Jelang Laga Lawan Bhayangkara FC, PSIM Jogja Evaluasi Empat Kekalahan Beruntun
Caretaker PSIM Jogja Guntur Cahyo Utomo menilai Bhayangkara FC kandidat empat besar Super League 2026/2027. PSIM berupaya bangkit di Lampung.
Petani membersihkan sampah di Selokan Mataram, Jumat (21/2/2020)./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA–Rencana penutupan sementara Selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram pada Oktober 2025 mendatang menuai penolakan dari petani lantaran berpotensi mengganggu aktivitas pertanian. Pasalnya, jadwal penghentian aliran air bertepatan dengan musim tanam padi pada Oktober mendatang.
Sekretaris Aliansi Peduli Petani Sleman, Herman JP Maryanto, menuturkan bahwa kedua saluran air tersebut selama ini menjadi tumpuan utama bagi irigasi sawah, hortikultura, perikanan hingga sumber air sumur warga. Jika aliran benar-benar dihentikan, kata dia, lahan berisiko mengalami kekeringan yang berdampak pada ketahanan pangan.
“Kami tidak menolak adanya perawatan, tapi aliran air harus tetap tersedia agar petani bisa bekerja seperti biasa,” ujar Herman saat mendatangi DPRD DIY, Selasa (26/8/2025).
Herman juga menilai jadwal penutupan tidak sesuai dengan kesepakatan yang pernah dibuat. Dalam rapat koordinasi 25 Oktober 2024 lalu, disepakati bahwa penutupan total selokan baru dilakukan pada November 2029.
Namun, informasi terbaru menyebutkan rencana itu akan dimajukan menjadi Oktober 2025 tanpa ada sosialisasi langsung kepada petani.
Menanggapi kondisi ini, Ketua DPRD DIY, Nuryadi meminta Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) meninjau kembali rencana tersebut agar tidak merugikan masyarakat. Ia menekankan pentingnya komunikasi antara pihak balai, pemerintah daerah, dan petani.
“Kalau hanya pemeliharaan kecil, seharusnya tidak sampai menghentikan aliran. Harus ada mekanisme yang memastikan pemeliharaan berjalan tapi kebutuhan air tetap aman,” tegas Nuryadi.
DPRD juga menyatakan siap menjadi mediator dialog lanjutan antara seluruh pihak demi menemukan solusi yang seimbang antara kebutuhan perawatan saluran bersejarah dengan keberlangsungan pertanian dan ekonomi warga Sleman.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSSO, Vicky Arianti, menjelaskan bahwa penutupan sementara diperlukan untuk perbaikan saluran yang sudah berusia tua. Menurutnya, proses ini hanya berlangsung sekitar satu hingga dua minggu dengan dukungan teknologi agar lebih cepat selesai.
“Secara teknis aliran memang harus dihentikan lebih dulu, tetapi waktunya masih bisa dimusyawarahkan. Bahkan ke depan kami mengusulkan pemeliharaan terjadwal setiap tahun agar kondisi selokan tetap terjaga dan sesuai dengan jadwal tanam petani,” terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Caretaker PSIM Jogja Guntur Cahyo Utomo menilai Bhayangkara FC kandidat empat besar Super League 2026/2027. PSIM berupaya bangkit di Lampung.
Persib Bandung menempati peringkat ketiga ASEAN versi Opta dengan rating 74,2. Simak posisi Persija, Borneo FC, dan klub Indonesia lainnya.
Ganti kartu SIM saat HP menyala bisa dilakukan pada banyak ponsel. Simak risiko, langkah aman, dan hal yang perlu diperhatikan.
Haley Sacks, kreator keuangan bergelar miliuner, memilih menyewa rumah. Harga hunian dan pendapatan menjadi pertimbangan penting.
Simak daftar harga iPhone Duo 256 GB hingga 2 TB, pilihan warna, spesifikasi layar, kamera, dan informasi ketersediaannya di Indonesia.
Indonesia masuk lima besar negara dengan frekuensi mandi tinggi menurut Seasia Stats. Simak daftar 11 negara dan faktor yang memengaruhi kebiasaan mandi.