Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Lorong sayur, Kelurahan Patehan - ist
Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja memiliki lahan yang sangat terbatas untuk produksi pertanian. Namun dengan keterbatasan ini, masyarakat tetap didorong untuk memproduksi sayur dan ikan untuk mendukung pemenuhan gizi yang secara nasional dicanangkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Pertanian Kota Jogja, Sukidi, menjelaskan sektor pertanian dalam program MBG dilibatkan untuk keamanan pangan dan pemenuhan bahan pangan. “Kami memiliki 288 kelompok tani dan 130 pelaku utama perikanan,” ujarnya, Rabu (26/2/2025).
Dengan lahan di Kota Jogja yang terbatas, menurutnya produksi pertanian tidak bisa memenuhi jumlah yang dibutuhkan. Kebanyakan produksi pertanian pun komoditasnya sayuran, bukan tanaman pangan seperti, jagung dan sebagainya.
“Kota Jogja hanya memiliki 37,07 hektar sawah. Kalau ditanami padi dengan produktivitas 6 ton per hektar per sekali tanam, dengan luas 37,07 hektar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan empat hari saja,” katanya.
Adapun sistem pertanian yang diterapkan di Kota Jogja secara umum yakni pertanian ornamental atau yang berorientasi pada nilai estetika tinggi. Pertanian ornamental berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Berorientasi pada nilai-nilai hobbies. Tanaman yang memang mudah perawatan dan tidak memerlukan tempat luas. Contohnya kita memproduksi benih cabe, kita tanam di pot yang bagus. Tidak perlu ditunggu sampai berbuah, tapi orang bisa membeli berikut potnya,” katanya.
BACA JUGA: Pemkot Luncurkan Gerakan Serentak Bersih-Bersih Sekolah
Selain sayuran, komoditas yang diandalkan yakni perikanan. Sepanjang 2024, Kota Jogja berhasil memproduksi sebanyak 50 ton ikan konsumsi. “Tahun ini kami targetkan 52 ton. Kami berupaya dengan edukasi ke masyarakat, pendampingan intensif ke masyarakat,” ungkapnya.
Dari 130 kelompok perikanan, 80 kelompok merupakan pembudidaya ikan dan sisanya pengolahan dan pemasaran ikan. “Untuk produksinya kebanyakan lele. Karena memang masyarakat lebih banyak menginginkan ikan itu lele. Tapi juga ada gurameh,” kata dia.
Dengan produksi yang terbbatas ini, pihaknya tetap berupaya untuk dapat mendukung pemenuhan gizi di masyarakat. “Ketika tidak ada program MBG, kami juga aktif melakukan gerakan gemar makan ikan di sekolah-sekolah. Harapannya dapat memenuhi gizi terutama anak didik kita,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
AQUA resmi bubar setelah 30 tahun berkarier, menutup era musik pop dunia dengan warisan lagu “Barbie Girl”.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta terus berkomitmen untuk mendekatkan sarana pelayanan kepada masyarakat luas.
Chery dan BYD mengkaji potensi kenaikan harga mobil di Indonesia akibat pelemahan rupiah dan tekanan biaya produksi.
Panduan membaca hasil TKA Kemendikdasmen agar peserta didik memahami makna skor dan kategori penilaian akademik.
Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul kembali menggelar kegiatan Internalisasi Kesejarahan melalui Pembinaan Komunitas.