Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi warga memotong pohon tumbang yang melintang di tengah jalan. /Istimewa.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memutuskan memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga 31 Maret 2026 sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih mengintai wilayah Bumi Handayani. Kebijakan ini diambil seiring masih tingginya intensitas hujan dan risiko bencana turunan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menjelaskan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sebelumnya telah diberlakukan sejak November 2025 dengan masa berlaku tiga bulan dan dijadwalkan berakhir pada Januari 2026. Namun, hasil evaluasi terbaru menunjukkan perlunya perpanjangan status guna menjaga kesiapsiagaan daerah.
“Sudah kita kaji dan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Gunungkidul diperpanjang hingga akhir Maret,” kata Purwono saat ditemui, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, perpanjangan status siaga ini tidak lepas dari penyesuaian kebijakan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga menetapkan perpanjangan hingga akhir Maret. Selain itu, keputusan tersebut mengacu pada prakiraan musim hujan yang diprediksi masih berlangsung hingga pertengahan April 2026.
“Penetapan status ini juga sebagai bentuk kesiapsiagaan untuk menghadapi adanya potensi bencana di musim hujan,” ungkapnya.
Purwono menegaskan, kesiapsiagaan BPBD Gunungkidul tidak hanya berhenti pada penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Pihaknya telah menyiapkan personel tim reaksi cepat yang siap diterjunkan ke lapangan untuk melakukan penanganan darurat, termasuk evakuasi warga apabila terjadi bencana alam.
“Sebagai bentuk kesiapsiagaan, personel BPBD sudah disiapkan untuk diterjunkan pada saat terjadi musibah yang dapat terjadi kapan saja,” katanya.
Selain kesiapan personel, BPBD Gunungkidul juga telah menyusun pemetaan wilayah rawan bencana sebagai dasar mitigasi. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, potensi banjir teridentifikasi di sepanjang aliran Kali Oya serta sejumlah titik di Kapanewon Girisubo.
Sementara itu, potensi tanah longsor banyak ditemukan di wilayah zona utara Gunungkidul yang meliputi Kapanewon Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan Ponjong. Adapun ancaman angin kencang disebut menyebar hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul. “Untuk angin kencang potensinya menyebar di seluruh wilayah di Gunungkidul,” ujar Purwono.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, menambahkan bahwa sejak awal musim hujan sudah terjadi sejumlah kejadian bencana, mulai dari tanah longsor, bangunan ambruk akibat terjangan angin kencang, hingga banjir di beberapa lokasi. Meski demikian, ia memastikan seluruh kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Guna menekan risiko dampak bencana hidrometeorologi, Edy mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan langkah mitigasi sederhana, seperti kerja bakti membersihkan saluran air hujan dan memangkas pohon yang sudah terlalu rindang. Ia juga mengingatkan pentingnya mengikuti perkembangan informasi cuaca terkini dari BMKG sebagai acuan aktivitas harian, agar kewaspadaan masyarakat tetap terjaga di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Investasi pariwisata DIY mencapai Rp378,14 miliar hingga semester I 2026, tetapi turun 75,40% pada Triwulan II.
Kawasan olahraga Cangkring mulai ditata jelang Porda DIY 2027. DPRD Kulonprogo meminta persiapan dilakukan matang, termasuk UMKM dan penginapan.
Bansos Agustus 2026 mengacu DTSEN. Cek status penerima, desil, serta cara memperbarui dan menyanggah data melalui kanal resmi.
DPRD Gunungkidul mendorong tambahan Rp400 juta untuk dropping air karena alokasi 3.000 tangki diperkirakan habis sebelum kekeringan berakhir.
Pemerintah menyiapkan tanda kehormatan HUT ke-81 RI. Sejumlah menteri masuk daftar calon penerima, termasuk individu berprestasi di bidang teknologi.