Pemkab Bantul Siapkan Aturan Pilur, Calon Tunggal Lawan Kotak Kosong
Pemkab Bantul mulai matangkan Pilur 2026 di 30 kalurahan. Calon tunggal tetap bisa maju dan akan melawan kotak kosong.
Pohon tumbang menimpa rumah akibat angin kencang di Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, beberapa waktu lalu. - Antara/ist/BPBD Gunungkidul
Harianjoga.com, BANTUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang, hingga cuaca ekstrem memasuki peralihan dari musim kemarau ke penghujan di Oktober ini.
Analis Mitigasi Bencana BPBD Bantul, Malichah Kurnia Pratiwi mengatakan, wilayah Bantul memiliki kerawanan berbeda sesuai kondisi geografis. Untuk banjir, kawasan perkotaan di Kapanewon Bantul kerap mengalami banjir genangan, sedangkan daerah seperti Imogiri rawan terdampak luapan sungai, terutama Sungai Celeng yang secara rutin meluap saat intensitas hujan tinggi.
BACA JUGA: Kisah Perjuangan Batik Tulis Giriloyo di Tengah Gempuran Batik Printing
“Kalau longsor, zona rawan ada di timur Kabupaten Bantul seperti Dlingo. Itu termasuk wilayah yang harus diwaspadai saat curah hujan meningkat,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).
Selain itu, wilayah Sewon juga masuk dalam catatan daerah yang sering tergenang air akibat hujan lebat. “Kami mendasarkan pada catatan kejadian sebelumnya yang menunjukkan pola berulang,” imbuhnya.
Menurut dia, BPBD telah melakukan sosialisasi keberadaan early warning system (EWS) banjir dan longsor di wilayah rawan bencana agar warga tidak hanya tahu tanda-tanda peringatan, tetapi juga mampu merespons cepat. “Kami ingin masyarakat tidak panik, tetapi sigap saat sistem peringatan dini berbunyi,” ujarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol menyatakan, masyarakat perlu memperhatikan tanda-tanda cuaca ekstrem di masa pancaroba.
“Biasanya pagi hingga siang panas terik, lalu mendadak berubah hujan deras disertai angin kencang. Kondisi seperti itu berpotensi membahayakan, sehingga masyarakat diimbau menjauhi pepohonan besar atau aliran sungai,” jelas Antoni.
Menurutnya, kawasan Imogiri, Pundong, hingga Dlingo menjadi daerah yang paling sering terdampak banjir maupun longsor. Meski begitu, BPBD tetap menekankan kewaspadaan menyeluruh di seluruh wilayah di daerah ini.
BPBD, kata dia juga telah menyiagakan tim reaksi cepat (TRC), Damkarmat, serta jejaring Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat kapanewon dan kalurahan untuk mengantisipasi dan memitigasi munculnya bencana cuaca ekstrem.
“Koordinasi sudah dilakukan bersama teman-teman di lapangan. Selain itu, bidang pencegahan dan kesiapsiagaan juga rutin melakukan sosialisasi tentang mitigasi cuaca ekstrem serta penggunaan EWS banjir dan longsor,” terang Antoni.
Pihaknya mengingatkan masyarakat agar lebih waspada sepanjang Oktober, karena intensitas hujan diperkirakan mulai meningkat sejak dasarian pertama hingga ketiga bulan ini, sebelum memasuki puncak hujan di akhir tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul mulai matangkan Pilur 2026 di 30 kalurahan. Calon tunggal tetap bisa maju dan akan melawan kotak kosong.
Kunjungan wisata di Bantul melonjak enam kali lipat selama libur Kenaikan Yesus Kristus 2026. Pantai Parangtritis tetap menjadi primadona wisatawan
Ketahui 4 ciri hewan kurban yang tidak sah menurut syariat Islam agar ibadah kurban Anda diterima dan sesuai ketentuan.
Umat Buddha Kulonprogo gelar Tribuana Manggala Bakti di Sungai Mudal sebagai rangkaian Waisak 2026 dengan konsep ekoteologi dan pelestarian alam.
Astra Motor Yogyakarta turut mendukung program TUMBUH yang memiliki tema semangat kolaboratif antar generasi muda hingga masyarakat pesisir
Sapi simmental berbobot 1 ton asal Gedangsari, Gunungkidul, dibeli Presiden Prabowo Subianto untuk kurban tahun ini.