Event Jogja Mei: TBY Gelar Tari Kontemporer Lintas Generasi
TBY menggelar Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi di Jogja dengan menghadirkan tiga koreografer dari generasi berbeda.
Petugas Kalurahan Bangunharjo menunjukkan fasilitas pengolahan sampah organik dengan metode komposter dan lubang biopori di kantor kalurahan setempat, Rabu (24/9/2025). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul sedang menyiapkan program dalam menangani persoalan sampah, khususnya organik yang proporsinya mencapai 70 persen dari total timbunan harian.
Program itu nantinya akan mengintrusikan warga untuk mengolah secara mandiri sampah organiknya melalui lubang biopori atau komposter.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan, sampah organik memang masih jadi salah satu persoalan di wilayahnya. Selama ini kebiasaan warga rumah tangga sulit untuk mengolah sampah jenis itu lantaran langsung dibuang saja ke tempat pengolahan sampah, padahal sulit untuk dibakar.
BACA JUGA: PLN Gelar Lomba Tata Kelola PDKB 2025 di Semarang
“Sampai hari ini saya belum menemukan mesin pemusnah sampah organik yang efektif, mampu menghancurkan dalam jumlah besar dengan cepat. Maka, jalan keluar yang paling realistis adalah setiap rumah tangga mengelola sampah organiknya sendiri,” ujar Halim, Rabu (24/9/2025).
Menurutnya, cara sederhana seperti membuat lubang biopori atau komposter terbukti mampu menyuburkan tanah sekaligus mengurangi timbunan sampah. Pihaknya dalam waktu dekat akan mengeluarkan instruksi kepada lurah agar dana program Pemberdayaan Pembangunan Berbasis Padukuhan (P2BMP) digunakan untuk mendukung pembuatan biopori di rumah-rumah warga.
“Seluruh kalurahan nanti kami minta punya alat bor biopori. P2BMP bisa dipakai membeli paralon untuk warga miskin. Sedangkan warga yang mampu, termasuk ASN, mestinya bisa membiayai sendiri,” kata Halim.
Pemkab Bantul berharap permasalahan sampah bisa dipangkas sejak dari sumbernya. Prinsipnya setiap warga bertanggung jawab atas sampah yang ia hasilkan, baik dengan mengelolanya sendiri maupun membayar pihak lain secara resmi bukan membuang sembarangan di sungai atau jalanan.
Lurah Bangunharjo, Nur Hidayat menyatakan, pengolahan sampah organik sudah mulai dijalankan di wilayahnya oleh para ASN dan perangkat desa setempat. Ia mengklaim setidaknya 40 aparatur di wilayahnya sudah memasang fasilitas pengolahan sampah organik di rumah masing-masing.
“Warga kami menghasilkan sekitar 4–5 ton sampah organik setiap hari. Kalau semua bisa dikelola di rumah, beban TPS akan sangat berkurang. Kami sudah beberapa kali mengadakan edukasi dan pelatihan, termasuk menyediakan komposter lewat dana P2BMP sebesar Rp50 juta,” kata Nur.
BACA JUGA: Beasiswa Cendekia Baznas Rusia 2025 Resmi Dibuka, Cek di Sini!
Ia menambahkan, ke depan pihaknya siap mendukung instruksi Pemkab Bantul untuk memperluas gerakan biopori hingga ke tingkat rumah tangga. “Kalau tidak selesai di rumah, permasalahan sampah tidak akan pernah tuntas. Ini butuh kesadaran bersama,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TBY menggelar Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi di Jogja dengan menghadirkan tiga koreografer dari generasi berbeda.
Talud Sungai Gajah Wong di Bantul ambrol dan mendekati jembatan. DPRD DIY mendesak penanganan darurat sebelum musim hujan tiba.
Barantin membentuk satgas 24 jam untuk mengawasi hewan kurban jelang Idul Adha 2026 dan memastikan lalu lintas ternak aman.
Polres Ponorogo menggeledah ponpes di Jambon usai pimpinan pesantren jadi tersangka pencabulan santri. Polisi sita sejumlah barang bukti.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.