DPRD Gunungkidul Siapkan Perda Reklame, Bidik Optimalisasi PAD
DPRD Gunungkidul membahas Raperda Penyelenggaraan Reklame untuk mengoptimalkan PAD, menata reklame, dan memperkuat kepastian hukum.
Benur./JIBI-Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Harga jual benur atau benih lobster di Gunungkidul terjun bebas. Di saat awal diperbolehkan menjual Benih Bening Lobster (BBL) harganya sempat tembus Rp40.000 per ekor, tapi sekarang hanya dihargai Rp2.000 per ekornya.
Ketua Kelompok Nelayan Sadeng, Sarpan mengatakan, ada harapan harga jual benur bisa kembali naik. Pasalnya, harga jual dinilai rendah karena hanya di kisaran Rp2.000 per ekor.
“Saat diperbolehkan menangkap benur di 2023 lalu, sempat tembus Rp40.000, tapi mulai menurun Rp9.000 per ekor. Kemudian Rp7.000 per ekor dan sekarang Rp2.000 per ekor,” kata Sarpan kepada wartawan, Rabu (9/7/2025).
BACA JUGA: Pesanan Benih-Benih Lobster Disetop, Nelayan Bantul Menjerit
Ia tidak tahu persis kenapa harga benur bisa terjun bebas. Meski demikian, ada informasi bahwa negara pengimpor BBL seperti Vietnam sudah kebanyakan stok sehingga berpengaruh terhadap harga jual di pasaran.
“Katanya hanya Vietnam yang bisa membudidayakan benur jadi Lobster. Mungkin karena terus dipasok, jadi stoknya terlalu banyak sehingga dampaknya ke harga jual benur,” ungkapnya.
Disinggung mengenai stok lobster di perairan Gunungkidul, Sarpan membantah adanya kelangkaan. Ia berpendapat, stoknya masih banyak karena ada nelayan yang berhasil menangkap 20 kilogram lobster untuk sekali melaut.
“Masih banyak karena benur yang ditangkap hanya jenis Pasir dan Mutiara. Sedangkan yang jenis lain tidak ditangkap,” katanya.
BACA JUGA: Harga Benur Anjlok, Pemkab Gunungkidul Beberkan Penyebabnya
Sarpan menambahkan, tidak sulit membedakan jenis benur, meksi dari sisi tampilan hampir sama. Ia mengatakan, ciri-ciri dari jenis benur bisa dilihat dari sungut dan para nelayan sudah paham dengan perbedaan tersebut.
“Kalau jenis pasir, sungutnya menyala satu. Tapi, kalau Mutiara sungutnya menyala dua,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Wahid Supriyadi saat dikonfirmasi kemarin, tidak menampik harga benur sedang jatuh.
Menurut dia, harga jual sempat hanya Rp1.000 per ekor, sedangakn pada saat awal diperbolehkan penangkapan bisa menembus puluhan ribu rupiah per ekornya. “Jadi tidak hanya Rp2.000, tapi sempat ada yang dibeli dengan harga Rp1.000 per ekor,” katanya.
Dia menambahkan, berdasarkan laporan ke Badan Layanan Umum, Balai Besar Perikanan Air Payau Situbondo, tercatat dalam aplikasi Sistem Informas Lobster Kepiting dan Rajungan sejumlah 504.295 ekor. Jumlah ini hampir mendekati kuota yang dimiliki Gunungkidul sebanyak 519.000 ekor. “Ada penambahan sebanyak 78.000 ekor,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul membahas Raperda Penyelenggaraan Reklame untuk mengoptimalkan PAD, menata reklame, dan memperkuat kepastian hukum.
Gempa Kolombia menewaskan 265 orang dan merusak 53.526 rumah. Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi.
DPRD Kulonprogo meminta Pemkab menyiapkan solusi permanen kekeringan, termasuk pemetaan wilayah dan pembangunan sumber air alternatif.
BPKAD Kota Jogja mengembangkan SIAP, sistem pengingat digital untuk mendorong penarikan APBD tepat waktu dan mencegah penumpukan.
Iran menolak menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz sebelum AS memenuhi tuntutan terkait perang, aset, dan gencatan senjata.
Ford Australia tarik 13.907 unit Ranger karena side curtain airbag berisiko gagal mengembang. Pengiriman dan test drive dihentikan sementara. Perbaikan gratis m