Materi Pencegahan Perilaku Berisiko Dinilai Harus Humanis
Dewan Pendidikan Kota Jogja meminta materi pencegahan perilaku berisiko disampaikan secara humanis dan tidak diskriminatif.
Tumpukan sampah di TPA Piyungan Kabupaten Bantul. – Antara/Hery Sidik
Harianjogja.com, JOGJA–TPST Piyungan tidak akan menerima sampah dari Kota Jogja mulai 1 Januari 2026. Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo pun menyiapkan beberapa rencana untuk pengolahan sampah secara mandiri.
Menurut Hasto, mulai tahun depan sampah yang akan disalurkan ke TPST Piyungan hanya sampah berupa Refuse Derived Fuel (RDF) atau yang telah diolah dengan insinerator. Namun, sampah yang ditumpuk dengan metode open dumping seperti saat ini tidak akan dilakukan lagi tahun depan.
BACA JUGA: Pemkab Bantul Sudah Tidak Ingin Buang Sampah ke TPST Piyungan
“Sampah [yang dibuang] ini menghasilkan lindi yang mengganggu lingkungan di Bantul. Karena itu masyarakat Kota harus berusaha penuh menghabiskan sampahnya,” katanya, Selasa (9/9/2025).
Hasto mengatakan, selama ini Pemkot Jogja masih bergantung pada TPST Piyungan untuk menampung sisa sampah yang tidak dapat diolah Pemkot Jogja.
Saat ini, Pemkot Jogja mendapatkan kuota sampah yang dikirim ke TPST Piyungan sekitar 600 ton per bulan. Jumlah tersebut pun dinilai masih kurang dibandingkan dengan sisa sampah yang belum mampu diolah Pemkot Jogja sekitar 70 ton per hari.
Karena itu, Hasto menilai pengolahan sampah organik dan anorganik berbasis rumah tangga perlu dilakukan untuk menurunkan volume sampah harian yang tidak dapat diolah Pemkot Jogja.
Pihaknya pun telah mencanangkan program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) untuk mengolah sampah organik dan anorganik. Dia menyebut kini seluruh kelurahan telah menjalankan program tersebut. Dari situ, katanya penurunan volume sampah mulai terlihat.
Di Pakualaman misalnya, volume sampah harian mulai menurun dari sebelumnya sekitar 6,2 ton per hari menjadi 2,8 ton per hari. Selain itu, di Wirobrajan dari sebelumnya volume sampah mencapai 10 ton per hari, kini menjadi 6,8 ton per hari. “Penurunannya lumayan dengan adanya gerakan ini,” katanya.
Dia pun berharap melalui program pengolahan sampah organik dan organik yang diusung dalam program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos), volume sampah harian yang ada dapat menurun.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Rajwan Taufiq menyebut pihaknya pun akan memetakan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi sisa timbunan sampah yang tidak mampu dikelola Pemkot Jogja. Apalagi TPST Piyungan tidak lagi menerima sampah. “Kita perlu langkah-langkah koordinasi yang masif,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dewan Pendidikan Kota Jogja meminta materi pencegahan perilaku berisiko disampaikan secara humanis dan tidak diskriminatif.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.