogja naik hingga 70% saat long weekend. PHRI DIY ungkap tren booking mendadak dan imbau wisatawan waspada penipuan.
Serabi 2026 bantu lebih dari 1.800 UMKM perempuan memahami bisnis digital, strategi harga, dan pengembangan usaha berbasis data.