Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Lorong sayur, Kelurahan Patehan - ist
Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja memiliki lahan yang sangat terbatas untuk produksi pertanian. Namun dengan keterbatasan ini, masyarakat tetap didorong untuk memproduksi sayur dan ikan untuk mendukung pemenuhan gizi yang secara nasional dicanangkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Pertanian Kota Jogja, Sukidi, menjelaskan sektor pertanian dalam program MBG dilibatkan untuk keamanan pangan dan pemenuhan bahan pangan. “Kami memiliki 288 kelompok tani dan 130 pelaku utama perikanan,” ujarnya, Rabu (26/2/2025).
Dengan lahan di Kota Jogja yang terbatas, menurutnya produksi pertanian tidak bisa memenuhi jumlah yang dibutuhkan. Kebanyakan produksi pertanian pun komoditasnya sayuran, bukan tanaman pangan seperti, jagung dan sebagainya.
“Kota Jogja hanya memiliki 37,07 hektar sawah. Kalau ditanami padi dengan produktivitas 6 ton per hektar per sekali tanam, dengan luas 37,07 hektar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan empat hari saja,” katanya.
Adapun sistem pertanian yang diterapkan di Kota Jogja secara umum yakni pertanian ornamental atau yang berorientasi pada nilai estetika tinggi. Pertanian ornamental berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Berorientasi pada nilai-nilai hobbies. Tanaman yang memang mudah perawatan dan tidak memerlukan tempat luas. Contohnya kita memproduksi benih cabe, kita tanam di pot yang bagus. Tidak perlu ditunggu sampai berbuah, tapi orang bisa membeli berikut potnya,” katanya.
BACA JUGA: Pemkot Luncurkan Gerakan Serentak Bersih-Bersih Sekolah
Selain sayuran, komoditas yang diandalkan yakni perikanan. Sepanjang 2024, Kota Jogja berhasil memproduksi sebanyak 50 ton ikan konsumsi. “Tahun ini kami targetkan 52 ton. Kami berupaya dengan edukasi ke masyarakat, pendampingan intensif ke masyarakat,” ungkapnya.
Dari 130 kelompok perikanan, 80 kelompok merupakan pembudidaya ikan dan sisanya pengolahan dan pemasaran ikan. “Untuk produksinya kebanyakan lele. Karena memang masyarakat lebih banyak menginginkan ikan itu lele. Tapi juga ada gurameh,” kata dia.
Dengan produksi yang terbbatas ini, pihaknya tetap berupaya untuk dapat mendukung pemenuhan gizi di masyarakat. “Ketika tidak ada program MBG, kami juga aktif melakukan gerakan gemar makan ikan di sekolah-sekolah. Harapannya dapat memenuhi gizi terutama anak didik kita,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.
Sebanyak 40 KDMP di Sleman sudah beroperasi hingga September 2026, sedangkan 46 lainnya masih berproses menjalankan unit usaha.
Bansos beras 30 kg kembali disalurkan Oktober-Desember 2026 untuk 33,24 juta penerima. Cek status penerima menggunakan NIK.