DIY Kekurangan Dokter Paru, Baru 37 dari Kebutuhan 160
DIY kekurangan dokter paru, baru 37 dari kebutuhan 160. Akses layanan pasien terhambat, fasilitas kesehatan jadi sorotan.
Skrining TBC - Ilustrasi Antara
Harianjogja.com, JOGJA—Penyakit menular Tuberkulosis atau TBC masih menjadi masalah serius di Kota Jogja. Pada tahun 2025 hingga bulan Mei tercatat sudah ada 583 kasus masyarakat terpapar TBC.
Meskipun begitu, Kasi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja, Endang Sri Rahayu mengatakan tren kasus TBC kini cenderung mengalami penurunan. Tahun lalu disebutnya jauh lebih banyak, terdapat 1.469 kasus TBC di wilayahnya.
BACA JUGA: Dokter Spesialis Paru Bagikan Tips Pencegahan TBC
Endang mengatakan, penurunan kasus TBC dikarenakan gencarnya screening penyakit ini di kalangan masyarakat. Semakin banyak ditemukan penderitanya, maka semakin banyak pula yang berhasil menjalani pengobatan hingga akhirnya sembuh.
“Sekarang sudah mulai menurun, tahun 2030 harapannya sudah tidak menjadi masalah. Kemarin kita dipush untuk menemukan banyak, kemudian mengobati otomatis angkanya terus turun,” ujar Endang, Senin (16/6/2025).
Ia mengatakan, penderita TBC kebanyakan akan pulih total setelah mengonsumsi obat minimal enam bulan. Berbeda halnya jika tidak mengonsumsi obat, kondisi penderita akan semakin memburuk hingga membuat bakteri kebal terhadap obat.
Disebutkan, penderita TBC di Kota Jogja didominasi usia 30 hingga 40 tahun, yang masih dikategorikan usia produktif. Sedangkan angka kematian berkisar lima hingga 10 persen. Endang menjelaskan, diantara penyakit menular lain, TBC merupakan salah satu yang paling tinggi tingkat kematiannya.
Endang menambahkan, penularan TBC banyak didominasi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Ia mengatakan, salah satu faktor risiko TBC adalah kekurangan gizi yang banyak dialami masyarakat kurang mampu.
“Faktor resiko TBC salah satunya adalah malnutrisi atau kurang gizi yang menimpa banyak orang miskin, meskipun tidak semua. Ada juga dari kalangan mampu, ASN juga ada,” jelasnya.
Faktor lingkungan tempat tinggal juga disebutnya turut berpengaruh penularan TBC. Endang menjelaskan bahwa lingkungan padat penduduk dan kawasan kumuh memudahkan penularan bakteri tuberkulosis.
“Lingkungan padat secara logika rumahnya kecil, berdempetan dengan tetangga apalagi jendelanya tidak pernah dibuka, jadi dalam rumah itu lembab, gelap, jadi kuman TB suka di situ,” tandasnya.
Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kebersihan lingkungan sehingga dapat meminimalkan risiko penularan Tuberkulosis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DIY kekurangan dokter paru, baru 37 dari kebutuhan 160. Akses layanan pasien terhambat, fasilitas kesehatan jadi sorotan.
Astra Motor Yogyakarta melatih 25 karyawan PT Bayer Indonesia menjadi duta safety riding untuk meningkatkan budaya keselamatan berkendara.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Perceraian akibat judi di Indonesia mencapai 4.623 kasus sepanjang 2025. Angkanya melonjak 365 persen dalam lima tahun terakhir.
Nissan Kicks generasi kedua resmi meluncur di Jepang. Kini dibekali teknologi AWD elektrik e-4ORCE, e-POWER terbaru, dan harga mulai Rp304 juta.
Cristiano Ronaldo siap menjalani Piala Dunia keenam bersama Portugal. Sang kapten mengirim pesan emosional jelang laga pembuka melawan Republik Demokratik Kongo