Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi atau cuaca ekstrem pada musim peralihan atau pancaroba.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja, Nur Hidayat, menjelaskan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada September sampai Desember 2025, DIY akan mulai memasuki masa peralihan musim kemarau ke musim hujan.
“Menurut BMKG, masa peralihan atau pancaroba, dari musim kemarau ke musim hujan diperkirakan terjadi pada periode sekitar September sampai November atau Desember 2025. Fase peralihan tersebut dapat meningkatkan potensi cuaca ekstrem,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).
BACA JUGA: Warga Kulonprogo yang Dapat UGR Jalan Tol Jogja-YIA Bisa Mengosongkan Rumah
Dampak dari cuaca ekstrem harus diwaspadai utamanya terkait potensi kebencanaan seperti banjir, pohon tumbang, maupun atap rumah roboh. “Masyarakat harus semakin meningkatkan kesadaran pentingnya mitigasi bencana, menyiagakan diri dari segi kesehatan dan kebersihan tata lingkungan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya mitigasi bencana, dengan memetakan potensi kebencanaan di lingkungan tempat tinggal. Dimulai dari mengelola sampah dengan bijak, membersihkan saluran air, memangkas ranting pohon yang berisiko tumbang, memperbaiki atap rumah yang lapuk, serta menyimpan barang berharga di tempat aman.
“Dari total 169 kampung di Kota Jogja, semuanya telah dibentuk Kampung Tangguh Bencana, untuk mendorong kemandirian masyarakat memitigasi dan menangani bencana. BPBD tentu menyiagakan personel dan peralatan untuk penanganan cepat bila terjadi bencana. Namun, peran serta masyarakat dalam memitigasi sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian,” ungkapnya.
Ketua KTB Kampung Serangan Kelurahan Notoprajan, Ibnu Hajar, menjelaskan untuk warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai telah dibekali penyiagaan bencana lebih ekstra pada fase peralihan musim mengingat ada potensi kerawanan bencana banjir maupun talud longsor.
“Kampung kami berada di bantaran Sungai Winongo, ada dua Early Warning System [EWS] yang dipasang, kesepakatan kami ketika terjadi cuaca ekstrem disertai hujan deras dan angin kencang, kalau water level atau ketinggian air sudah mencapai 250 cm warga mulai dievakuasi," katanya.
BACA JUGA: Gelandangan di Bantul Nekat Curi Ponsel Saat Korban Tidur
Alarm EWS di Sungai Winongo secara otomatis akan berbunyi saat ketinggian air berada pada 220 cm. “Dikarenakan bentangan sungai cukup lebar, sebelum volume air semakin tinggi, sudah ada peringatan awal yang dapat membantu proses evakuasi,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 26 September 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jadwal dari Jogja dan Kutoarjo selengkapnya.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 26 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 26 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 26 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Subsidi BBM dan LPG 3 kg 2027 turun Rp11,4 triliun. DPR menyoroti data penerima subsidi dan tingginya exclusion error pemerintah.