GKR Hemas: Daycare Wajib Berizin, Orang Tua Diminta Aktif Awasi
GKR Hemas dsoroti daycare ilegal di Jogja, tekankan izin dan pengawasan usai kasus kekerasan anak.
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi atau cuaca ekstrem pada musim peralihan atau pancaroba.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja, Nur Hidayat, menjelaskan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada September sampai Desember 2025, DIY akan mulai memasuki masa peralihan musim kemarau ke musim hujan.
“Menurut BMKG, masa peralihan atau pancaroba, dari musim kemarau ke musim hujan diperkirakan terjadi pada periode sekitar September sampai November atau Desember 2025. Fase peralihan tersebut dapat meningkatkan potensi cuaca ekstrem,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).
BACA JUGA: Warga Kulonprogo yang Dapat UGR Jalan Tol Jogja-YIA Bisa Mengosongkan Rumah
Dampak dari cuaca ekstrem harus diwaspadai utamanya terkait potensi kebencanaan seperti banjir, pohon tumbang, maupun atap rumah roboh. “Masyarakat harus semakin meningkatkan kesadaran pentingnya mitigasi bencana, menyiagakan diri dari segi kesehatan dan kebersihan tata lingkungan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya mitigasi bencana, dengan memetakan potensi kebencanaan di lingkungan tempat tinggal. Dimulai dari mengelola sampah dengan bijak, membersihkan saluran air, memangkas ranting pohon yang berisiko tumbang, memperbaiki atap rumah yang lapuk, serta menyimpan barang berharga di tempat aman.
“Dari total 169 kampung di Kota Jogja, semuanya telah dibentuk Kampung Tangguh Bencana, untuk mendorong kemandirian masyarakat memitigasi dan menangani bencana. BPBD tentu menyiagakan personel dan peralatan untuk penanganan cepat bila terjadi bencana. Namun, peran serta masyarakat dalam memitigasi sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian,” ungkapnya.
Ketua KTB Kampung Serangan Kelurahan Notoprajan, Ibnu Hajar, menjelaskan untuk warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai telah dibekali penyiagaan bencana lebih ekstra pada fase peralihan musim mengingat ada potensi kerawanan bencana banjir maupun talud longsor.
“Kampung kami berada di bantaran Sungai Winongo, ada dua Early Warning System [EWS] yang dipasang, kesepakatan kami ketika terjadi cuaca ekstrem disertai hujan deras dan angin kencang, kalau water level atau ketinggian air sudah mencapai 250 cm warga mulai dievakuasi," katanya.
BACA JUGA: Gelandangan di Bantul Nekat Curi Ponsel Saat Korban Tidur
Alarm EWS di Sungai Winongo secara otomatis akan berbunyi saat ketinggian air berada pada 220 cm. “Dikarenakan bentangan sungai cukup lebar, sebelum volume air semakin tinggi, sudah ada peringatan awal yang dapat membantu proses evakuasi,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
GKR Hemas dsoroti daycare ilegal di Jogja, tekankan izin dan pengawasan usai kasus kekerasan anak.
FIFA resmi meluncurkan FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Indonesia dan Hong Kong. Turnamen memakai format tanpa semifinal sehingga Timnas Indonesia wajib menj
Fabio Quartararo menilai MotoGP 2026 bukan musim yang aneh meski sudah melahirkan tujuh pemenang berbeda. Kemenangan Raul Fernandez di Silverstone memperketat p
Apple rilis iOS 27 beta 5 untuk developer dengan ikon Liquid Glass baru, Siri AI dukung 11 suara, Wallet Create a Pass global, dan fitur baterai cerdas. Rilis f
NCT 127 gelar konser The Redline di Jakarta 3 Oktober 2026. Harga tiket Rp1,3-3,5 juta. 5 member tampil, pre-sale 19-20 Agustus. Cek kategori dan jadwal lengkap
Meta luncurkan Muse Glimmer, model AI open-weight 30 miliar parameter yang bisa berjalan di laptop dengan satu GPU. Bisa dipakai offline, dukung 100+ bahasa, da