Belum Berubah Seperti Kata BPS, Desil Tukang Becak Kulonprogo Masih 9
Desil Timbul, tukang becak Kulonprogo, masih tercatat 9 menurut lurah. Sebelumnya BPS menyebut desilnya telah turun menjadi 3.
Tanah Longsor - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Status tanggap darurat ancaman bencana hidrometerologi di Kabupaten Kulonprogo masih ditetapkan hingga akhir Mei ini. Awalnya SK Bupati Kulonprogo terkait status tanggap bencana itu berlaku dari Januari hingga April. Namun, dalam perkembangannya, diperpanjang statusnya sampai Mei. Sebab, jumlah penanganan dampak bencana hidrometerologi masih dilakukan.
BACA JUGA: Libur Waisak, DIY Diserbu Ribuan Kendaraan
Pelaksana tugas Kepala BPBD Kulonprogo, Heri Darmawan menyampaikan, alasan lainnya status tanggap darurat ancaman bencana hidrometerologi diperpanjang karena di lapangan cuaca ekstrem masih terjadi. Hujan masih turun dengan intensitas sedang dan lebat utamanya di wilayah perbukitan menoreh.
“Status tanggap darurat sebagai antisipasi pemerintah dapat mengambil langkah cepat penanganan terhadap dampak bencana hidrometerologi yang terjadi,” katanya, Selasa (13/5/2025).
Status tanggap darurat ini akan berlaku sampai 31 Mei nanti. Diperpanjang atau tidaknya akan diketahui usai dilakukan evaluasi atas kondisi riil di lapangan. Evaluasi meliputi jumlah dan ragam kejadian beserta dampak yang dialami.
“Kalau dilihat kan sekarang misalnya siang cuaca panas tiba-tiba sore mendung hujan lebat turun intensitas sampai satu jam lebih,” sambungnya. Tidak stabilnya kondisi cuaca sehingga butuh penanganan cepat sehingga harus ada payung hukum berupa SK Bupati. Terbaru dia mencotohkan, sejumlah kejadian tanah longsor masih terjadi di Kulonprogo meskipun sudah memasuki musim kemarau.
Terbaru Minggu (11/5/2025) tiga titik longsor terjadi di Samigaluh dan Kokap. Heri berharap, status tanggap darurat ini tidak diperpanjang setelah Mei berakhir. “Situasinya aman saja tidak ada dampak hidrometerologi lagi dan tidak ada kekeringan selanjutnya,” tuturnya. Heri menuturkan, sejak awal 2025 sudah mengimbau terkait ancaman bencana hidrometerologi.
Menurutnya selama musim hujan di 2025 ini sudah banyak kejadian bencana alam hidrometerologi. Letak geografis sejumlah kapanewon di Kulonprogo yang berada di perbukitan menjadikan kejadian tanah longsor mendominasi.
“Selama 2025 ini peristiwa tanah longsor sebanyak 193 kejadian,” ungkapnya.
Tanah longsor mayoritas terjadi di Kapanewon Girimulyo 73 kejadian, disusul Kokap sebanyak 44 kejadian, dan ketiga terbanyak di Samigaluh mencapai 39 kejadian tanah longsor. Selain itu, kejadian cuaca ekstrem dan angin kencang juga banyak terjadi mencapai 72 kejadian. Paling banyak terjadi di Sentolo sampai 13 kejadian dan Pengasih 10 kejadian.
“Kejadian banjir selama 2025 15 kejadian dengan Pengasih paling banyak mengalami sejumlah lima kejadian,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Desil Timbul, tukang becak Kulonprogo, masih tercatat 9 menurut lurah. Sebelumnya BPS menyebut desilnya telah turun menjadi 3.
Top Ten News Harianjogja.com Minggu 6 September 2026 merangkum kabar kebakaran DIY, erupsi Anak Krakatau, ekonomi, budaya, hingga olahraga.
Penerbangan Singapura-Jakarta tertunda akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Singapore Airlines menyiapkan hotel dan taksi bagi penumpang terdampak.
Gunung Semeru erupsi Minggu pagi dengan kolom letusan 1.000 meter. Warga diminta menjauhi Besuk Kobokan dan radius 5 km dari kawah.
IRGC Iran mengklaim rudal balistik menghantam kapal perang AS. CENTCOM menyebut kedua kapal berhasil menghindari serangan.
Abu vulkanik mengandung silika yang dapat mengiritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan. Simak cara membersihkan abu dari tubuh dengan tepat